Sabda Hidup
Minggu, 4 Oktober 2026, Minggu Biasa XXVII Tahun A
Bacaan: Yes. 5:1-7; Mzm. 80:9,12,13-14,15-16,19-20; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43.
“Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya,” (Mat 21: 33 – 34).
Seorang pastor yang hubungannya dengan umat parokinya bermasalah akhirnya dipindahkan dan ditunjuk sebagai pastor kapelan di penjara kota.
Dalam pesta perpisahan, banyak umat datang untuk mendengarkan sambutannya. Pastor itu memilih ayat Injil ini untuk sambutannya: “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada,” (Yohanes 14:3). Kasihan pastor itu…. Dia pasti diperlakukan begitu buruk meskipun telah melakukan banyak kebaikan, sehingga dia berharap umatnya mengikuti dia ke penjara…. tentu bukan sebagai pastor pembimbing, melainkan sebagai narapidana! Hehehe….
Dalam Injil Minggu ke-27 ini, kita membaca perumpamaan Yesus tentang bagaimana anak pemilik kebun anggur, atau ahli waris kebun anggur itu, diperlakukan dengan kejam oleh para penggarap, seperti pastor dalam cerita di atas. Perumpamaan ini menyebut para hamba sebagai para nabi terdahulu yang diutus oleh pemilik kebun anggur (Allah) untuk mengumpulkan hasil panen. Namun, mereka tidak hanya ditolak, bahkan dibunuh. Kemudian Ia mengutus Anak-Nya, yang merujuk pada Yesus, tetapi Ia pun diperlakukan dengan kejam dan dibunuh di luar kebun anggur – disalibkan di luar kota Yerusalem.
Perumpamaan ini merupakan kecaman terhadap para pemimpin Yahudi yang saat itu sedang merencanakan untuk membunuh-Nya. Meskipun ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang Farisi yang merasa diri benar, perumpamaan ini juga berfungsi sebagai peringatan bagi setiap orang Kristen dan secara pribadi bagi kita masing-masing.
Kita mungkin tidak secara terang-terangan menolak sang ahli waris (Yesus), sebagaimana terlihat dari kerajinan kita menghadiri Misa Minggu, doa-doa, dan praktik-praktik keagamaan kita; namun apakah kita “menghasilkan buah yang melimpah”?
Sungguh patut dipuji bahwa banyak umat Katolik yang menghadiri Misa Minggu dan menerima Komuni Kudus. Sungguh membanggakan, masyarakat kita adalah masyarakat yang “beragama”. Namun, perlu dicatat bahwa bagi sebagian besar dari kita, agama hanyalah sekadar tradisi atau ritual untuk memenuhi kewajiban minimal.
Ada sebuah artikel pendek karya penulis anonim berjudul “Apa Itu Kekristenan,” yang berbunyi: “Di rumah, itu adalah kebaikan; dalam bisnis, itu adalah kejujuran; dalam masyarakat, itu adalah kesopanan; dalam pekerjaan, itu adalah keadilan; terhadap orang yang kurang beruntung, itu adalah belas kasih; terhadap yang lemah, itu adalah pertolongan; terhadap kejahatan, itu adalah perlawanan; terhadap orang yang beruntung, itu adalah ucapan selamat; terhadap orang yang bertobat, itu adalah pengampunan; terhadap Tuhan, itu adalah penghormatan dan cinta.”
Untuk menjadi orang Kristen sejati, kita harus menghasilkan buah-buah perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana disebutkan dalam artikel di atas. Apa yang kita lakukan di Gereja tidak boleh dipisahkan dari pergaulan dan perilaku kita sehari-hari.
Misalnya, setelah menghadiri Misa Kudus atau ikut serta dalam prosesi Bunda Maria Ratu Rosario, kita pulang ke rumah dan tetap bersikap tidak baik, kasar, dan tidak adil kepada para pekerja kita, atau mengumpulkan kekayaan yang diperoleh atas cara tidak halal, tindakan saleh kita menjadi cacat dan kontradiktif.
Jangan sampai Yesus berkata: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan!” (Mat 23:23).
Tuhan, kami bersyukur karena Engkau telah menjadikan kami kebun anggur dan para penggarapnya. Semoga kami dapat memberikan hasil yang sepadan, seperti yang Enkau harapkan. Amin.

