simon dan yudas

Dipilih untuk Menjadi Sahabat dan Saksi-Nya

Selasa, 28 Oktober 2025, Pesta St. Simon dan Yudas, Rasul
Bacaan: Ef. 2:19-22Mzm. 19:2-3,4-5Luk. 6:12-19.

“Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.” [Luk 6: 13 – 16]

Injil hari ini membawa kita pada momen yang menentukan: Yesus menghabiskan sepanjang malam berdoa kepada Bapa, lalu memilih dua belas orang dari antara murid-murid-Nya untuk menjadi rasul. Pilihan ini bukanlah pilihan sembarangan. Sebuah pilihan yang lahir dari doa, lahir dari kehendak Bapa, dan menunjukkan kepada kita apa arti sesungguhnya dari menjadi murid.

Pertama, Yesus memanggil mereka “untuk tinggal bersama-Nya.” Sebelum diutus, mereka diundang untuk tetap dekat. Misi pertama setiap rasul — dan setiap orang Kristen — adalah persahabatan dengan Yesus. Ia tidak menginginkan hamba-hamba yang taat buta, tetapi sahabat yang berjalan bersama-Nya, berbagi sukacita-Nya, dan bahkan memikul Salib-Nya. Bayangkan: Anak Allah menginginkan persahabatan kita! Inilah inti iman kita — bahwa Allah ingin kita dekat dan ingin tetap dekat dengan kita.

Kedua, Ia memanggil mereka untuk belajar. Menjadi murid berarti menjadi pembelajar seumur hidup. Santo Simon dan Yudas tidak memahami segala sesuatu sejak awal, begitu pula kita. Mereka berjalan, tersandung, bertanya, berdebat, dan perlahan-lahan tumbuh. Itulah jalan kita juga: membiarkan Yesus mengajar kita, hari demi hari, tentang cara mencintai dan mengampuni, cara melayani dan berharap.

Ketiga, Ia memanggil mereka untuk menjadi rasul — untuk diutus. Seorang rasul adalah seorang utusan, seorang duta, menjadi pesan hidup Kristus. Bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui hidup itu sendiri. Kita adalah “model” Yesus, dimaksudkan untuk menunjukkan wajah-Nya kepada dunia. Semoga ketika orang memandang kita dapat mengenali Yesus dalam diri kita.

Perhatikan juga siapa rasul-rasul ini: orang-orang biasa, tanpa kekayaan atau status, dengan latar belakang yang berbeda-beda bahkan bertentangan. Matius si pemungut pajak dan Simon Zelot seharusnya menjadi musuh, namun dalam Yesus mereka menjadi saudara. Inilah keajaiban Injil: di dalam-Nya, hal-hal yang bertentangan dipertemukan.

Pada Pesta St. Simon dan Yudas ini, marilah kita ingat bahwa kita pun dipanggil —untuk tinggal bersama Yesus, lalu belajar dari-Nya, dan akhirnya diutus sebagai duta-duta-Nya. Meskipun kita biasa-biasa saja, Yesus mempercayai kita untuk membawa kasih-Nya ke dunia. Jika kita tetap dekat dengan-Nya, seperti para rasul, hidup kita pun dapat menjadi Injil yang hidup.

St. Simon dan St. Yudas Tadheus, doakan dan bimbing kami agar mampu menjadi sahabat-sahabat Kristus dan menjadi saksi-saksi-Nya dalam hidup sehari-hari. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *