lepanto battle

Menang Bersama Maria

Sabda Hidup
Rabu, 7 Oktober 2026, Peringatan Wajib St. Perawan Maria Ratu Rosario
Bacaan: Gal 2:1-2.7-14; Mzm 117:1.2; Luk 11:1-4.

"Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan." [Luk 11: 2 - 4].

Rosario Suci bermula pada tahun 1212 ketika Santo Dominikus de Guzman mengalami penampakan Perawan Maria yang memberinya Rosario sebagai jawaban atas doanya untuk memahami cara memerangi bidaah Albigensian. Kekalahan ajaran sesat tersebut kemudian membuat doa Rosario dipandang sebagai sarana untuk menemukan perlindungan dan penghiburan, kekuatan serta keyakinan dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam hidup, serta menemukan “perisai” dalam manik-manik Rosario untuk mengalahkan ajaran sesat.

Baik fakta bahwa Rosario merupakan karunia dari Bunda Maria sendiri, maupun kesederhanaannya, mendorong praktik devosi ini di kalangan umat beriman yang oleh Paus Fransiskus disebut sebagai “mistik rakyat”. Dalam konteks inilah peristiwa yang terjadi pada tahun 1571 dapat dipahami. Kesultanan Ottoman sedang bergerak maju menuju perbatasan Eropa. Sebagai tanggapan, koalisi negara-negara maritim Eroma yang disebut Liga Suci dibentuk untuk menghentikan mereka. Paus Dominikan Pius V, yang sangat taat kepada Bunda Maria, memberkati panji yang menggambarkan Salib yang diapit oleh para Rasul Petrus dan Paulus, dikelilingi oleh moto Kaisar Konstantinus: In hoc signo vinces. (Dengan tanda ini engkau akan menang.) Bendera ini, bersama dengan gambar Bunda Maria dan tulisan “S. Maria succurre miseris” (Santa Maria, penolong mereka yang membutuhkan), merupakan dua bendera yang berkibar di antara seluruh barisan pasukan Liga Suci. Pada saat yang sama, Paus meminta seluruh umat Kristiani untuk bersatu melalui doa Rosario Suci demi keberhasilan pertempuran yang berlangsung pada 7 Oktober 1571. Liga Suci pun meraih kemenangan. Jelas bagi semua orang bahwa kemenangan tersebut diraih melalui campur tangan ilahi. Pada tahun 1572, Pius V menetapkan Pesta St. Perawan Maria Ratu Kemenangan. Penerusnya, Gregorius XIII, mengubahnya menjadi “St. Perawan Maria Ratu Rosario”.

Demikian pula, kemenangan-kemenangan lain juga dikaitkan dengan Rosario, seperti kemenangan di Wina pada tahun 1683, berkat campur tangan Beato Markus dari Aviano, di mana—juga berkat campur tangan ilahi dan bantuan Bunda Maria—serangan pasukan Ottoman berhasil dihentikan.

Saat ini, umat beriman yang setia pada Rosario memandang Rosario sebagai alat yang diberikan oleh St. Perawan Maria sebagai sarana untuk merenungkan hidup Yesus. Dengan merenungkan kehidupan-Nya, kita dipimpin untuk mengasihi dan mengikuti-Nya. Menarik untuk dicatat bahwa dalam berbagai penampakan, seperti di Lourdes dan Fatima, St. Perawan Maria mendorong pendarasan doa Rosario, memohon dengan sungguh-sungguh agar Rosario diucapkan setiap hari guna mengatasi perpecahan, perselisihan, kegelisahan hati, demi hubungan keluarga, dan hubungan antar bangsa.

Bersama dengan rasa takjub, St. Perawan Maria mengajarkan kita hari ini untuk mengarahkan pandangan kita ke atas, untuk percaya dan menyerahkan diri kepada Tuhan. Dengan melakukan hal ini, kita menyadari bahwa kita tidak dapat melakukan segala hal dengan kekuatan sendiri, bahwa kita bukanlah penentu nasib kita sendiri, bahwa kita membutuhkan orang lain, dan bahwa kita semua bersama-sama membutuhkan Tuhan. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian – Dia telah menjanjikan hal ini kepada kita. Namun, kita haruslah yang pertama kali mempercayainya dengan mengalihkan pandangan kita dari hal-hal duniawi dan belajar berusaha agar nama-Nya dikuduskan dan Kerajaan-Nya datang.

Kepercayaan yang kita tunjukkan melalui doa Rosario Suci adalah tanda yang melaluinya kita menyadari bahwa Allah bekerja melalui kita dan di sekitar kita, dan melalui perantaraan Maria, kita dapat menumbuhkan “tujuan hidup yang lebih tinggi”. Beriman sebenarnya berarti memberikan kepercayaan kepada Dia yang mampu melakukan segala sesuatu, menerima pertolongan-Nya, mengakui bahwa kita tidak dapat melakukan segalanya sendiri, menyerahkan diri kepada-Nya bahkan ketika rencana-Nya tidak sesuai dengan rencana kita, hingga pada titik menawarkan diri kita dengan penuh kepercayaan seperti St. Perawan Maria: “Sesungguhnya, aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Kami berlindung kepada-Mu, Ya Ratu Rosario, Bunda Allah yang Kudus. Janganlah engkau mengabaikan permohonan kami di saat-saat kami membutuhkan, tetapi selamatkanlah kami senantiasa dari segala bahaya, Ya Perawan yang Mulia dan Terberkati. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *