Rabu, 7 Januari 2026, Rabu sesudah Penampakan Tuhan
Bacaan: 1Yoh 4:11-18; Mzm 72:2.10-11.12-13; Mrk 6:45-52.
“Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mrk 6: 45 – 50)
Bacaan Injil hari ini mengisahkan peristiwa setelah mukjizat penggandaan roti dan ikan, di mana Yesus memberi makan lebih dari lima ribu orang. Sesudah memberi makan 5000 orang itu, Yesus memerintahkan para murid berangkat lebih dahulu ke seberang, ke Betsaida, sementara Ia menyuruh orang banyak pulang. Kemudian setelah itu Ia menyediakan waktu untuk sendiri, berdoa.
Sementara mengarungi danau menuju Betsaida, perahu para murid dihantam angin dan gelombang. Melihat para murid-Nya sedang berjuang melawan angin dan gelombang di dalam perahu, Yesus berjalan di atas air menuju perahu mereka. Para murid ketakutan karena mengira Ia adalah hantu. Namun, Yesus menenangkan mereka dan ketika ia naik ke perahu, dengan segera angin dan gelombang pun redalah. Kisah yang kita baca dan dengar ini mengajak kita untuk merenungkan cobaan-cobaan yang dihadapi Gereja dan kehidupan pribadi kita, di mana kita sering merasa terombang-ambing oleh gejolak dan ketakutan.
Perahu melambangkan Gereja yang mengarungi lautan dunia yang seringkali memusuhinya. Dari skandal dan penganiayaan hingga kebencian dan perpecahan, Gereja tidak kebal terhadap badai. Namun, Injil mengingatkan kita bahwa perahu Gereja tidak akan tenggelam karena Yesus selalu hadir, meskipun tidak terlihat. Sabda-Nya, “Ini Aku, jangan takut,” bergema di setiap zaman, membawa harapan bagi orang-orang beriman yang menghadapi kegelapan dan keputusasaan.
Cerita Markus mengandung simbolisme yang kaya. Ditulis untuk umat Kristen awal yang mengalami penganiayaan di Roma, gambaran Yesus berjalan di atas air menyatakan kemenangan Kristus atas semua kekuatan kegelapan. Di tengah badai yang dahsyat itu datanglah Yesus berjalan di atas air “dan hendak melewati mereka” mereka. Kata “melewati” (“Tuhan lewat”) adalah cara Kitab Suci mengatakan bahwa Tuhan akan menyatakan diri (Bdk Kel. 12: 12-1). Dialah yang berkuasa atas laut dengan segala kekuatannya. Laut, bagi orang Yahudi adalah kekuatan yang menakutkan. Ada keyakinan bahwa di kedalaman, terdapat Leviathan, penyebab bencana dan kekacauan yang melambangkan kekuasaan si jahat. Dengan berjalan di atas air (laut), Yesus berkuasa mengalahkan kejahatan. Markus hendak menyatakan bahwa badai mungkin berkecamuk, tetapi Gereja tetap aman di bawah perlindungan-Nya.
Urutan peristiwa memberikan makna rohani yang lebih dalam. Setelah memberi makan orang banyak, Yesus mengundurkan diri ke gunung sementara para murid diperintahkan ke laut tanpa-Nya. Ini mencerminkan misi Gereja setelah wafat, kebangkitan, dan kenaikan Yesus. Meskipun tidak lagi hadir secara fisik, Yesus membekali para murid-Nya melalui Ekaristi dan tetap bersama mereka secara rohani, bahkan dalam badai kehidupan yang paling dahsyat.
Ketika pelbagai kesulitan, perjuangan sehari-hari, atau kegagalan pribadi mengancam untuk menenggelamkan kita, kita pun harus mencari Kristus yang berjalan menuju kita, mengucapkan kata-kata damai dan keberanian. Kehadirannya meyakinkan kita bahwa tidak ada badai, gelombang, atau kegelapan yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Marilah kita percaya bahwa perahu iman kita, meskipun retak, tidak akan pernah tenggelam, karena Kristus selalu bersama kita. “Tenanglah, Aku ini! Jangan takut!”
Tuhan, di awal tahun ini, teguhkanlah kepercayaan kami, bahwa apapun yang kami alami, Engkau selalu beserta kami. Amin.

