perumpamaan para pekerja

Keselamatan Adalah Anugerah

Sabda Hidup
Rabu, 19 Agustus 2026, Rabu Pekan Biasa XX
Bacaan: Yeh. 34:1-11Mzm. 23:1-3a.3b-4.5.6Mat. 20:1-16a

“Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." (Matius 20: 13 – 16)

Di sekolah, ada murid teladan, tetapi ada juga murid “telatan”. Yang masuk kategori teladan tentu mempunyai pelbagai macam prestasi. Yang masuk kategori telatan, tentu juara dalam datang terlambat. Dalam dunia kerja, ada karyawan teladan dan ada juga karyawan telatan. Pun dalam hidup beriman, ada orang beriman teladan dan ada juga orang beriman telatan. Orang beriman teladan tentu mempunyai banyak keutamaan. Orang beriman telatan bukan cuma telat datang misa atau doa lingkungan atau latihan koor, tetapi telat dalam beriman. Sudah mendekati pintu ajal baru bertobat. Tetapi apakah keselamatan yang dianugerahkan oleh Tuhan berbeda antara yang teladan dan yang telatan?

Bacaan Injil hari ini dapat memberi gambaran. Perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur berbicara tentang kemurahan hati dan belas-kasih Allah yang luar biasa (Mt 20: 1 -16). Pada masa Yesus, para pekerja harus menunggu setiap hari di pasar atau plaza kota hingga seseorang memberi mereka pekerjaan. Jika tidak ada orang yang memberi mereka pekerjaan, berarti tidak ada makanan bagi keluarga. Para pekerja yang sudah bekerja sepanjang hari mengeluh sebab upah yang mereka terima sama dengan mereka yang datang bekerja sesudah lewat tengah hari. Namun, tuan yang empunya kebun anggur mempekerjakan mereka karena kemurahan hatinya, agar mereka dan keluarga mereka tidak kelaparan.

Perumpamaan Yesus ini memang mengejutkan. Jika seorang majikan saat ini melakukan apa yang dilakukan oleh pemilik kebun anggur itu, maka akan menimbulkan keributan dari serikat pekerja dan pemogokan hebat akan terjadi.

Banyak orang menganggap kisah ini aneh karena memberikan gambaran tentang Tuhan yang tampaknya tidak adil. Seorang novelis Katolik Prancis, Francois Mauriac, menulis beberapa novel di mana tokoh-tokohnya mengalami pertobatan di saat-saat terakhir, terkadang hanya pada saat menjelang ajal, dan kemudian masuk surga setelah hidup dalam dosa dan kejahatan. “Tidak adil!” teriak banyak orang. Tapi ingatkah anda penjahat yang disalibkan bersama Yesus dan meminta pengampunan-Nya? Yesus berjanji kepadanya beberapa saat sebelum kematiannya, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Orang-orang berdosa yang bertobat di akhir hidup mereka menerima anugerah yang sama dengan orang-orang Kristen yang baik yang berjuang seumur hidup mereka untuk menaati perintah-perintah Allah dan menjalani hidup yang berkenan di hadapan Allah. Apakah itu adil?

Menurut standar kita, Allah nampak tidak adil. Tetapi Allah tidak hanya bertindak adil semata. Allah adalah KASIH yang murni, dan kasih yang murni melampaui keadilan. Kasih itu luar biasa, tidak masuk akal. Itulah sebabnya keadilan manusia tidak dapat memahami alasan-alasan kasih.

Perumpamaan ini juga berbicara tentang kemurahan hati Allah. Para pekerja tidak melakukan pekerjaan yang sama tetapi mereka menerima upah yang sama. Ada dua pelajaran besar di sini. Yang penting bukanlah jumlah pelayanan yang diberikan, tetapi kasih yang diberikan. Tuhan tidak melihat jumlah pelayanan kita. Selama kita memberikan apa yang kita miliki, semua pelayanan memiliki nilai yang sama di hadapan Allah.

Pelajaran lainnya, Kita tidak bisa menganggap apa yang Allah berikan kepada kita sebagai balas jasa kita. Apa yang Allah berikan datang dari kebaikan hati-Nya, apa yang Ia berikan bukanlah bayaran, tetapi pemberian, bukan pahala, tetapi anugerah.

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengingatkan aku bahwa kasih-Mu seluas samudera dan belas kasihan-Mu tidak terbatas. Semua itu tidak hanya berlaku untukku, tetapi juga untuk semua, bahkan bagi orang-orang berdosa. Semoga aku juga murah hati seperti Engkau. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *