minggu advent satu

Berjaga-jaga dan Siap Sedia

Minggu, 30 November 2025, Minggu Advent I Tahun A
Bacaan: Yes. 2:1-5Mzm. 122:1-2,4-5,6-7,8-9Rm. 13:11-14aMat. 24:37-44.

“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang,” (Mat 24: 42).

ADVEN datang lagi.. Adven adalah saat rahmat menantikan kedatangan Tuhan secara khusus dan istimewa. Itu bukan berarti, Tuhan tidak pernah ada, hadir dan datang sebelumnya. Apakah Tuhan datang hanya pada masa adven, juga natal, dan hanya masa ini kah kedatangan-Nya disiapkan dan dinantikan? Tentu saja tidak!

Adven adalah saat, waktu dan kesempatan bagi Gereja, bagi kita menyiapkan diri, menyiapkan hati secara khusus untuk kedatangan-Nya pada Hari Raya Natal, sementara Ia sudah datang, Ia juga sedang datang dalam keseharian dan pengalaman hidup kita, bahkan Ia  selalu datang kapan saja. Ia datang pada peristiwa kematian kita, juga pada akhir zaman dimana kita tidak tahu kapan waktunya. Dengan demikian, adven tidak sebatas empat minggu menjelang Hari Raya Natal, tetapi seumur hidup kita. Kita selalu dalam situasi adven, sebab Tuhan selalu bisa datang dalam setiap kejadian, setiap peristiwa. Oleh karena kedatangan-Nya serba tak terduga, maka Yesus ingatkan melalui bacaan hari ini untuk berjaga, waspada, siap sedia selalu kapan saja. “Hendaklah kamu siap sedia, karena Anak manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mat 24:44). Ia datang seperti pencuri. Ia datang seperti maut, kapan saja, di mana saja dan dalam situasi apa saja. Pertanyaan terbaik bukanlah “kapan Yesus datang?”, melainkan “bagaimana saya menyambut  kedatangan-Nya?”

Injil hari ini berbicara tentang kedatangan Tuhan di akhir zaman dan bagaimana mempersiapkannya. Ada dua kesalahan besar yang dilakukan orang sehubungan dengan kedatangan Tuhan. Yang satu adalah mempersiapkannya dengan kecemasan paranoid. Yang lainnya adalah mengabaikannya dengan acuh tak acuh dan tidak melakukan apa-apa. Apa yang Injil beritahukan kepada kita tentang akhir dunia dan bagaimana mempersiapkannya?

Injil menggunakan dua gambaran untuk menyatakan bahwa “sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang,” (Matius 24:42b). Yang pertama adalah air bah yang menimpa orang-orang yang tidak siap pada zaman Nuh. Gambaran kedua adalah pencuri di malam hari, yang datang dengan tidak disangka-sangka. Kedatangan Tuhan dan akhir zaman seperti yang kita tahu akan terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga. Itu akan datang tanpa pemberitahuan, memberikan kejutan pada dunia yang tidak menaruh curiga. Karena itu, seperti seorang tuan rumah yang bijak, hendaknya kita berjaga-jaga dan selalu siap sedia.

Apa artinya berjaga-jaga dan siap sedia? Berjaga-jaga dan siap sedia tidak berarti selalu cemas dengan ramalan-ramalan tentang akhir zaman seperti yang telah sering terjadi di masa kita. Berjaga-jaga dan siap sedia adalah lebih tekun dan setia pada tugas kita sebagai warga dunia dan anak-anak Tuhan yang bertanggung jawab. Orang-orang Kristen purba menggunakan tidur sebagai bahasa kiasan untuk kehidupan pemanjaan dosa. St. Paulus berkata dalam bacaan kedua hari ini, “Saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur,” (Rm 13: 11). “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati,” (Rm 13: 13). Dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika ia juga berkata: “Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan.” (1 Tes 5: 6 – 8).

Oleh karena itu, berjaga-jaga adalah menjalani kehidupan pelayanan yang setia kepada Tuhan, mengikuti perintah Tuhan dan tinggal dalam kasih karunia-Nya. Bahkan, perikope Injil kita hari ini diikuti oleh Perumpamaan tentang Hamba yang Bijaksana yang dengan setia menjalankan perintah tuannya saat tuannya sedang dalam perjalanan. Tuannya tiba-tiba kembali dan menemukan hamba itu masih mengikuti perintah yang dia berikan padanya. Demikian pula, tidak ada cara yang lebih baik bagi kita untuk mempersiapkan diri menghadapi kedatangan Tuhan yang tidak terduga di akhir zaman selain dengan setia menjalankan perintah-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mengapa menduga-duga saat kedatangan Tuhan itu sia-sia? Karena sebenarnya Hari Tuhan itu bisa menimpa kita secara individu kapan saja. Hari kematian kita adalah hari kita menghadap Tuhan. Mengapa saya harus sibuk menduga-duga Hari Tuhan dalam waktu dua atau tiga tahun ketika saya bahkan tidak yakin akan hari esok? Bagi kita masing-masing ada Hari Tuhan secara individu, hari dimana kita menghadap-Nya secara pribadi dan ada Hari Tuhan secara umum, hari penghakiman seluruh umat manusia. Hari Tuhan itu sangat dekat, sedekat hari kematian kita, yang bisa terjadi kapan saja.

Saat kita memasuki tahun liturgi Gereja yang baru hari ini, marilah kita memutuskan untuk menghindari kecemasan berlebihan akan hari kiamat di satu sisi dan rasa puas diri yang sembrono di sisi lain. Marilah kita berusaha untuk selalu berjaga dalam Roh dengan menjalani kehidupan iman dan kasih dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama dengan baik, sehingga kapan pun Dia datang kita siap mengikuti-Nya ke dalam kemuliaan kekal.

Tuhan, ajarilah aku kebajikan kesabaran dalam menanti dengan penuh harapan akan kedatangan-Mu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *