Senin, 13 April 2026, Senin Pekan Paskah II
Bacaan: Kis. 4:23-31; Mzm. 2:1-3,4-6,7-9; Yoh. 3:1-8
Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." [Yoh 3: 1 – 3]
Dalam Injil hari ini, kita jumpai Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi yang datang kepada Yesus dalam gelapnya malam. Menarik untuk diperhatikan bahwa Nikodemus menyapa Yesus dengan menggunakan bentuk jamak: ia berkata, “Kami tahu”. Ia bertindak seolah-olah ia adalah juru bicara suatu komunitas atau kelompok Yahudi. Untuk keperluan narasi, nampaknya penginjil Yohanes menggambarkan karakter Nikodemus sebagai perwakilan dari orang-orang Yahudi yang terbuka terhadap keunikan Yesus, tetapi, terkungkung dalam pola pikir Farisi tradisional yang sudah akrab dan nyaman bagi mereka, tidak mampu atau tidak mau beralih kepada iman yang sepenuh hati kepada-Nya.
Nikodemus juga mewakili kita semua yang terkurung dalam rasa aman dan didukung oleh tradisi serta praktik atau kebiasaan yang tak dipertanyakan, dan karenanya kita tidak mampu atau tidak mau menerima keunikan panggilan Yesus untuk dilahirkan sebagai anak-anak Allah dalam persaudaraan semua orang.
Kita mungkin pernah mendengarkan renungan tentang perikope ini yang mengatakan bahwa Nikodemus datang kepada Yesus pada malam hari karena takut diperhatikan oleh sesama orang Yahudi. Bukan tidak mungkin bahwa Yohanes memiliki pesan yang lebih dalam bagi pembacanya daripada yang tertulis dalam teks. Yohanes tidak sekadar menulis kronik kehidupan Yesus, melainkan hendak menyampaikan wawasannya tentang hidup dalam iman.
Nikodemus datang dalam kegelapan malam — dalam kungkungan kegelapan tradisi dan pola pikirnya. Percakapannya dengan Yesus adalah langkah pertama perjalanannya menuju terang Kristus. Nikodemus adalah perwakilan dari setiap orang Israel yang jujur yang mencari kebenaran. Kegelapan malam menandakan kondisi seseorang yang meraba-raba dalam kegelapan namun berkehendak kuat untuk menemukan terang. Ia adalah pengamat setia Hukum Taurat, namun, seperti pemuda kaya yang mendekati Yesus dalam Injil Matius, ia menyadari bahwa ia kekurangan sesuatu untuk mewarisi hidup kekal. Yesus mengundangnya untuk “lahir dari atas”, namun ia salah menafsirkannya.
Dapatkah anda melihat, dalam hal apa saja kita tahu bahwa Tuhan memanggil anda untuk hidup yang baru, namun tradisi dan praktik anda menghalangi untuk melangkah ke sana? Dapatkah anda mengidentifikasi kegelapan malam pola pikir apa saja yang menghambat untuk melangkah menuju kebebasan cahaya Kristus? Kegelapan malam – kebiasaan, kelekatan, ikatan dosa – apa saja yang perlu anda tinggalkan untuk menuju terang Kristus? Perjalanan Nikodemus berlanjut hingga kaki Salib. Apakah kita berani melangkah seperti Nikodemus untuk menempuh perjalanan itu?
Tuhan, karuniai kami kehendak yang kuat dan teguh untuk meninggalkan kegelapan malam untuk menggapai terang-Mu. Amin.

