Sabda Hidup
Kamis, 17 September 2026, Kamis Pekan Biasa XXIV
Bacaan: 1Kor 15:1-11; Mzm 118:1-2.16ab-17.28; Luk 7:36-50.
“Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan….. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu,” (Luk 7: 36 – 38).
Lukas menghadirkan dua orang di hadapan Yesus. Pertama, Simon, yang menyambut-Nya dengan hangat namun hatinya tetap defensif dan tertutup. Kedua, seorang perempuan tanpa nama, yang dikenal sebagai pendosa, menangis di kaki Yesus dan dengan lembut mengurapi-Nya dengan minyak wangi. Simon diam-diam menghakimi perempuan itu tanpa memahami cintanya; sebaliknya, Yesus melihat dan menghargai pengabdian tulus dari hatinya.
Simon melihat sebuah kategori; Yesus melihat seorang manusia. Simon menilai masa lalu orang lain; Yesus menerima pertobatan. Wanita itu menawarkan apa yang dipertahankan oleh Simon: kelembutan, kerendahan hati, rasa syukur, dan kepercayaan. Air matanya menjadi pengakuan dosa, minyak wanginya menjadi doa, dan kasihnya menjadi buah dari pengampunan.
Yesus tidak datang untuk menghukum, melainkan untuk menawarkan belas kasih dan penyembuhan serta memulihkan umat-Nya kembali ke martabat sebagai Anak-anak Allah. Belas kasih-Nya tidak berarti bahwa dosa itu tidak berbahaya. Kasih karunia-Nya membebaskan orang berdosa dari rasa malu dan membantu mereka memasuki kehidupan baru bersama Allah.
Perumpamaan yang disampaikan Yesus menunjukkan mengapa Simon begitu sedikit mengasihi: ia tidak menyadari kebutuhannya sendiri akan pengampunan. Sikap merasa benar sendiri dapat menutup hati karena menganggap kasih karunia sebagai sesuatu yang hanya dibutuhkan orang lain. Di sisi lain, perempuan itu memahami bahwa ia tidak memiliki apa pun untuk dipertahankan dan segalanya untuk diterima. Karena benar-benar diampuni, ia mengasihi dengan begitu bebas dan murah hati.
Dikatakan oleh Lukas bahwa perempuan itu datang dengan buli-buli pualam berisi minyak wangi dan minyak wangi itu digunakan untuk mengurapi kaki Yesus. Ada yang mengatakan bahwa pada masa-masa itu, sebuah buli-buli pualam dengan minyak wangi itu setara dengan gaji setahun. Sangat mahal, sangat berharga sehingga biasanya dipakai untuk dua maksud: untuk mengurapi suami pada malam pernikahan sebagai mahar, atau sebagai jaminan masa depan seseorang. Bagi perempuan itu, sangat mungkin bahwa buli-buli pualam berisi minyak wangi itu adalah miliknya yang paling berharga.
Biasanya buli-buli itu harus dipecahkan lehernya untuk menuangkan minyak wangi di dalamnya. Dengan memecahkan buli-buli pualam itu, perempuan itu tidak hanya memberikan mas-kawin-nya, tetapi juga jaminan finansial bagi masa depannya. Ia gunakan itu untuk mengurapi kaki Yesus yang telah dibasahi dengan air matanya dan diseka dengan rambutnya. Ia mencurahkan/memberikan yang paling berharga dalam hidupnya di kaki Yesus.
Kristus dengan hangat mengundang kita untuk melihat melalui mata belas kasih-Nya. Renungkanlah siapa saja yang mungkin telah kita cap atau nilai secara tidak adil. Sangat mudah untuk melupakan betapa besarnya ketergantungan kita pada kasih karunia dalam kehidupan sehari-hari. Marilah kita datang kepada Yesus dengan kejujuran, kerendahan hati, dan kepercayaan. Betapa indahnya komunitas kita jika menjadi tempat di mana pintu hati setiap orang terbuka, tidak ada yang dipandang sebagai musuh, dan rekonsiliasi, pengampunan, serta damai sejahtera memenuhi kehidupan kita sehari-hari.
Tuhan, kasihanilah kami orang berdosa. Amin.

