mengikuti jejak kristus

Mengapa Ada Penganiayaan?

Sabda Hidup
Sabtu, 11 Juli 2026, Sabtu Pekan Biasa XIV, Peringatan Wajib St. Benediktus
Bacaan: Yes 6:1-8Mzm 93:1ab.1c-2.5Mat 10:24-33.

“Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka,” [Mat 10: 28]

Tuhan itu maha baik, Dia maha tahu, dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Dengan semuanya itu, kita pun bertanya-tanya: mengapa Tuhan membiarkan penderitaan dan penganiayaan menimpa terutama mereka yang menjadi milik-Nya, mereka yang menaruh iman kepada-Nya? Ini adalah pertanyaan yang telah ada sejak dahulu kala.     

Dengan merenungkan sabda Yesus dalam Injil hari ini, kita dapat melihat sekilas logika ilahi mengenai beragam nilai penderitaan bagi orang-orang beriman:

  • Belajar menjadi murid melalui pengalaman. Melalui rasa sakit dan penderitaan, kita menghidupkan kembali dalam diri kita sendiri tanda-tanda Salib Sang Guru Ilahi yang sendiri telah menjalani sengsara dan kematian-Nya. Yesus sendiri berkata: “Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya.”
  • Nilai Penebusan. Sengsara dan kematian Yesus adalah cara-Nya untuk menebus kita. Penebusan itu datang dengan harga yang sangat mahal. Seorang murid yang menderita tidak boleh sekadar menanggungnya. Ia harus menjalani rasa sakit dan penderitaan atas cara penebusan: mempersembahkan setiap luka sebagai silih dan penebusan atas dosa-dosa di sekitar kita. Selain itu, ia dapat mempersembahkan segalanya sebagai perantaraan dan permohonan demi kebaikan orang lain. Penderitaan dapat menjadi kesempatan untuk mempersembahkan diri dalam kesatuan dengan Yesus demi kebaikan semua orang.
  • Penyerahan diri kepada Bapa di Surga. Sisi dewasa dalam diri kita ingin mengetahui segalanya. Kita tidak dapat dengan mudah mengatakan “ya” ketika belum mengetahui sepenuhnya tentang sesuatu yang dihadapkan kepada kita. Kita menuntut penjelasan. Sebaliknya, seorang anak akan mengatakan “ya” dan taat bahkan tanpa pengetahuan yang jelas dan menyeluruh tentang hal-hal tersebut. Anak-anak tidak bergantung pada pemahaman mereka sendiri, melainkan pada kepercayaan dan keyakinan yang mereka miliki terhadap Bapa yang mengasihi mereka.

Dalam kisah-kisah dan ajaran-Nya, Yesus menekankan ke-Bapaan Allah. Hal ini jelas merupakan jaminan dan sumber keyakinan-Nya dalam pelayanan-Nya di dunia. Pada awal pelayanan-Nya saat pembaptisan di Sungai Yordan, dan sebelum perjalanan terakhir ke Yerusalem di mana Yesus harus menjalani Penderitaan-Nya, ikatan Bapa-Anak ditonjolkan dalam teofani di mana Bapa menegaskan Yesus: “Engkaulah Anak-Ku, yang Kukasihi.”

Apa pengalaman paling berat yang pernah Anda alami terkait rasa sakit dan penderitaan? Makna apalah yang anda temukan dari pengalaman tersebut?

Tuhan terkasih, aku mempersembahkan segala rasa sakit dan penderitaanku sebagai silih dan penebusan dosa-dosa dunia. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *