yesus membangkitkan lazarus

Akulah Kebangkitan dan Hidup

Minggu, 22 Maret 2026, Minggu Prapaskah V Tahun A
Bacaan: Yeh. 37:12-14Mzm. 130:1-2,3-4b,4c-6,7-8Rm. 8:8-11Yoh. 11:1-45 (panjang) atau Yoh. 11:3-7,17,20-27,33b-45 (singkat).

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh 11: 25 – 26)

Konon di pegunungan pernah hidup seorang “Pintar” yang memiliki kemampuan penyembuhan yang luar biasa. Dia bisa menyembuhkan semua jenis penyakit dan jika Anda percaya, bahkan dia bisa menghidupkan kembali orang mati! Untuk membuktikannya, suatu hari dia pergi ke tempat yang ramai di kota. Kebetulan pada waktu ada iring-iringan orang hendak ke kubur mengusung seorang yang sudah mati. Dia menghentikan iring-iringan itu. Kemudian ia mendekati peti tempat orang yang mati itu terbaring dan mengatakan kepada orang-orang yang mengiringnya untuk tidak perlu takut dan bersedih hati karena dia dapat menghidupkan kembali orang mati itu. Kemudian peti mati itu diletakkan di tanah dan dibuka. Di hadapan orang mati itu ia merapal mantra.
Sesudah itu ia memegang orang mati itu dan berkata: “Berdiri!”
Orang-orang sangat terkejut melihat orang mati berdiri dan keluar dari peti.
Tetapi orang banyak itu bahkan lebih takut lagi ketika orang mati itu berbicara: “Hoi…. Siapa yang kasih hidup ulang saya!?”
Mereka menunjuk kepada orang pintar itu.
Dengan marah orang yang bangkit dari mati itu berkata: “Hoi, kenapa kau kasih hidup ulang saya!? Sa so tenang dan damai di seberang sana! Sekarang, sa harus kasih makan sa pu dua belas anak! Baru, musti dengar sa pu istri marah-marah setiap hari! Belum lagi pinjol kejar-kejar saya suruh bayar! Pokoknya sa pu hidup akan kacau lagi!
Ayo, kembalikan saya ke peti mati atau sa taruh kau di sana!”

Bacaan-bacaan hari ini khususnya bacaan pertama dan bacaan Injil berbicara tentang orang-orang yang bangkit dari mati. Bacaan pertama adalah nubuat Yehezkiel tentang bangsa Israel yang telah mati dihidupkan kembali oleh Allah dan akan dihantar kembali dari tanah buangan ke Tanah Terjanji. Dia meyakinkan mereka bahwa Nafas Tuhan yang menghidupkan akan memulihka umat-Nya, akan memberi mereka kehidupan baru, dan akan menempatkan mereka kembali di tanah mereka.

Bacaan Injil merupakan ceritera panjang dan tegang tentang pembangkitan kembali Lazarus. Peristiwa ini merupakan puncak tanda-tanda atau mujizat yang menunjukkan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Almasih. Dialah pemberi dan penyelamat hidup. Peristiwa itu terjadi tak lama sebelum kemudian Ia sendiri diadili dengan hukuman mati oleh orang-orang yang menolak untuk menerima Dia sebagai Penyelamat sejati.

Mungkin kita bertanya, mengapa Yesus tidak langsung datang mengunjungi Lazarus ketika Ia mendengar bahwa sahabat yang dikasihi-Nya itu sakit bahkan sudah mati. Baru beberapa hari kemudian Ia datang. Yohanes mengatakan, ketika Yesus tiba di sana, Lazarus sudah empat hari terbaring dalam kubur. Kita sendiri sering heran, menghadapi teka-teki hidup manusia. Suatu ironi, teka-teki, yaitu bahwa Yesus yang datang untuk memberi hidup, tak lama kemudian harus sendiri mengalami kematian, bahkan kematian di salib! Namun teka-teki itu dijawab jelas dengan fakta lain, yakni kebangkitan Lazarus dan kebangkitan Yesus sendiri!

“Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati, dan setiap orang yang percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh 11:25). Demikian Yesus berkata kepada Marta. Kemudian Ia bertanya: “Percayakah engkau akan hal ini?” Terhadap pertanyaan itu Marta menjawab, “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” Pertanyaan Yesus kepada Marta itu sekarang pun ditujukan kepada kita. Bukankah jawaban Marta itu juga harus menjadi jawaban kita? “Ya, Tuhan, kami pun percaya, meskipun kami menghadapi hidup penuh keragu-raguan dan ketakutan dalam kegelapan hati dan pikiran. Kami percaya kepada-Mu, sebab Engkau memiliki dan menyampaikan sabda-sabdaMu tentang kehidupan kekal. Kami ingin tetap percaya kepada-Mu, karena Engkau menganugerahkan kepada kami harapan penuh kepastian akan hidup sesudah hidup kami sekarang ini. Suatu hidup yang utuh dan otentik di dalam Kerajaan-Mu yang penuh terang dan damai”.

