augustine (1)

Bertekun dan Setia

Sabda Hidup
Jumat 28 Agustus 2026, Peringatan Wajib St. Agustinus
Bacaan: 1Kor 1:17-25Mzm 33:1-2.4-5.10ab.11Mat 25:1-13.

“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya,” (Mat 25: 13)

Ada banyak hal yang tidak dapat kita peroleh secara instant, tetapi membutuhkan waktu yang lama. Misalnya, ketika anda akan ujian, perlu waktu yang lama untuk belajar. Jika kita ingin mengetahui sesuatu, kita perlu bertanya kepada orang lain, membaca, meneliti, merefleksikannya agar sungguh-sungguh tahu secara mendalam.

Demikian juga dalam hal kehidupan kekal, dibutuhkan proses untuk memperolehnya. Tidak semudah memasak mie sedaap. Perlu ketekunan dan kesetiaan dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Dalam Injil hari ini Yesus mengundang kita untuk tetap berjaga-jaga. Berjaga-jaga itu lebih dari sekadar soal waktu. Banyak orang bilang bahwa mereka “kedapatan” berjaga-jaga karena mereka berada pada tempat dan waktu yang tepat. Sedangkan yang lain bilang, mereka kurang beruntung atau sial karena berada pada waktu dan tempat yang salah.

Tentu saja kehidupan kekal bukan soal mujur dan sial. Untuk mencapai kehidupan kekal perlu ketekunan. Dengan demikian, berjaga-jaga tidak sama dengan siap sedia agar tidak “terciduk” lalai atau sedang berbuat dosa. Berjaga dan siap sedia adalah bertekun dan konsisten berbuat baik, entah diawasi atau tidak, entah diganjar atau tidak. Kita berbuat baik karena kodrat kita baik. Jika kita tidak berbuat baik maka kita melawan kodrat kita. Bukankah kita dicipta seturut gambar Allah yang Mahabaik?

Orang kudus yang kita peringati hari ini, St. Agustinus, membutuhkan separuh masa hidupnya untuk menyadari bahwa ia salah. Ia butuh waktu yang lama untuk memiliki keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan kepada Tuhan. Ia memiliki hati yang gelisah; ia adalah seorang pencari. Namun, begitu ia menemukan keberanian itu dan kedamaiannya dalam Tuhan, ia bertekun dan konsisten, merenungkan imannya dengan mendalam. Ia menjadi seorang teolog yang cemerlang, namun tetap seorang pria sederhana yang mudah didekati oleh orang-orang biasa dan teladan kasih bagi orang-orang di sekitarnya.

Akhirnya, ada hal yang tidak dapat kita pinjam. Kita bisa meminjam uang, mobil, baju dan sebagainya kepada orang lain, tetapi kita tidak bisa meminjam relasi dengan Allah kepada orang lain. Kita tidak bisa meminjam iman dan kekudusan dari orang lain dan menggunakannya untuk keuntungan kita sendiri. Mempunyai orang tua saleh, atau ada anggota keluarga yang menjadi imam atau suster, biarawan-wati, bukanlah jaminan keselamatan. Relasi personal dengan Allahlah yang berlaku. Dalam istilah St. Agustinus: “Allah yang menciptakanmu tanpa bantuanmu tidak akan menyelamatkanmu tanpa bantuanmu.”

Maka sahabat-sahabat, mari kita bertekun dalam iman. Yesus tidak hanya datang pada akhir hidup kita. Ia datang di setiap saat dan ingin mendapati kita sedang melayani saudara-saudari kita. Kita harus selalu menjaga agar pelita harapan, kasih, dan keadilan tetap menyala di dalam diri kita—dalam hidup kita, bagi orang miskin dan orang-orang yang mencari pertolongan.

Tuhan, bantulah kami untuk bertekun dan setia. St. Agustinus, doakanlah kami. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *