Kamis, 26 Februari 2026, Kamis Pekan Prapaskah I
Bacaan: Est. 4:10a,10c-12,17-19; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,7c-8; Mat. 7:7-12.
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu,” [Mat 7: 7]
Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan hasil, asalkan kita meminta, mencari, dan mengetuk. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.” Apakah itu terlalu sulit untuk dipercaya? Sebab pengalaman kita juga menunjukkan bahwa tak jarang doa kita tidak dijawab.
Yesus memilih contoh-contoh dengan sangat teliti. Ia memberikan dua contoh. Batu kapur kecil dan bulat di tepi pantai persis berbentuk dan berwarna seperti roti kecil. Jika seorang anak meminta roti, apakah ayahnya akan “nge-prank” anaknya dengan memberikan batu yang terlihat seperti roti tetapi tidak bisa dimakan? Jika seorang anak meminta ikan, apakah ayahnya akan memberinya ular? Bahkan belut yang adalah “ikan” tetapi berbentuk seperti ular, menurut hukum Yahudi, “Segala sesuatu di air yang tidak memiliki sirip dan sisik adalah kejijikan bagimu” (Imamat 11:12). Oleh karena itu, belut tidak boleh dimakan. Pertanyaan Yesus adalah, apakah ada ayah yang akan membohongi anak-anaknya ketika mereka meminta sesuatu?
Kesalahan yang sering kali kita buat dalam doa-doa kita adalah bahwa doa-doa kita adalah upaya untuk meyakinkan Allah untuk mengubah rencana-Nya. Kita ingin Dia menuruti ide-ide kita! Tetapi doa tidak mengubah Allah; sebaliknya, doa membuka pikiran kita dan mengubah hati kita. Cara-cara Allah tidak selalu mudah dan menyenangkan; itu membutuhkan pertobatan, usaha, pengingkaran diri, dan pengorbanan.
Selama masa Prapaskah ini, kita diundang untuk kembali pada hal-hal yang esensial bagi kehidupan dan membuat pilihan-pilihan yang vital. Puasa mengingatkan kita bahwa Bapa kita peduli pada kita dan ingin kita kembali kepada-Nya dalam doa. Dia mencintai kita tanpa batas; selalu berada di sisi kita. Yesus mengundang kita untuk berdoa — dengan keyakinan dan keteguhan hati anak-anak di hadapan ayah mereka.
Kita mungkin tidak selalu merasakan cinta ini, atau karena banyak hal kita anggap biasa, kita telah kehilangan makna ungkapan: “Allah adalah kasih.” Tantangannya adalah membangkitkan kesadaran akan pengalaman tersebut yang menyembuhkan kelemahan kita. Paus Fransiskus pernah berkata: “Kita semua memiliki penyakit rohani, kita tidak dapat menyembuhkannya sendiri; Kita semua memiliki keburukan bawaan, kita tidak dapat menghilangkannya sendiri; Kita semua memiliki ketakutan yang melumpuhkan kita, kita tidak dapat mengatasinya sendiri. Kembalilah kepada-Nya, memohon, mencari, dan mengetuk untuk kehendak Allah dalam hidup kita.”
Pnegalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan dalam hidup kita akan tetap ada. Penyakit akan tetap ada, kita mungkin masih akan mengeluh, dan luka pengkhianatan akan tetap terasa sakit, tetapi ketika kita berdoa, Tuhan yang penuh kasih akan menemani kita dalam menghadapinya. Allah akan selalu menjawab doa-doa kita dengan cara-Nya, kebijaksanaan-Nya, dan kasih-Nya, dan sesuai waktu-Nya. Berdoalah selalu meski dalam prosesnya Ia menguji kebenaran hal-hal yang kita doakan dan menguji kesungguhan kita dalam memintanya.
Bapa Mahakasih, tambahkanlah imanku kepada-Mu. Amin.

