Sabda Hidup
Senin, 3 Agustus 2026, Senin Pekan Biasa XVIII
Bacaan: Yer. 28:1-17; Mzm. 119:29.43.79.80.95.102; Mat. 14:22-36.
Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Mat 14: 25 – 31)
Narasi Injil hari ini muncul tepat setelah mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang (14:13-21). Untuk pertama kalinya dalam Injil Matius, para murid diutus tanpa Yesus. Ini juga merupakan kali pertama dalam Injil Matius di mana Yesus digambarkan sedang berdoa.
Banyak orang memandang perahu tempat para murid berada sebagai lambang gereja, dan di sini perahu itu dihantam ombak. Meskipun tampaknya mustahil bagi Yesus untuk mencapai mereka, Ia datang kepada mereka di tengah malam yang paling gelap, yaitu antara pukul 03.00 dan 06.00 pagi. Dengan berjalan di atas air, Matius tidak menggambarkan Yesus sebagai sosok yang menentang hukum gravitasi, melainkan sebagai sosok yang menaklukkan kekacauan air. Yesus melakukan apa yang hanya dapat dilakukan oleh Allah (Ayub 9:8; 38:16; Mzm 77:19 dst.), dan menyatakan diri-Nya sebagai “AKU ADALAH AKU” dengan mengatakan, “Aku ini, jangan takut!”, yang mengingatkan pada nama yang digunakan Allah untuk menyebut diri-Nya dalam Keluaran 3:14.
Bagian kedua dari perikop ini, di mana Petrus meminta Yesus mengizinkannya datang kepada-Nya, hanya terdapat dalam Injil Matius. Petrus menyapa Yesus sebagaimana orang-orang percaya melakukannya dalam Injil Matius dengan menggunakan gelar “Tuhan”. “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air,” (Mat 14: 28). Hal pokok yang tampaknya ingin disampaikan Matius bukan hanya bahwa Petrus mengalihkan pandangannya dari Yesus sehingga ia mulai tenggelam, tetapi juga bahwa dengan meninggalkan perahu, ia menunjukkan keinginannya akan bukti kehadiran Yesus.
Petrus berseru dalam doa, “Tuhan, tolonglah aku,” dan Yesus mengulurkan tangan-Nya serta menyelamatkannya. Teguran yang lembut itu mengidentifikasi Petrus sebagai orang yang “beriman kecil” atau “kurang percaya”, yang dalam Injil Matius merupakan campuran antara keberanian di satu sisi dan kecemasan di sisi lain. Itu adalah iman yang bercampur dengan keraguan. Kesimpulan dari perikope ini dalam Injil Matius adalah bahwa para murid menyembah Yesus sebagai Anak Allah. Di akhir perikope, Yesus kemudian digambarkan sebagai Dia yang dapat menyembuhkan semua orang.
Perahu kehidupan kita sering kali diterjang gelombang. Gelombang-gelombang ini bisa berupa perselisihan dalam pernikahan, kecanduan, masalah antara anak-anak dan orang tua, perselisihan dengan tetangga atau rekan kerja dan sebagainya. Ketika hal ini terjadi, Tuhan terus datang kepada kita, berjalan di atas air, menenangkan kekacauan dan kebingungan dalam hidup kita, serta memberitahu kita bahwa Ia tetaplah Immanuel, Allah beserta kita. Jika kita tetap tinggal di perahu, Ia akan menuntun perahu hidup kita dengan selamat ke pantai. Jika kita memutuskan untuk meninggalkan perahu dan pergi kepada-Nya, maka kita perlu tetap memusatkan pandangan pada-Nya dan tidak membiarkan gelombang-gelombang itu membuat kita takut dan meruntuhkan semangat kita.
Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana Anda meragukan kehadiran Tuhan? Bagaimana Anda bisa kembali kepada iman Anda?
Ya Tuhan, ketika imanku melemah, selamatkanlah aku. Perkuatlah imanku. Amin.

