Sabda Hidup
Rabu, 5 Agustus 2026, Rabu Pekan Biasa XVIII
Bacaan: Yer 31:1-7; MT Yer 31:10.11-12ab.13; Mat 15:21-28.
Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." (Mat 15: 26 – 28)
TUHAN menjaga kita seperti gembala menjaga kawanannya. Demikian bunyi Mazmur tanggapan hari ini yang dapat merangkum kedua bacaan hari ini.
Dalam Bacaan Pertama, Yeremia berbicara kepada orang-orang Israel yang telah pergi ke pembuangan. Kata-katanya yang menenangkan merupakan kiasan tentang bangsa Israel yang pernah menjadi budak di Mesir dan akhirnya menemukan jalan pulang ke Tanah Perjanjian dengan menyeberangi padang gurun. Yeremia menubuatkan suatu masa ketika seluruh Israe akan bersatu kembali dan akan ada sukacita yang besar.
Dalam Injil, Yesus tampak sedikit acuh tak acuh saat pertama kali berbicara kepada perempuan Kanaan yang datang kepada-Nya agar Ia menyembuhkan putrinya. Bahkan nampak sedikit kasar ketika Ia menggunakan ungkapan umum pada masa itu, menyebut perempuan penyembah berhala ini sebagai seekor anjing. Karena sangat mencintai putrinya, perempuan itu bersedia melangkah dengan iman dan terus memohon kepada Yesus. Iman perempuan itu kepada Yesus memampukannya untuk merespons dengan cara yang menunjukkan keyakinan dan kepercayaannya bahwa Yesus peduli kepada semua orang (terutama kepada mereka yang menunjukkan iman mereka), bukan hanya kepada orang-orang Yahudi. Yesus mengakui iman yang besar dan keteguhannya, dan Ia berjanji bahwa putrinya disembuhkan pada saat itu juga.
Merenungkan bacaan-bacaan hari ini, Kabar Baik janji-janji TUHAN sungguh meneguhkan. Mungkin ada orang yang bertanya, “Apakah TUHAN menepati semua janji-Nya?” Jawabannya adalah: “Ya”. Mungkin tidak pada waktu dan dengan cara yang kita harapkan, tetapi TUHAN telah menepati, sedang menepati, dan akan menepati semua janji-janji-Nya.” Meskipun bangsa Yehuda telah diasingkan, TUHAN memperbarui harapan mereka dengan menugaskan Yeremia untuk menubuatkan kembalinya mereka yang penuh sukacita. Kita juga melihat Yesus menepati janji-Nya untuk memberitakan Kabar Baik. Kadang-kadang Ia menantang orang-orang agar mereka menunjukkan iman mereka, namun Ia selalu menunjukkan belas kasihan dan rahmat kepada semua orang.
Seandainya Anda adalah perempuan Kanaan itu, apakah Anda memiliki keberanian dan iman untuk terus mencari pertolongan pada Yesus? Perempuan Kanaan itu tetap gigih meskipun ditolak oleh murid-murid Yesus. Bahkan setelah Yesus menyebutnya dengan kata-kata yang agak merendahkan dengan mengatakan, “Tidak PATUT mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing,” dia tetap teguh dalam permohonannya untuk mendapatkan pertolongan dari Yesus dengan mengatakan: “Benar Tuhan, tetapi anjing-anjing pun memakan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”
Apakah anda segigih itu dalam mencari pertolongan Tuhan?” Yesus ingin agar kita meminta, dan terus meminta; mencari, dan terus mencari; mengetuk, dan terus mengetuk. Hubungan kita dengan-Nya bukan sekadar pengalaman sekali saja. Ini adalah pencarian yang terus-menerus untuk memperdalam kedekatan kita dengan Yesus dan Bapa-Nya, dalam kesatuan Roh Kudus. Kita harus terus-menerus berpaling kepada Yesus. Kita perlu bertekun dalam usaha untuk mendekat kepada-Nya dan menerima penyembuhan-Nya. Kita juga perlu menyadari janji-janji yang telah Allah berikan untuk memelihara mereka yang telah dipanggil-Nya.
TUHAN selalu murah hati dalam memberi kepada mereka yang berseru kepada-Nya. Namun, Ia ingin kita mencari-Nya dengan tekad yang kuat. Kemurahan hati TUHAN dapat dibatasi oleh kurangnya respons kita terhadap berkat-berkat-Nya.
Mari kita renungkan hari ini: Bagaimana saya mengalami belas kasihan TUHAN dalam kehidupan sehari-hari? Apakah saya tekun dalam kehidupan doa saya, terus memohon kepada TUHAN apa yang saya rasakan benar-benar saya butuhkan, terutama jika berkaitan dengan hubungan saya dengan orang lain? Bagaimana saya menanggapi kemurahan hati-Nya? Apakah saya ingat untuk bersyukur? Bagaimana saya dapat membantu orang lain untuk tetap tekun dalam doa dan meneguhkan iman mereka?
Tuhan berilah aku iman dan pengharapan yang teguh. Amin.

