Sabda Hidup
Rabu, 15 Juli 2026, Rabu Pekan Biasa XV, Peringatan Wajib St. Bonaventura
Bacaan: Yes 10:5-7.13-16; Mzm 94:5-6.7-8.9-10.14-15; Mat 11:25-27
“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil,” (Mat 11: 25).
Bacaan Injil hari ini diawali dengan doa syukur Yesus. Ia bersyukur kepada Bapa di surga karena telah mengungkapkan rahasia-rahasia Allah kepada orang-orang kecil. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “orang kecil.” Terjemahan-terjemahan lama berbunyi: “anak-anak kecil” atau “kanak-kanak” atau “kanak-kanak kecil”.
Sementara para ahli Taurat, cendekiawan agama, dan penguasa Bait Suci menolak Yesus, Sang Sabda Allah, orang-orang kecil, sederhana dan biasa di desa-desa justru menerimanya. Para intelektual yang menganggap diri mereka pintar berusaha mencari-cari kesalahan pada Yesus, tetapi orang-orang miskin, orang sakit, dan mereka yang hidup di pinggiran masyarakat berbondong-bondong mendatangi-Nya demi pesan penghiburan, penerimaan, dan kasih-Nya. Yesus tidak mengutuk kebijaksanaan dan kecerdasan, tetapi yang Ia kecam adalah kesombongan.
Setelah doa syukur itu, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Anak Allah, menjelaskan misi-Nya, yakni untuk mengungkapkan wajah sejati Allah kepada umat manusia. “Tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” Penginjil Yohanes mengatakannya dengan cara berbeda ketika Yesus berkata, “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Inilah yang dikatakan Yesus: Jika kamu ingin melihat seperti apa Allah itu, seperti apa pikiran-Nya, seperti apa hati-Nya, siapa Allah itu, dan hubungan apa yang Allah miliki dengan manusia, maka lihatlah Aku!
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, “Hati, bukan pikiran, yang menjadi tempat tinggal Injil.” Bukan pengetahuan kita yang menghalangi kita dari kasih karunia Allah, melainkan kesombongan yang menjauhkan kita darinya. Banyak orang di zaman kita terjebak dalam bahaya ini. Karena mereka menganggap bahwa percaya kepada Allah adalah kebodohan, mereka menolak Allah. Dibutuhkan kerendahan hati untuk menerima Injil. Bagi mereka yang memandang segala sesuatu dengan kegembiraan dan keterbukaan hati seorang anak, misteri-misteri Allah akan terungkap.
Sikap “Aku tahu segalanya” atau “Tak ada yang perlu memberitahuku” akan menimbulkan masalah bagi sebuah komunitas, keluarga, atau Gereja. Ini merupakan tantangan bagi kita, terlebih para pemimpin komunitas Gereja di zaman kita, untuk menyingkirkan kesombongan dan ego kita, serta bersikap rendah hati di hadapan umat Allah.
Ciri anak kecil adalah keterbukaan, rasa takjub, dan sikap tidak menghakimi. Sikap-sikap seperti itulah yang perlu kita teladani. Untuk itu diperlukan kerendahan hati. Kita menjadi rendah hati ketika kita menyadari bahwa kita tidak memiliki semua jawaban. Kerendahan dan keterbukaan hati memampukan kita berdiri dengan rasa takjub di hadapan misteri Allah. Mari kita belajar dari orang kudus kita hari ini, St. Bonaventura. Baginya kerendahan hati adalah fondasi mutlak dari segala keutamaan dan syarat utama untuk mencapai hikmat sejati. Ia terkenal dengan pesannya agar kita “jangan belajar sombong dalam sekolah kerendahan hati”. Kerendahan hati membuka pintu bagi akal budi untuk diterangi oleh Allah. Tanpanya, ilmu pengetahuan hanya akan menjadi kesombongan intelektual yang merusak.
Ya Tuhan, berikanlah aku rahmat untuk menjadi anak-Mu, yang selamanya bergantung pada kasih-Mu. Biarlah aku selalu terbuka dan peka terhadap apa yang terus Engkau sampaikan kepadaku. Amin.

