Sabda Hidup
Sabtu, 5 Sepetember 2026, Sabtu Pekan Biasa XXII
Bacaan: 1Kor 4:6b-15; Mzm 145:17-18.19-20.21; Luk 6:1-5.
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: "Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"..... Kata Yesus lagi kepada mereka: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." (Luk 6: 1 – 2, 5).
Dalam Injil hari ini, para murid yang lapar “terciduk” memetik bulir-bulir gandum pada hari Sabat, oleh orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi itu melihat tindakan mereka sebagai pelanggaran aturan. Para murid dapat dipandang melanggar 5 aturan hari Sabat: memetik bulir gandum dapat dianggap “memanen”, menggisar dengan tangan dapat dianggap “menggiling”, meniup sekamnya dianggap “menampi”, memegang bulir-bulir gandum itu dapat dianggap “membawa beban” dan “mempersiapkan makan”. Semua pekerjaan yang tidak diperbolehkan di hari Sabat. Ketika orang-orang Farisi melihat pelanggaran aturan, Yesus melihat kebutuhan demi kemanusiaan. Dengan mengingat kisah Daud yang memakan roti sajian di Bait Allah, Ia mengungkapkan bahwa hukum Allah tidak pernah dimaksudkan untuk mencekik kehidupan. Dengan mengatakan, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” Ia menyatakan bahwa belaskasih, bukan ketaatan pada aturanlah yang mengungkapkan hati Allah.
Ada bahaya mengubah agama menjadi sistem yang mengutamakan aturan daripada manusia. Sebuah perintah yang terpisah dari kasih kehilangan tujuannya. Hari Sabat diberikan untuk memulihkan martabat manusia, persekutuan, dan sukacita. Setiap kali kesalehan saya membuat orang lain merasa dihukum, dikucilkan, atau lapar, saya harus bertanya pada diri sendiri apakah saya berpegang pada kasih atau sekadar mempertahankan tradisi.
Makna hari Sabat lebih dari sekadar berhenti bekerja. Sabat adalah ritme istirahat, rekonsiliasi, pengampunan, dan keajaiban. Itu dimaksudkan untuk menjauh dari keinginan untuk menjadi produktif dan menguntungkan saja, dan sebaliknya, mengingat bahwa nilai seorang manusia tidak bergantung pada pencapaian. Dengan itu kita melepaskan dendam, menumbuhkan rasa syukur, memperhatikan hubungan, dan membiarkan jiwa kita bernapas kembali.
Yesus memanggil kita pada kekudusan. Iman tidak bertanya, “Aturan mana yang telah dilanggar?” sebelum bertanya, “Siapa yang membutuhkan belas kasih?” Iman tidak menghapuskan disiplin; sebaliknya, iman mengembalikan disiplin pada tujuannya: membantu kehidupan berkembang dalam Tuhan.
Hari ini, Kristus berjalan melintasi ladang gandum kehidupan kita. Ia meminta kita untuk melepas kecenderungan kita menilai dan mengadili, dengan memperhatikan mereka yang lapar, dan mengutamakan belas kasih. Semoga olah kesalehan kita memperbarui kemanusiaan kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan kita alat belas kasih Tuhan.
Tuhan, semoga kehidupan beragama kami tidak kehilangan makna yang sesungguhnya. Amin.