Namun kita harus mengakui, bahwa seperti Marta dan Maria kita berkali-kali mengungkapkan kata-kata atau keluhan yang pahit dan kehilangan harapan ini: “Tuhan, seandainya Engkau ada di sini” (Yoh 11:32), ibu atau bapaku, ataupun saudaraku bahkan sahabat-sahabatku pasti tidak akan begitu mendadak atau meninggal di luar dugaan kami”. Tetapi dalam Injil hari ini Yohanes mencatat: “Ketika Yesus melihat Maria menangis…, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu” (Yoh 11:33). Maka tertulis juga selanjutnya: “Maka Yesus menangis!”  Secara sangat singkat namun tepat mengena terlukiskan kabar gembira pesan Injil Yohanes tentang Yesus Penyelamat kita!

Kabar gembira Injil hari ini mewartakan kepada kita, bahwa Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Allah adalah seorang pribadi yang bersatu dengan kita dalam penderitaan, kesedihan, dukacita bahkan kematian! Allah menangis bersama kita. Allah bukan datang menghilangkan bencana, kesukaran dan penderitaan dan kesengsaraan hidup. Seandainya Allah datang langsung menyingkirkan segala bencana dan kesukaran hidup, maka Ia hanya tampil bagaikan seorang “Deus ex machina”. Jikalau demikian, bahwa agama dan iman kepercayaan kita akan sekadar merupakan suatu bentuk kekuatan magis, ibarat suatu sulapan, pertunjukan sulap belaka.

Di manakah Allah hadir di tengah bencana dan kesengsaraan manusia? Allah sungguh hadir di tengah segala sesuatu. Ia bergembira di dalam apa yang menggembirakan, tetapi juga di mana ada kesesangsaraan dan kematian, di situlah Allah menangis! Ia adalah Allah kita, yang selalu berada dan hadir bersama dengan kita di tengah segala kancah dan situasi hidup kita, begitu solider dan manusiawi. Kita disadarkan bahwa kemuliaan dan keluhuran Allah kita itu justru menjadi nyata dalam kesediaan Putera-Nya, Sang Sabda Ilahi-Nya menjadi daging manusiawi: inkarnasi yang berarti Allah menjadi manusia dalam segala kondisi hidupnya, kecuali dosa. “Sebab Dia, Putera Allah, telah bekerja memakai tangan manusiawi, Ia berpikir memakai akal budi manusiawi, Ia bertindak atas kehendak manusiawi, Ia mengasihi dengan hati manusiawi. Ia telah lahir dari Perawan Maria, sungguh menjadi salah seorang di antara kita, dalam segalanya sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa” (Gaudium et Spes 22,2).

Dia yang bersama dengan kita, Dialah Kebangkitan dan Hidup. Namun kita harus sadar bahwa kematian kita bukan hanya kematian badani, tetapi, juga kematian rohani! Kita harus juga dibangkitkan dari kematian rohani! Untuk itu kita perlu “Menggulingkan batu penutup kubur” kita. Kita sering mengubur diri kita sendiri di dalam keputusasaan. Sering kali kita berada dalam kubur cinta diri, dipenuhi dengan perasaan-perasaan negatif, seperti kekhawatiran, ketakutan, kebencian, rasa bersalah. Seperti Ia memanggil Lazarus: “Lazarus, marilah keluar!” ia juga memanggil keluar dari kubur. Seperti Lazarus dibebaskan dari ikatan kain kafan kita perlu juga dibebaskan dari ikatan rantai kecanduan alkohol, obat-obatan, penyimpangan seksual, fitnah, gosip, iri hati, prasangka, kebencian, dan kemarahan yang tak terkendali, dan masih banyak lagi. Selanjutnya, kita yang dihidupkan oleh-Nya, mari memilih untuk tidak jatuh ke dalam budaya kematian tetapi marilah meminta Yesus untuk membangkitkan kita dari perilaku buruk kita. Mari rangkul anugerah kehidupan-Nya dan gunakan agar orang lain juga bisa hidup.

Tuhan, aku percaya, Engkaulah kebangkitan dan hidup. Bangkitkan aku dari kematian akibat kuasa dosa. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *