st peter and st paul

Memelihara dan Mewartakan Iman

Sabda Hidup
Senin, 29 Juni 2026, Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus
Bacaan: Kis. 12:1-11Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-92Tim. 4:6-8,17-18Mat. 16:13-19.

“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16: 19).

Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus mengajak kita untuk menghidupkan kembali semangat misioner kita guna membawa Kristus kepada sesama. Petrus dan Paulus mungkin tampak sebagai pasangan yang tak terduga untuk dirayakan bersama! Petrus, sang nelayan, adalah orang pertama yang menjawab panggilan Yesus; sedangkan Paulus, seorang Farisi yang pernah menganiaya orang-orang Kristen, adalah orang terakhir yang dipanggil sebagai ‘rasul’. Terlepas dari perbedaan latar belakang pendidikan, budaya, dan watak mereka, keduanya mengalami pertobatan hati yang mendalam dan penuh semangat dalam menyebarkan pesan Yesus, Guru mereka.

Simon sangat mencintai Yesus, namun pada saat kelemahannya, ia menyangkal Gurunya itu sebanyak tiga kali. Namun, ia dipilih untuk menyebarkan Kabar Baik. Demikian pula halnya dengan Saulus yang berapi-api, yang berusaha menghancurkan para pengikut Kristus, namun dipilih untuk menjadi Paulus, rasul bagi bangsa-bangsa lain dan pengajar Injil.

Hari ini, saat kita mengucapkan Pengakuan Iman, kita menegaskan iman kita pada “Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.” Kita menyebut diri kita Apostolik karena kita melanjutkan karya para Rasul, yang dipercayakan kepada mereka oleh Tuhan. Kita adalah penerus mereka, melanjutkan Misi yang mereka mulai.

Di Kaisarea Filipi, Yesus mengajukan dua pertanyaan kepada para murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” dan “Apa katamu, siapakah Aku ini?”?” Jawaban atas pertanyaan pertama itu sederhana: orang-orang menganggap-Nya sebagai salah satu tokoh terkemuka dalam sejarah—Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang dari para nabi (ay. 13-14). Namun, kekaguman orang-orang itu tidak membuat Yesus terkesan.

Jawaban Petrus atas pertanyaan kedua, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini,” tepat sasaran. Itulah pengakuan iman Petrus — “Engkau adalah Mesias!” Dan Yesus mempercayakan Misi-Nya kepadanya: “Engkau adalah Kefas — Petrus — dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku….” Yesus mengakui iman Petrus — yang sekuat batu yang digunakan untuk membangun. Dalam bahasa Aram, “Kefas” berarti batu-batu bangunan. Dengan batu-batu iman para murid ini, Yesus akan mendirikan Gereja-Nya. Dan “batu karang” yang kokoh dan tak tergoyahkan itu selalu adalah Kristus sendiri. Itulah sebabnya Santo Paulus berkata, “Tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” (1 Kor 3:11).

Petrus juga menerima kunci-kunci dan kuasa untuk mengikat dan melepaskan. Para rabi menggunakan analogi kunci untuk merujuk pada ‘wewenang menafsirkan Taurat.’ Para ahli Taurat dan guru-guru Hukum Taurat memegang “Kunci-kunci Taurat.” Kini, Yesus memberdayakan Petrus dan para rasul untuk membuka Kitab Suci. Mereka kini memiliki Misi untuk mengungkapkan wajah sejati Allah kepada umat manusia melalui Kitab Suci. Yesus mempercayakan kepadanya tugas untuk membuka lebar-lebar pintu masuk Injil Kristus bagi semua orang.

Jika bacaan Injil berbicara tentang Petrus, bacaan kedua berbicara tentang Paulus. Dalam bacaan itu Paulus menunjuk pada Tuhan yang “telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya,” (2 Tim 4: 17). Paulus adalah pewarta Injil yang unggul bagi orang-orang kafir di seluruh Kekaisaran Romawi. Dia mewartakan Injil untuk yang terakhir kalinya lebih jauh ke barat, di kota Roma, di mana, seperti Petrus, dia menjadi martir karena imannya kepada Kristus. Kutipan dari suratnya yang kedua kepada Timotius (bacaan kedua hari ini) mungkin ditulis dari penjara di Roma. Sebuah tulisan yang sangat menarik: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman,” (2 tim 4: 7). Penggambaran dengan pertandingan dan perlombaan menunjukkan bahwa “memelihara iman” adalah perjuangan bagi Paulus; itu tidak mudah baginya, sama seperti memelihara iman juga tidak mudah bagi Petrus.

Memelihara iman tidak selalu mudah bagi kita semua. Surat-surat Paulus menunjukkan bahwa dia sangat sadar bahwa pemeliharaan iman itu bukan usahanya sendiri; Tuhanlah yang memampukannya untuk memelihara iman. “Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku,” kata Paulus. Tuhanlah yang memberi kita semua kekuatan dan kemampuan untuk memelihara iman. Kesetiaan-Nya kepada kita memungkinkan kita untuk setia kepadaNya; Kasih setia-Nya mendorong kita untuk terus kembali kepada-Nya bahkan setiap kali kita mengalami kegagalan. Kesaksian tentang kesetiaan Petrus dan Paulus akhirnya berbicara tentang kesetiaan Tuhan kepada kita semua. Semoga kita semua dapat mengakhiri pertandingan dengan baik, memelihara dan mewartakan iman, sampai di garis akhir!

Tuhan, Allah kami, dalam diri Petrus dan Paulus, dua pilar Gereja-Mu, Engkau telah mencontohkan dua ciri dari Tubuh Putra-Mu: kesetiaan pada tradisi yang hidup dan semangat misioner. Semoga Roh Yesus senantiasa menyertai kami agar kami selalu memberi ruang bagi keduanya, sehingga dalam keragaman karunia, kami semua dapat bersatu dalam satu kesetiaan dan satu iman, dalam Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *