gunakan mamon yang tidak jujur

Uang untuk Kehidupan Kekal

Sabda Hidup
Sabtu, 7 November 2026, Sabtu Pekan Biasa XXXI
Bacaan: Flp. 4:10-19; Mzm. 112:1-2.5-6.8a.9; Luk. 16:9-15.

“Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." (Luk 16: 9)

Pernahkah anda perhatikan betapa canggungnya suasana ketika topik tentang uang dibicarakan dalam percakapan kita? Kita bebas berbicara tentang politik, cuaca, atau kesehatan, tetapi rekening bank, kebiasaan belanja, dan harta benda biasanya menjadi hal yang dirahasiakan. Namun, dalam Injil hari ini Yesus justru menyoroti topik kekayaan, uang, dan prioritas hidup kita.

Yesus tidak sedang memberikan seminar keuangan atau manajemen investasi. Dia sedang berbicara tentang hati kita. Dia menggunakan bahasa yang tajam—seperti menyebut “mammon yang tidak jujur”—untuk menyadarkan kita tentang apa yang sebenarnya menguasai hidup kita.

Nasihat Yesus mungkin terdengar membingungkan: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

Uang dan harta materi pada dasarnya bersifat fana; kita tidak bisa membawa sepeser pun melintasi ambang kekekalan. Namun, Yesus mengajarkan strategi surgawi: menggunakan sumber daya duniawi untuk tujuan kekal dengan cara berinvestasi pada sesama.

Ketika kita memberi makan yang lapar, menghibur yang berduka, dan bermurah hati kepada yang membutuhkan, kita sedang membangun jembatan rohani. Kekayaan materi akan pudar, tetapi kasih yang dicurahkan bagi sesama tidak akan pernah gagal. Kebaikan yang kita lakukan dalam nama Kristus akan menyambut kita di rumah Bapa.

Yesus kemudian membawa perhatian kita pada momen-momen kecil sehari-hari. Sering kali kita menunggu hal-hal besar atau jabatan penting untuk membuktikan kebajikan kita. Yesus membalikkan logika itu: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”

Karakter kekristenan dibentuk di ruang-ruang tersembunyi: bagaimana kita jujur dalam hal-hal sepele di tempat kerja, bagaimana kita memperlakukan orang lain ketika tidak ada yang melihat?

Jika kita tidak bisa dipercaya dengan harta duniawi yang sifatnya sementara dan hanyalah titipan Tuhan, bagaimana mungkin Allah mempercayakan “kekayaan sejati” yaitu rahmat Kerajaan-Nya kepada kita? Kekudusan kita bangun dari kesetiaan-kesetiaan kecil setiap hari.

Akhirnya, Yesus menarik garis batas yang tegas: “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Kita sering berusaha membuat kompromi: ingin melayani Tuhan, tetapi sekaligus mendewakan kenyamanan, keamanan finansial, dan status sosial. Orang-orang Farisi, yang dikenal sebagai pencinta uang, mencemooh Yesus karena harta adalah jaminan rasa aman bagi mereka. Mereka tampak terhormat di luar, tetapi Yesus menembus topeng itu dengan peringatan: “Allah mengetahui hatimu, sebab apa yang tinggi di antara manusia adalah kekejian di hadapan Allah.”

Sabda Tuhan hari ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan panggilan kepada kebebasan sejati. Kita tidak perlu mengejar harta untuk membuktikan harga diri kita, sebab kita sudah sepenuhnya dikasihi oleh Allah.

Tuhan mampukan kami untuk melihat waktu, tenaga, dan apa saja yang kami miliki bukan harta untuk ditimbun, melainkan anugerah untuk dibagikan. Amin

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *