iman yang menghidupkan

Iman Yang Memulihkan Hidup

Sabda Hidup
Senin, 7 September 2026, Senin Pekan Biasa XXIII
Bacaan: 1Kor 5:1-8Mzm 5:5-6.7.12Luk 6:6-11.

"Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?" Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya,” (Luk 6: 9 – 10).

Perikop Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang menyembuhkan seorang yang mati tangan kanannya. Akan tetapi ada dua macam kematian di sini. Yang pertama adalah orang dengan tangan kanan yang mati. Namun, yang mungkin lebih merugikan adalah kematian yang kedua, yakni hati orang-orang Farisi yang juga telah “mati” dan tak berbelas kasih. Mereka memasuki sinagoga bukan untuk bertemu dengan Allah, melainkan untuk mengumpulkan bukti-bukti melawan Yesus. Ia menanggapi dengan sebuah pertanyaan yang mengungkap kemunafikan mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?”

Tangan yang mati itu adalah simbol kehidupan yang kehilangan kekuatannya untuk bertindak, menciptakan, melayani, dan merangkul. Yesus memanggil orang yang mati tangannya itu untuk bangun dan berdiri di tengah karena penderitaan tidak boleh dibiarkan tak terlihat. Dengan memulihkan tangannya pada hari Sabat, Kristus mengungkapkan maksud Allah: memulihkan kemanusiaan kepada kebebasan dan kepenuhan.

Kebenaran harus selalu dipadukan dengan belas kasih. Ketepatan pelaksanaan agama tanpa belas kasih dapat mengeras menjadi kekejaman. Kita mungkin membela prinsip, hafal hukum dan aturan, serta melestarikan tradisi, namun gagal bersukacita ketika seseorang disembuhkan, ketika kehidupan dipulihkan. Kekudusan diukur bukan dari ketepatan mengikuti larangan ini dan itu, melainkan dari kehidupan, martabat, dan harapan yang dipulihkan oleh kehadiran kita.

“Ulurkanlah tanganmu,” perintah Yesus. Orang yang mati sebelah tangannya itu harus memperlihatkan kelemahannya, kerentanannya. Kita pun diundang untuk memperlihatkan bagian-bagian hidup kita yang “mati”: karunia yang terabaikan, hubungan, iman, dan ketakutan. Kesembuhan, kehidupan baru mulai terjadi ketika kita menyadari dengan rendah hati kelemahan dan kerentanan kita di hadapan Yesus.

Hari ini, marilah kita memohon kepada Yesus untuk melembutkan setiap hati yang kaku, memulihkan kemampuan kita untuk berbuat baik, dan menjadikan tangan kita alat belas kasih. Maka, ibadah kita akan benar-benar menjadi partisipasi yang penuh sukacita dalam karya Allah untuk penyembuhan, pembebasan, dan penciptaan yang diperbarui.

Tuhan, lembutkanlah hati kami yang kaku. Semoga kehadiran kami membawa kesembuhan, kebebasan dan kehidupan yang baru. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *