minggu gaudete

Jadilah Saluran Sukacita

Minggu, 14 Desember 2025, Minggu Advent III Tahun A
Bacaan: Yes. 35:1-6a,10Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10Yak. 5:7-10Mat. 11:2-11.

"Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” [Mat 11: 4 – 5].

Hari ini adalah Minggu Advent III yang biasa disebut “Minggu Gaudete”. Gaudete berarti “bersukacitalah” “bergembiralah”. Seperti yang diserukan dalam antifon pembukaan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan, sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat!” Bacaan pertama dari kitab Nabi Yesaya juga menggemakan nuansa yang sama: “Padang gurun dan padang kering akan bersukaria, padang belantara akan bersorak-sorai dan berbunga. Seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak; ya bersorak-sorak dan bersorai-sorai!” Itulah sebabnya, warna liturgi bukan ungu tetapi pink. Kita bersukacita!

Jika Anda perhatikan, karangan bunga Advent dikelilingi oleh tiga lilin ungu dan satu lilin berwarna mawar atau pink. Hari ini kita menyalakan lilin pink karena melambangkan Minggu Gaudete. Warnanya kontras dengan tiga lilin ungu. Dahulu kala, warna sesuatu dapat memberi tahu Anda apa yang sedang terjadi. Misalnya: Ungu atau adalah warna untuk kerajaan; Merah melambangkan kemenangan, dan ketika pasukan menang dalam pertempuran, mereka akan pulang dengan mengenakan warna merah; Pink adalah warna kegembiraan. Kita menggunakan warna kegembiraan pink ini hari ini pada karangan bunga Advent kita untuk menunjukkan kegembiraan dan sukacita kita bahwa masa penantian kita akan Tuhan telah setengah berlalu. Kita dapat melihat cahaya di ujung terowongan ketika kita akan merayakan Pesta Besar Kelahiran Penyelamat kita.

Namun, apa sebenarnya alasan kita bersukacita? Karena Natal sudah semakin dekat? Pada suatu hari, dalam sebuah acara di TV, pembawa acara, bertanya kepada salah satu peserta tentang apa yang akan dia lakukan pada Natal. Dia menjawab: “Berbelanja!” Kita telah melupakan makna asli dan sejati Natal, yaitu mengenang hadiah terbesar yang diberikan kepada kita, kelahiran Anak Allah, dan bersyukur atas hadiah tersebut. Itulah sebabnya, baik bagi kita untuk berhenti sejenak saat kita sibuk mempersiapkan liburan dan meluangkan waktu untuk bersyukur kepada Allah atas banyak berkat yang telah kita terima. Hadiah-Nya tidak diikat dengan pita, tidak dibungkus dengan kertas kado dan tidak dapat dibeli dengan kartu kredit atau uang. Faktanya, harga yang dibayarkan-Nya terlalu tinggi untuk diukur dengan uang.

Karena pink adalah warna sukacita, saya ingin berbagi dengan Anda cara untuk membawa sukacita sejati ke dalam hidup kita. Kata “sukacita” dalam bahasa Inggris adalah: JOY. Kata “JOY” sebenarnya adalah sebuah singkatan.  ‘J’ berarti ‘Jesus’ (Yesus) dan sama seperti ‘J’ adalah huruf pertama dari JOY, begitu pula Yesus harus selalu menjadi yang pertama dalam hidup kita. ‘O’ berarti ‘Others” (Orang Lain) dan sama seperti ‘O’ adalah huruf kedua dari JOY, kita harus selalu memikirkan orang lain sebagai yang kedua dalam hidup kita. Huruf ‘Y’ berarti ‘You’ (kamu) dan sama seperti ‘Y’ adalah huruf terakhir dari JOY, anda harus selalu memikirkan diri anda sendiri sebagai yang terakhir. Di Amerika Serikat ada seorang pemain bola basket, Greg Tonagel, yang sekarang menjadi pelatih di Indiana Wesleyan University,  yang terkenal dengan motto-nya: “I am third”. Saya adalah yang ketiga. Lho bukannya seorang olahragawan ketika bertanding selalu mencari yang pertama? Memang dalam olah raga kita mengejar kemenangan sebagai Juara Pertama. Namun dalam hidup,  yang membawa sukacita sejati adalah menempatkan Yesus terlebih dahulu, orang lain, dan baru diri sendiri menjadi yang terakhir.

Usaha mengutamakan Tuhan itu sering kali tidak gampang. Jemaat Kristen awal adalah umat yang menderita. Karena iman mereka kepada Kristus, mereka ditolak oleh sesama mereka, orang-orang Yahudi. Karena mereka menolak menyembah dewa-dewa Romawi, otoritas Romawi menuduh mereka sesat dan pengkhianat, dan memburu mereka, hidup atau mati. Bagi Jemaat Kristen purba, hidup mereka tidak aman dan mereka kehilangan kegembiraan. Dan karena mereka tahu bahwa mereka tidak bersalah, mereka merindukan keadilan dan pembenaran. Tentu saja, ada beberapa di antara mereka yang menyerah pada tekanan sosial dan meninggalkan iman untuk menyelamatkan diri. Dalam bacaan kedua hari ini, Yakobus mendorong mereka untuk bersabar dan berani menghadapi bahaya dan penderitaan. Alasan yang dia berikan adalah: karena Tuhan akan datang. Kedatangan Tuhan sudah dekat!

“Saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!” (Yak 5: 7 – 8).

Kedatangan Tuhan itu nyata. Namun tanda kedantangan-Nya juga harus diusahakan. Dalam bacaan Injil ditampilkan keraguan Yohanes Pembaptis yang sebelumnya telah memulai pewartaannya dengan penuh semangat. Menunjuk kepada sepupunya, ia menyatakan kepada murid-muridnya bahwa Yesus memang adalah Anak Domba Allah. Seiring berjalannya waktu, Yohanes mulai ragu. Metode Yesus tampaknya sangat berbeda dengan caranya sendiri. Yohanes berkotbah penuh dengan api dan amarah; Yesus sepertinya memiliki hati yang lembut. Yohanes ingin menebang pohon-pohon yang tidak berbuah; Yesus memberi mereka kesempatan lagi. Apakah Dia benar-benar Mesias yang dinantikan? Sebagai jawaban, Yesus mengajak Yohanes untuk melihat buah-buah pelayanan-Nya: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan! Tanda pasti Kerajaan Allah adalah sukacita yang berlimpah dan kesembuhan yang dibawanya. Apa yang dilakukan oleh Yesus menjadi perwujudan dari nubuat Yesaya seperti kita dengar dalam bacaan pertama. Allah sendiri datang menyelamatkan. “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara,” (Yes 35: 4 – 6).

Yesus sendiri memerintahkan: “Pergilah dan katakanlah apa yang kamu dengar dan kamu lihat.” Perintah Yesus bukan hanya kepada murid-murid Yohanes, tetapi jug kepada kita semua. Kita semua diutus untuk menjadi saksi sukacita kedatangan-Nya. Bukan hanya diutus untuk mewartakan, tetapi juga menjadi tanda dan sarana sukacita kedatangan-Nya.

Tuhan, jadikanlah aku saluran sukacita, kesembuhan, dan kehidupan-Mu bagi orang lain. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *