yesus dan perempuan siro fenisia

Kasih Tanpa Batas

Kamis, 12 Februari 2026, Kamis Pekan Biasa V
Bacaan: 1Raj. 11:4-13Mzm. 106:3-4,35-36,37,40Mrk. 7:24-30.

“Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.”  (Mrk 7: 26 – 30).

Yesus semakin dikenal sebagai seorang guru yang berkeliling sambil mengajar dan sebagai seorang pelaku mukjizat. Ia diikuti sekelompok murid yang menyertai-Nya, dan banyak lagi yang mengikuti-Nya. Apa yang dapat memaksa-Nya untuk mengubah rencana dan tindakan-Nya? Kita jarang menemukan Yesus mengubah pendirian-Nya dalam Injil. Mari kita renungkan kebebasan atau keluwesan Yesus dalam mengubah pendirian atau cara bertindak-Nya ketika keadaan memintanya.

Ketika berada dalam posisi “berkuasa” baik di Gereja, dalam keluarga, atau di tempat kerja, biasanya kita ingin melihat keinginan kita sebagai keputusan yang diterima dan dilaksanakan. Jarang-jarang kita jumpai bos perusahaan membatalkan keputusannya atas permintaan seorang office boy biasa atau pastor paroki mempertimbangkan kembali rencananya atas permintaan jemaatnya.

Tanggapan Yesus terhadap perempuan Siro-Fenisia itu terdengar kasar. Namun, hal itu bukanlah hal yang tidak pantas dalam dunia Yahudi pada masa itu. Hal itu sepenuhnya mencerminkan sikap orang Yahudi terhadap orang non-Yahudi. Orang Yahudi pada zaman Yesus sering menyebut orang non-Yahudi sebagai anjing. Namun, penolakan untuk menanggapi kebutuhan seseorang jelas tampak aneh bagi Yesus.

Cinta perempuan asing itu terhadap putrinya menantang asumsi Yesus. Dan Yesus mengubah pendirian-Nya. Kedatangan Kerajaan Allah ke dalam kehidupan anak gadis itu bukanlah hasil dari tindakan Yesus saja, tetapi juga dari iman dan kepedulian ibunya. Yesus tampaknya membiarkan diri-Nya tunduk terhadap perubahan hati yang Ia tuntut dari murid-murid-Nya. Perubahan hati, pertobatan, seringkali merupakan proses untuk mengenali prasangka kita, menanggalkannya, dan memperluas sikap kita.

Kisah mukjizat hari ini adalah panggilan untuk mengenali prasangka kita agar dapat mengatasinya. Yesus menanggalkan prasangka-Nya dan menyembuhkan putri seorang perempuan Siro-Fenisia. Yesus menunjukkan kepada kita, kendati pelbagai macam perbedaan umat manusia, cinta dan belas kasih adalah nilai universal yang melampaui batasan-batasan manusiawi. Ia mengulurkan tangan bagi semua yang percaya pada bahasa HATI. Yang diperlukan hanyalah iman yang sederhana kepada-Nya, seperti iman perempuan Siro Fenisia itu.

Uskup pribumi pertama Indonesia, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, pernah berkata: “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan”. Walau Mgr. Soegija mewariskan semangat 100% Katolik 100% Indonesia, apa yang dikatakannya menyiratkan semangat persatuan seluruh umat manusia.

Tuhan, ajar kami menanggalkan prasangka kami. Ajar kami menyadari bahwa cinta dan belas kasih-Mu tidak mengenal batas. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *