Sabda Hidup
Sabtu, 1 Agustus 2026, Peringatan St. Alfonsus Maria de Liguori, Hari Sabtu Imam
Bacaan: Yer. 26:11-16.24; Mzm. 69:15-16.30-31.33-34; Mat. 14:1-12.
“Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara….. (Mat 14: 8 – 10)
Hari ini kita peringati St. Alfonsus Maria de Liguori. Namun untuk permenungan kita, saya ajak anda untuk mendalami Injil Hari Sabtu Pekan Biasa XVII. Dalam Injil dikisahkan Herodes yang mendengar tentang Yesus dan merasa sangat gelisah. “Inilah Yohanes Pembaptis,” katanya, “ia sudah bangkit dari antara orang mati.” Herodes selalu dihantui oleh hati nuraninya. Meskipun ia telah membungkam suara Yohanes, ia tak mampu membungkam kebenaran yang diserukan Yohanes.
Kebenaran memang mengganggu. Yohanes Pembaptis menyampaikannya dengan jelas dan berani — dan ia membayar dengan nyawanya. Yesus pun menjadi ancaman bagi mereka yang berkuasa, bukan karena Ia mengangkat pedang, melainkan karena Ia menyingkapkan apa yang palsu, tidak adil, dan korup. Itulah paradoks kebenaran: meski membebaskan, kebenaran juga menyakitkan; meski menyembuhkan, kebenaran juga menantang.
Di dunia kita saat ini, kita sering kali tergoda untuk diam atau mengikuti arus — untuk mencari pengakuan, melindungi reputasi kita, atau mempertahankan kenyamanan. Seperti Herodes, kita mungkin lebih takut kehilangan muka atau kekuasaan daripada kehilangan nyawa kita. Namun, Injil mengingatkan kita: kebenaran tidak dapat dinegosiasikan. Kita dipanggil untuk hidup sesuai dengannya, menyuarakannya, dan — kadang-kadang — menderita karenanya.
Ada peringatan lain di sini. Herodes “kehilangan akal sehatnya,” bukan hanya secara kiasan, tetapi juga secara moral. Ia membiarkan nafsu, kesombongan, dan ketakutan mengendalikan tindakannya. Seberapa sering kita melakukan hal yang sama — bertindak karena ego atau citra diri, dan bukan karena keyakinan akan kebenaran? Injil memanggil kita untuk kembali kepada disiplin diri, kejujuran, dan kerendahan hati.
Santo Yohanes Pembaptis mengingatkan kita bahwa ketenaran akan pudar, tetapi kebenaran tetap abadi. Herodes dikenang sebagai seorang yang lemah dan penakut. Yohanes dikenang sebagai suara yang setia, yang berseru menuntut keadilan dan pertobatan.
St. Alfonsus Maria de Liguori yang kita peringati hari ini juga berkata: “Hati nurani yang benar adalah yang menunjukkan kebenaran; oleh karena itu, seseorang berdosa jika bertindak bertentangan dengannya.”
Di manakah suara Anda hari ini? Apakah Anda memikul salib kebenaran dengan keberanian? Apakah Anda bebas dari rasa takut akan pendapat orang lain? Semoga kita hidup dengan integritas, berbicara dengan kasih, dan mengikuti Kristus dengan keberanian—dengan tetap menjaga pikiran dan hati kita berakar pada-Nya.
Tuhan, bantulah aku untuk selalu berpegang dan memperjuangkan kebenaran. St. Alfonsu Maria de Liguori, doakanlah kami. Amin.

