Sabtu, 22 November 2025, Peringatan Wajib St. Sesilia
Bacaan: 1Mak. 6:1-13; Mzm. 9:2-3,4,6,16b,19; Luk. 20:27-40.
“Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." (Luk 20: 37 – 38).
Dalam Injil hari ini, orang-orang Saduki mendekati Yesus dengan melontarkan sebuah pertanyaan, bukan untuk belajar, melainkan untuk mengejek dan mengolok-olok. Mereka tidak percaya pada kebangkitan, jadi mereka mengajukan teka-teki tentang seorang perempuan yang menikah dengan tujuh saudara — berharap untuk meyakinkan bahwa kehidupan setelah kematian itu adalah hal yang absurd.
Menurut mereka, kepercayaan terhadap kebangkitan tidak tertulis secara eksplisit dalam Hukum Musa. Menurut mereka, itu hanya deduksi dari para penafsir hukum. Tetapi ada sesuatu di balik ketidakpercayaan mereka terhadap kebangkitan. Pada masa Yesus, para Saduki adalah kelompok eksklusif yang terdiri dari orang-orang terkemuka dalam masyarakat Yahudi: orang-orang kaya, para bangsawan dan para imam. Mereka hidup enak dan mewah, serba kecukupan, tak ada kebutuhan-kebutuhan lain lagi. Jika sudah hidup seperti itu, untuk apa memikirkan kebangkitan? Bagi mereka, jika ada kehidupan setelah mati, itu hanya kelanjutan dari kehidupan duniawi.
Namun Yesus menjawab dengan ketenangan dan kuasa, mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam: surga bukanlah perpanjangan dari kehidupan di dunia ini — melainkan keberadaan yang baru dan diubah dalam kasih Allah. Oleh sebab itu, untuk menjawab olok-olok mereka, Yesus mengatakan bahwa Musa juga menulis bahwa Allah yang menyatakan kehadiran-Nya dalam semak bernyala mengatakan kepada Musa bahwa Ia adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub (Keluaran 3: 6). Jika Abraham, Ishak, Yakub sudah lama mati, kenapa Musa menulis bahwa Allah adalah Allah mereka? Bukankah “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”? (Luk 20: 38).
Kesalahan orang Saduki adalah membatasi kuasa Allah pada apa yang dapat mereka pahami. Mereka membayangkan surga dalam istilah duniawi, hubungan dalam kategori manusia, dan kehidupan hanya dalam batas-batas dunia ini. Yesus mengingatkan mereka — dan kita — bahwa Allah “bukanlah Allah orang mati, tetapi Allah orang hidup.” Kasih-Nya melampaui kematian, dan mereka yang milik-Nya akan hidup selamanya.
Kebenaran ini tercermin dengan indah dalam kehidupan Santa Secilia, perawan dan martir. Imannya tidak terbatas pada kenyamanan duniawi atau alasan-alasan manusiawi. Bahkan dalam penganiayaan, ia bernyanyi kepada Tuhan dalam hatinya, yakin bahwa kehidupannya yang akan dicabut di dunia ini akan diperoleh secara kekal di surga. Keberaniannya mengalir dari keyakinan yang sama yang disampaikan Yesus — bahwa kasih bertahan melampaui kematian.
Saat kita menghormati Santa Sesilia, pelindung musik suci, marilah kita berdoa agar kita hidup dengan hati yang selaras dengan kekekalan. Semoga kata-kata dan tindakan kita, kegembiraan dan penderitaan kita, semuanya menjadi bagian dari nyanyian kekal yang tak pernah berakhir — nyanyian mereka yang hidup selamanya dalam Allah yang hidup.
Mari mengarahkan hidup kita pada hidup yang kekal. Kita adalah orang-orang yang penuh harapan dan sukacita, sebab Kristus telah bangkit. Kita yakin bahwa suatu hari nanti kita pun akan bangkit bersama-Nya. Itulah sebabnya harapan kita akan kasih dan kehidupan Allah tidak dapat dihancurkan.
Allah, sumber dan tujuan segala kehidupan, Engkau telah mengikatkan diri-Mu kepada kami dengan cinta yang tak pernah berakhir. Berikanlah kepada kami harapan yang tak tergoyahkan bahwa Engkau telah mempersiapkan bagi kami kehidupan dan kebahagiaan melampaui kuasa maut. Semoga harapan yang kokoh ini menopang kami untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup dan menghadapi kesulitan serta tantangan dengan teguh dan tanpa rasa takut. Amin.

