lawan kuasa gelap

Lawan Kuasa Gelap

Sabda Hidup
Jumat, 09 Oktober 2026, Jumat Pekan Biasa XXVII
Bacaan: Gal 3:7-14; Mzm 111:1-2.3-4.5-6; Luk 11:15-26.

“Ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan." Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia.” (Luk 11: 15 – 16)

Kemarin, 8 Oktober 2026, mulai diputar di bioskop-bioskop, film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. Romo Rendra dan Romo Thomas harus berhadapan dengan Rephaim, sosok iblis kuno yang menebar teror dengan kuasa jahatnya. Terungkap bahwa kemunculan Rephaim berkaitan dengan perjanjian darah dari masa lalu antara leluhur Daniel, yang berawal dari praktek ilmu hitam atau pesugihan. Mereka membuat kesepakatan dengan iblis untuk mendapatkan kekayaan, kejayaan dan kedudukan dengan imbalan jiwa (tumbal) keturunan dari keluarga tersebut.

Injil hari ini juga berbicara tentang kuasa gelap. Yesus menghadapi tuduhan dari musuh-musuhnya yang mengklaim bahwa kuasa-Nya untuk mengusir setan tidak berasal dari Allah, melainkan dari penghulu setan. Sebelum perikop Injil Lukas hari ini, dikisahkan bahwa Yesus mengusir setan dari seseorang yang membuat orang itu menjadi bisu. Reaksi orang banyak terbelah. Orang banyak menjadi takjub. Mereka berkata, “Orang ini agaknya adalah Anak Daud!”  Tetapi orang Farisi yang tidak mampu menentang-Nya dengan kebenaran, beralih ke fitnah dengan mengatakan bahwa Yesus mengusir setan dengan Beelzebul, penghulu setan.

Beelzebul atau sering disebut juga Beelzebub adalah bahasa Yunani nama Baal-Zebub, sosok dewa Filistin yang disembah di kota Filistin bernama Ekron pada zaman Perjanjian Lama ditulis. Julukan ini mengandung makna “dewa lalat” (2 Raja-Raja 1:2). Penggalian arkeologis di daerah-daerah Filistin mendapati patung-patung lalat yang terbuat dari emas. Setelah zaman Filistin berlalu, umat Yahudi mengubah namanya menjadi “Beelzebul,” sebuah kata yang berarti “dewa kotoran” yang digunakan dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani. Julukan ini merujuk pada dewa lalat yang disembah guna menghindarkan diri dari penyakit yang berasal dari lalat. Beberapa sarjana Alkitab juga menganggap bahwa Beelzebub juga dikenal sebagai “dewa kecemaran,” yang kemudian dipakai sebagai umpatan oleh kaum Farisi. Oleh karena itu, Beelzebub merupakan dewa yang dibenci, dan namanya digunakan oleh orang Yahudi sebagai julukan bagi Setan.

Perikope Injil hari ini mengarahkan kita kepada beberapa point permenungan.

Pertama, setan benar-benar ada. Kuasa jahat atau kuasa kegelapan ada di sekitar kita. Tentu saja, tidak nampak sebagai makhluk bertanduk yang menakutkan seperti yang biasanya kita gambarkan. Lebih sering kuasa jahat mendekati kita dalam rupa yang manis, menarik, menghibur, menyenangkan. Jika ia menakutkan, siapa yang akan tergoda? Yesus sendiri mengingatkan bahwa kuasa jahat itu tidak berhenti berusaha menyerang. Maka, perlulah kita berhati-hati. Jangan-jangan, kita dengan mudah membuat kesepakatan dengan kuasa jahat itu demi kesenangan kita! Apa pun bentuknya, kesepakatan [perjanjian] dengan kuasa jahat akan merusak kehidupan kita baik secara fisik, batin, maupun rohani.

Kedua, tuduhan orang-orang terhadap Yesus bahwa Ia mengusir setan dengan kekuatan penghulu setan. Tak jarang kita jatuh dalam jeratan kuasa jahat dengan melontarkan tuduhan-tuduhan atau fitnah, untuk menjatuhkan orang lain. Ketika Paus Fransiskus terpilih pada tahun 2013, dunia bergembira dan ia dipuji tidak hanya oleh umat Katolik tetapi juga tokoh-tokoh agama lain. Sesudah 9 bulan, ia menjadi “Person of the Year” majalah Time. Tetapi mereka yang tidak suka akan pendekatannya yang sederhana dan rendah hati, dengan segera menyebarkan macam-macam tuduhan kepadanya.

Ketiga, Lukas menceriterakan bahwa orang yang disembuhkan oleh Yesus, menjadi bisu atau tidak mampu berbicara, karena kerasukan setan. Dalam masyarakat saat ini, ketika seseorang memilih untuk tidak berbicara demi kebenaran, keadilan, dan perdamaian atau terlalu takut untuk melakukannya, mereka berada di bawah pengaruh kekuatan jahat. Penting bagi kita untuk merenungkan apakah kita juga dirasuki oleh kekuatan jahat sehingga kita memilih untuk diam dan membutuhkan penyembuhan oleh tangan Tuhan.

Mari kita renungkan, seberapa besar usahaku untuk melawan kuasa gelap? Padre Pio pernah mengatakan: “Iblis itu seperti anjing gila yang diikat dengan rantai; di luar panjang rantai itu, ia tidak bisa mencengkeram siapa pun. Dan kamu: jaga jarak. Jika kamu mendekat terlalu dekat, kamu membiarkan dirimu tertangkap!” Ia juga mengatakan: ““The root of all evil is “I”, “ME”. “Mine”!”

Tuhan, bimbing aku untuk selalu mendekatkan diri pada-Mu dan berani melawan kuasa kejahatan. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *