sacrifice

Berkorban

Rabu, 4 Maret 2026, Rabu Pekan Prapaskah II
Bacaan: Yer. 18:18-20Mzm. 31:5-6,14,15-16Mat. 20:17-28.

“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang,” (Mat 20: 28).

Dalam perikope Injil hari ini Yesus berbicara tentang misi-Nya. Misi itu harus dipenuhi dengan menderita. Ia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.

Akan tetapi, ketika Ia berbicara bahwa Ia harus menderita, justru Ibu dari Yohanes dan Yakobus mengajukan permintaan yang aneh: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Maka Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” (Mat 20: 21 -22).

Bagaimana dengan kita? Sering kali kita mengalami sindrom “the center of the universe”. Kita merasa bahwa diri kita sendirilah pusat dari segalanya. Sering kali kita berpegang teguh pada anggapan keliru bahwa diri kitalah dan bukan orang lain yang penting. Kita tidak mau berkorban. Semakin kita memusatkan perhatian pada diri kita sendiri, semakin kita mempersempit perspektif kita. Tapi semakin kita memperhatikan orang lain semakin luaslah cakrawala kita.

Yakobus dan Yohanes (atau ibunya) mungkin tidak sadar akan implikasi dari permintaan mereka. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Sepertinya terlihat mudah saja! Akan tetapi “cawan” itu adalah cawan penderitaan dan pengorbanan. Cawan yang menuntut kita untuk menyangkal diri, mendahulukan orang lain, membagikan apa yang sebenarnya menjadi “hak” kita. Cawan itulah yang harus kita minum, kita angkat setiap hari dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus.

Maukah kita sungguh-sungguh berkorban? Atau kita hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri?

Ya Tuhan, semoga aku hanya merindukan kebesaran yang datang dari pelayanan, terutama pelayanan kepada-Mu dan kepada orang-orang yang lemah dan tertindas. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *