Senin, 9 Maret 2026, Senin Pekan Prapaskah III
Bacaan: 2Raj. 5:1-15a; Mzm. 42:2,3; Mzm. 43:3,4; Luk. 4:24-30.
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.” [LUK 4: 24. 28 – 29]
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, “Lebih baik membuat seseorang menangis dengan kebenaran daripada membuat seseorang tertawa dengan kebohongan.” Yesus pulang ke kampung halamannya, Nazareth, seperti dikisahkan dalam Injil hari ini. Ternyata, tidak semua yang Yesus katakan diterima dengan senang hati. Orang-orang dipenuhi dengan kemarahan hingga mengusir-Nya dari kota. Pesan yang disampaikan itu pasti begitu mengganggu sehingga mereka ingin menghilangkan sang pembawa pesan.
Itulah sifat kebenaran. Ketika dinyatakan, ia selalu menyentuh hati dengan empati. Namun, kebenaran bisa mengancam karena ia menuntut tindakan yang sesuai. Kebenaran itu menguatkan namun juga menghakimi. Herodes, misalnya, tertarik pada pesan Yohanes tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk memenuhi tuntutan yang sesuai. Apa yang ia lakukan? Ia memenjarakan Yohanes. Orang-orang sekota dengan Yesus itu begitu tersinggung oleh kata-katanya sehingga mereka ingin melemparkan-Nya ke tebing gunung.
Kebenaran Allah datang kepada kita dengan berbagai cara. Melalui orang-orang, situasi, atau pengalaman rohani, kebenaran Allah mencari kita. Namun, seperti orang-orang Nazaret, kita sering kali takut pada tuntutan kebenaran. Kita sering kali menolak pengorbanan diri dan pertobatan yang diharuskannya. Dan begitu kita memenjarakan pesan Allah. Kita menempatkan Allah di sudut. Kita membagi-bagi hidup kita. Kita “mengurung” Allah dan membuat pesan-Nya menjadi tidak relevan dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita membiarkan Alkitab berdebu. Kita memperlakukan Misa sebagai hiburan atau selingan sesekali. Ingatlah, Allah adalah Allah yang “sopan”. Dia hanya dapat bekerja dalam hidup kita sejauh kita memberi-Nya “izin” untuk melakukannya. Inilah yang kita maksud ketika kita mengatakan bahwa rahmat dibangun di atas kodrat, gratia supponit naturam. Rahmat bekerja jika kita terbuka untuk bekerjasama dengannya.
James Abram Garfield, presiden Amerika Serikat yang ke-20, dikenal dengan kata-katanya: “Kebenaran akan membebaskanmu, tetapi pertama-tama ia akan membuatmu menderita.” Betapa benar kata-kata itu. Kebenaran akan mengubah kita, namun sering kali untuk berubah itu kita harus merasa sakit untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan dan kenyamanan lama. Maka, buka hatimu. Jangan takut pada tuntutan kebenaran. Seperti yang Yesus janjikan dalam Injil, “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu,” (Yoh 8: 32).
Dalam hal apa saja Anda membatasi kuasa pesan Allah?
Tuhan, bukalah hati dan pikiranku untuk kebenaran-Mu. Berilah aku keberanian untuk Kauperbarui, meski dalam prosesnya, aku harus menderita. Amin.

