Minggu, 17 Agustus 2025, Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia
Bacaan: Sir. 10:1-8; Mzm. 101:1a,2ac, 3a,6-7; 1Ptr. 2:13-17; Mat. 22:15-21.
“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah,” (1 Ptr 2: 16)
Salam MERDEKA! Hari ini seluruh bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke-80. Meski ada pelbagai macam kekecewaan yang timbul di tengah masyarakat, patutlah kita tetap bersyukur atas kemerdekaan kita. Perayaan Hari Kemerdekaan kali ini ada dalam gejolak kekecewaan masyarakat terhadap kehidupan berbangsa. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang semakin membebebani dan menekan rakyat, kekecewaan terhadapa sikap-sikap arogan para pejabat, hukum yang direkayasa untuk kepentingan terentu, ketimpangan antara apa yang dikatakan dan dipublikasikan dengan kenyataan, dan masih banyak lagi. Secara pribadi saya enggan menggunakan logo resmi Hari Kemerdekaan RI ke-80, sebab jika diputar 90° searah jarum jam, maka yang terlihat adalah gambar mata dan mulut yang di-plester/ditutup. Semoga tidak menandakan pembungkaman dan pemuliaan arogansi.
Hari kemerdekaan, 17 Agustus, ini selalu dirayakan dan ditandai dengan upacara bendera. Tahun ini tanggal 17 Agustus jatuh pada hari Minggu. Pasti sudah diatur dengan bijak jadwal perayaan Ekaristi di gereja-gereja dengan jadwal upacara bendera. Tentu saja, perayaan di gereja menggunakan liturgi Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia. Menyelenggarakan Misa Kudus bagi warga Indonesia yang beragama Katolik merupakan nilai plus. Secara keimanan kita mempersembahkan rasa syukur atas kemerdekaan ini kepada Allah, Pemberi kemerdekaan. Inilah yang wajib kita berikan kepada Allah (bdk. Mat 22:21).
Dalam Pembukaan UUD 1945, alinea ketiga, ditegaskan bahwa selain merupakan hasil perjuangan anak-anak bangsa Indonesia, kemerdekaan juga merupakan anugerah atau rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Itulah sebabnya, sebagai bentuk penghargaan yang sedalam-dalamnya, sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya kepada para pejuang kemerdekaan dan sebagai bentuk syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa, kita memperingati kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah hari raya, tingkat tertinggi dalam perayaan liturgi Gereja Katolik.
Kemerdekaan adalah anugerah atau rahmat Allah Yang Maha Kuasa, sekaligus merupakan panggilan hidup seluruh anak bangsa Indonesia. Kita semua, tanpa kecuali, apa pun latar belakangnya, dipanggil kepada kemerdekaan. Persis seperti kita nyanyikan dalam Mazmur Tanggapan, “Kamu dipanggil untuk kemerdekaan, maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih.” Refren atau ulangan Mazmur Tanggapan ini sangat indah dan penting untuk disadari sebagai panggilan kolektif: Dipanggil untuk kemerdekaan.
Rasul Petrus dalam bacaan kedua menegaskan, “Hiduplah sebagai orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah” (1Ptr 2:16). Hiduplah sebagai orang merdeka dan sebagai hamba Allah. Hiduplah sebagai hamba, pelayan, warga negara yang merdeka, yang dengan bebas – sesuai dengan panggilannya dalam Gereja dan masyarakat – ikut terlibat untuk mempertahankan atau memelihara anugerah atau rahmat kemerdekaan dari Allah Yang Maha Kuasa.
Bagaimana kita hidup sebagai orang merdeka? Bagaimana kita mempertahankan kemerdekaan yang telah berusia 80 tahun ini? Bagaimana kita memelihara anugerah kemerdekaan ini? Bagaimana kita hidup sebagai sesama warga yang merdeka?
Pertama, Rasul Petrus memberi nasihat, “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!” (1Ptr 2:17). Menghormati semua orang karena memiliki martabat hidup yang sama adalah hal mendasar sebagai orang beragama. Takut akan Allah mesti terukur konkret, nyata, dapat dilihat mata, dapat dirasakan oleh sesama saudara, lewat sikap saling menghormati sekalipun agama berbeda, suku atau ras atau status sosial berbeda. Kita semua adalah saudara. Torang samua basudara. Kita sadar bahwa hal ini tetap menjadi perjuangan kita bersama.
Kedua, sang bijak dalam Kitab Putra Sirakh, dalam bacaan pertama, juga memberi nasihat kepada kita, “Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu, apa pun kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu” (Sir 10:6). Menaruh benci kepada sesama, yang adalah sesama saudara sebangsa, bangsa Indonesia, jelas melukai dan mencederai pengorbanan para pejuang kemerdekaan dan anugerah kemerdekaan dari Allah Yang Maha Kuasa.
Hari ini bangsa Indonesia telah 80 tahun merdeka. Semangat kemerdekaan mesti tampak nyata dalam semangat saling menghormati sesama warga negara Indonesia. Selain itu, mesti terus kita hidupi semangat saling mengampuni, apa pun kesalahannya, kata sang bijak, bukan dengan saling menaruh benci.
Ketiga, kini saatnya bukan hanya sekadar mempertahankan dan memelihara kemerdekaan namun juga meningkatkan dan memajukan bangsa ini. Bagaimana caranya? Antara lain, dengan “berbagi inspirasi untuk memajukan negeri”. Sejarah, tradisi, cerita masa lalu, serta keberhasilan dari rakyat atau daerah bisa menjadi inspirasi bagi warga lain di negeri ini untuk mewujudkan kesejahteraan. Kisah perayaan HUT Kemerdekaan adalah cerita kebersamaan dan berbagi untuk memajukan negeri ini. Semoga kita sungguh-sungguh semakin bersatu, berdaulat, semakin sejahtera dan semakin maju. Masih diperlukan kerja keras untuk itu, bukan omon-omon…
Kita telah dianugerahi rahmat kemerdekaan. Namun, kita juga dipanggil untuk kemerdekaan yang sejati. Mari kita berjuang untuk menjadi anak-anak Allah yang merdeka. “Hiduplah sebagai orang merdeka,” kata Rasul Petrus.
Tuhan, mampukan aku menggunakan kemerdekaanku untuk semakin mengasihi Engkau dan sesama. Amin.
Selamat merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Merdeka!

