undangan pesta yesus

Allah Tak Pernah Menyerah

Sabda Hidup
Kamis, 20 Agustus 2026, Peringatan Wajib St. Bernardus
Bacaan: Yeh. 36:23-28Mzm. 51:12-13.14-15.18-19Mat. 22:1-14

“Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.” [Mat 22: 9]

Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan kepada kita perumpamaan tentang seorang raja yang mempersiapkan perjamuan pernikahan untuk putranya — sebuah pesta, perayaan cinta dan persekutuan (lih. Mat 22:1–14). Raja itu adalah Allah sendiri, dan keinginan terdalam-Nya adalah berbagi sukacita-Nya dengan kita. Ia tidak memaksa kita; Ia mengundang kita. Ia membuka lebar-lebar pintu perjamuan-Nya dan menanti tanggapan kita.

Betapa indahnya gambaran tentang Allah kita ini! Ia tidak memaksakan kehendak-Nya, melainkan memanggil, mengundang kita dengan penuh kasih. Ia mempersiapkan segalanya, namun tetap memberi kita kebebasan untuk menerima atau menolak. Sebagaimana Santo Agustinus mengingatkan kita: “Dia yang menciptakan kita tanpa bantuan kita tidak akan menyelamatkan kita tanpa persetujuan kita.” Inilah martabat kebebasan kita. Namun, betapa seringnya kita berpaling dari undangan itu?

Injil mengatakan bahwa banyak di antara mereka yang diundang memiliki alasan: mereka terlalu sibuk dengan ladang mereka sendiri, dengan urusan bisnis mereka sendiri. Dan seberapa sering kita melakukan hal yang sama? Kita mengisi hidup kita dengan kebisingan, macam-macam urusan, dan gangguan, sehingga kita melewatkan suara lembut Dia yang mengundang kita kepada sesuatu yang lebih besar: kepada persekutuan, kepada sukacita, kepada kasih.

Namun, Allah tidak menyerah. Ia terus mengundang. Ia keluar ke jalan-jalan dan mengumpulkan semua orang — orang-orang miskin, yang terlupakan, yang terluka. Mereka yang menyadari bahwa mereka membutuhkan rahmatlah yang datang. Dan ketika mereka berkata “ya,” tempat perjamuan itu pun penuh.

Marilah kita bertanya pada diri sendiri dengan jujur: Ruang apa yang saya berikan kepada Tuhan dalam hidup saya? Apakah saya berkata “ya” atas undangan-Nya, ataukah saya menutup pintu karena terlalu sibuk dengan diri sendiri? “Semua kasih kita harus terpusat pada-Nya, sehingga dalam segala hal kita hanya berupaya melakukan kehendak-Nya, bukan untuk memuaskan diri kita sendiri,” kata St. Bernardus.

Ia juga mengatakan: “Kebahagiaan sejati akan datang, bukan dengan memuaskan keinginan kita atau memperoleh kesenangan sesaat, melainkan dengan melaksanakan kehendak Tuhan bagi kita: sebagaimana yang kita doakan setiap hari: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Semoga kita tidak hanya sibuk dengan keinginan kita sendiri tetapi berusaha menanggapi undangan-Nya dengan melaksanakan kehendak-Nya.

Tuhan, terima kasih telah mengundangku ke pesta-Mu yang berkelimpahan. Tolonglah aku untuk selalu menanggapinya dengan pantas. St. Bernardus, doakanlah kami. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *