Rabu, 14 Januari 2026, Rabu Pekan Biasa I
Bacaan: 1Sam. 3:1-10,19-20; Mzm. 40:2,5,7-8a,8b-9,10; Mrk. 1:29-39.
“Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana,” (Mrk 1: 29 – 35)
Ada begitu banyak jokes dan cerita tentang ibu mertua. Kompleksitas hubungan dalam keluarga yang penuh dinamika menimbulkan banyak kisah tersebut. Hari ini kita tidak akan membuat lelucon tentang ibu mertua. Sebaliknya, kita akan belajar dari narasi Injil tentang ibu mertua Petrus. Ada tiga pelajaran yang dapat kita renungkan dari kisah mukjizat ibu mertua Petrus.
Pertama, Tuhan tidak pernah terlalu lelah untuk melakukan kebaikan. Teks Injil dimulai dengan mengatakan bahwa hari itu adalah hari yang sangat padat bagi Yesus. Oleh karena itu, Ia mengharapkan waktu istirahat dari semua pekerjaan. Ia ingin beristirahat bersama di rumah Petrus. Yesus lelah dan sangat membutuhkan istirahat. Ia hanya ingin sejenak melupakan kerumunan, berada sendirian, dan membutuhkan “me time”. Namun, rasa lelah ini tidak dapat menghentikan-Nya untuk berbuat baik dan menyembuhkan ibu mertua Petrus.
Mari kita bertanya pada diri sendiri, bukankah sering kali kita mudah lelah? Kita juga sering menjadikan kelelahan sebagai alasan untuk menunda melaksanakan tugas yang dapat kita lakukan dengan segera. Bahkan perbuatan baik pun kita tunda hingga hari lain. Kita berkata: “Aku akan melakukan kebaikan besok saja.” Yesus, di sisi lain, tidak pernah terlalu lelah untuk melakukan perbuatan baik.
Kedua, Yesus melakukan perbuatan baik-Nya dalam kesendirian. Dia tidak membutuhkan kerumunan. Bersama-Nya hanya ada Petrus, ibu mertuanya dan mungkin Andreas, Yakobus dan Yohanes. Tanpa kerumunan yang memberi tepuk tangan atau orang-orang yang memuji-Nya, Yesus melakukan perbuatan baik untuk perempuan yang sakit itu. Jadi kita bertanya pada diri sendiri, “Bukankah acap kali kita merasa lebih baik melakukan kebaikan ketika banyak orang melihat kita?” Lagi pula, ketika kita sendirian, lebih mudah menjadi diri kita yang lama, jahat, dan egois, karena tidak ada yang menegur kita; tidak ada kerumunan yang mengawasi setiap gerakan kita.
Ketika tidak ada yang melihat, kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan. Ketika tidak ada yang mengamati, mudah untuk melupakan Tuhan. Ketika tidak ada yang melihat, kita merasa bebas untuk melakukan hal-hal memalukan yang kita tergoda untuk lakukan. Lagi pula, tidak ada yang akan tahu….
Tetapi bagi Tuhan, apakah ada kerumunan atau tidak, apakah ada orang atau tidak, apakah ada tepuk tangan atau tidak, apakah dihargai atau diejek, Dia akan melakukan perbuatan baik.
Ketiga, setelah ibu tua itu sembuh dari demam, dia segera berdiri, melayani, dan mengabdi kepada Tuhan. Tindakan-tindakannya menunjukkan bahwa kita semua disembuhkan selalu untuk orang lain.
Kita diberkati untuk orang lain, kita diberi anugerah untuk orang lain, dan kita menerima manfaat untuk orang lain. Kita tidak pernah diberkati hanya untuk diri kita sendiri. Kita tidak pernah disembuhkan hanya untuk diri kita sendiri. Kita tidak pernah diperlakukan dengan penuh sukacita dan kasih sayang hanya untuk diri kita sendiri. Kita disembuhkan, diberi anugerah, diberkati, untuk satu hal yang penting: ORANG LAIN.
Kita memohon tiga berkat dari Tuhan hari ini. Untuk melayani meskipun kita lelah, untuk melayani meskipun kita merasa sakit, untuk melayani meskipun kita merasa ingin dibiarkan sendiri.
Untuk melayani meskipun tidak ada orang banyak, untuk melayani meskipun hanya Tuhan yang melihat kita.
Dan, untuk melayani karena kita telah diberkati.
Tuhan, semoga kami tidak hanya tinggal dalam zona nyaman kami, tetapi berada di mana kami dibutuhkan, menjadi tanda dan sarana keselamatan, siap sedia melayani. Amin.

