Sabda Hidup
Minggu, 13 September 2026, Minggu Biasa XXIV Tahun A
Bacaan: Sir. 27:33-28:9; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Rm. 14:7-9; Mat. 18:21-35.
“Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu," (Mat 18: 35).
Suatu malam Om Simon memimpin doa malam bersama istri dan anak-anaknya. Seluruh rangkaian doa ditutup dengan doa “Bapa Kami.” Ketika mengucapkan doa “Bapa Kami” Om Simon tiba-tiba berhenti pada bagian yang mengatakan, “ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.” Dia tiba-tiba pergi meninggalkan yang lain di situ. Kira-kira setengah jam kemudian, ia kembali dan terus melanjutkan doa itu dengan perasaan terharu. Tentu saja dia lanjutkan doa itu sendirian karena istri dan anak-anaknya sudah asyik di depan TV. Istrinya bertanya: “Pa, ngana ada pi mana? Torang belum kelar berdoa ngana so ilang.” Om Simon menjawab: “Tadi sementara torang berdoa Bapa kami, lalu torang mo bilang ‘ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami,’ kita tiba-tiba inga, tadi siang ada orang yang bikin saki hati pa kita deng kita lei masih dikuasi rasa benci. Kong kita bilang pa Tuhan dalam hati, “Tuhan saya tidak bisa lanjutkan doa ini sampai saya bisa memaafkan orang itu.” So itu, kita da kase tinggal pa ngoni tadi. Ta pigi cari orang itu dan ampuni dia.” Om Simon berhasil mengalahkan dirinya dengan bersedia memaafkan orang yang telah menyakiti hatinya.
***
Sebuah studi terhadap para pasien kanker mengungkapkan bahwa ternyata banyak pasien kanker memiliki kebencian yang mendalam. Seorang dokter di New York, seperti yang dinyatakan oleh Norman Vincent Peale, penulis The Power of Positive Thinking, mengatakan bahwa 70% pasiennya mengungkapkan kebencian dalam riwayat kasus mereka. “Dendam dan sakit hati akan menyebabkan orang menderita sakit. Pengampunan akan lebih manjur untuk menyembuhkan mereka daripada banyak pil,” kata dokter ini. Banyak dari kita meninggal karena kebencian yang sudah lama dipendam.
Mengapa kita harus selalu mengampuni? Menurut Louise Hay dalam bukunya yang berjudul You Can Heal Your Life (1984), dikatakan: “Semua penyakit datang dari ketidakmauan mengampuni. Kapanpun kita sakit, kita perlu memeriksa hati kita untuk melihat siapa yang perlu kita maafkan… Pengampunan berarti melepaskan. Ini tidak ada hubungannya dengan perilaku memaafkan. Kita hanya perlu let go, melepaskan. Kita tidak harus tahu bagaimana caranya memaafkan. Yang perlu kita lakukan hanyalah bersedia mengampuni. Tuhan akan atur caranya.”
***
Pengampunan atau memaafkan orang lain merupakan tema yang sering dibicarakan dalam Kitab Suci. Kita pantas mendapatkan pengampunan dari Allah kalau kita mau memaafkan orang lain. Bacaan-bacaan hari Minggu Biasa XXIV ini mengingatkan kita akan pentingnya pengampunan. Dalam Bacaan pertama kita mendengar: “Ampunilah kesalahan kepada sesama orang, niscaya dosa-dosamupun akan dihapus juga, jika engkau berdoa,” (Sir 28: 2). Kemudian dalam Injil Petrus bertanya sampai berapa kali ia harus mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Yesus menjawab: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali,” (Mat 18: 22b). Itu berarti bahwa kita harus mengampuni tanpa batas.
Petrus, sebagaimana orang-orang lainnya berpikir bahwa maaf itu mesti ada batasnya. Menurut tradisi Yahudi, orang boleh mengampuni saudara-saudaranya sebanyak tiga kali saja. Petrus berpikir bahwa dengan mengampuni saudaranya yang bersalah kepadanya sebanyak tujuh kali, ia telah membuat prestasi dan bertindak jauh lebih hebat. Tetapi jawaban Yesus mengejutkannya. Kita tidak boleh menghitung-hitung dalam memaafkan orang lain. Kita harus mengampuni tanpa batas, sebab Allah yang Mahapengampun telah mengampuni kita tanpa batas.
Bagi orang-orang Kristen, mengampuni orang lain merupakan suatu syarat supaya dosanya diampuni. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6: 14 – 15).
Hal itu berarti bahwa dosa-dosa kita akan diampuni sejauh kita mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita. Dengan demikian, memaafkan atau mengampuni orang lain adalah salah satu syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Karena itu marilah kita berusaha memaafkan orang-orang yang bersalah kepada kita. Hanya dengan demikian kita bakal layak masuk dalam Kerajaan Allah.
Jadi berapa kalikah kita harus mengampuni? Sudah berapa kali Allah mengampuni anda? Sudah berapa kali anda mengampuni sesama?
Bapa yang penuh kasih, Engkau baik dan sabar, penuh belas kasih dan pengampun terhadap orang-orang berdosa seperti kami. Engkau mengampuni semua dosa kami. Semoga pengampunan-Mu membawa sukacita dan harapan yang besar bagi kami serta mendorong kami untuk dengan rela melupakan dan mengampuni kesalahan-kesalahan — yang seringkali sangat kecil — yang dilakukan orang lain kepada kami. Semoga kami dapat menjadi tanda dan sarana pengampunan-Mu. Amin.

