Sabda Hidup
Sabtu, 27 Juni 2026, Sabtu Pekan Biasa XII
Bacaan: Rat 2:2.10-14.18-19; Mzm 74:1-2.3-5a.5b-7.20-21; Mat 8:5-17.
“Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (Mat 8: 8)
Injil hari ini bercerita tentang seorang perwira yang datang kepada Yesus, memohon agar Ia menyembuhkan hambanya. Hanya dengan sepatah kata dari Yesus, kesehatan hamba perwira itu dipulihkan sebagai jawaban atas iman yang luar biasa dari perwira yang bukan Yahudi itu. Ia adalah teladan iman bagi kita semua.
Iman tidak selalu merujuk pada kehidupan rohani kita; iman memiliki makna yang sangat sekuler. Tanpa iman, hidup menjadi mustahil. Imanlah yang membuat kita percaya bahwa makanan yang kita makan tidak beracun, bahwa para pengemudi yang mengemudikan bus dan kereta api kita setiap hari dapat dipercaya, dan bahwa para dokter kita dapat dipercaya. Tentu saja, mereka bisa mengecewakan kita, tetapi kita tetap mempertahankan iman kepada mereka.
Namun, iman kepada Yesus berbeda. Iman ini adalah respons hati manusia terhadap cinta dan belas kasih Allah yang tak terbatas. Iman adalah anugerah dari Allah. Salah satu contoh iman yang paling mengharukan dan kuat dalam Perjanjian Baru adalah kisah dalam Injil hari ini. Tindakan iman perwira itu dikenang setiap kali kita merayakan Ekaristi. “Tuhan, aku tidak layak Engkau masuk ke bawah atap rumahku; tetapi katakan saja sepatah kata…”
Merenungkan perikope ini, mendiang Paus Fransiskus berkata, “Tuhan takjub atas iman sang perwira. Sang perwira melakukan perjalanan untuk menemui Tuhan; ia melakukannya dengan iman. Ia bertemu dengan Tuhan dan merasakan sukacita karena ditemui-Nya. Ketika kita membiarkan diri kita ditemui oleh Yesus, Ia masuk ke dalam diri kita dan memperbarui kita dari dalam.”
Roh Kudus bekerja dalam diri perwira ini, menggerakkannya menuju iman yang mendalam. Penting untuk memahami dan menghargai bahwa Roh Kudus selalu bekerja dalam kehidupan orang-orang – siapa pun mereka, apa pun yang telah mereka lakukan.
Matius juga menceritakan tentang Yesus yang masuk ke rumah Petrus dan menyembuhkan ibu mertuanya. Matius menceriterakan peristiwa itu sebagai bagian dari pengajaran iman. Kemarin kita merenungkan Yesus yang menjamah orang kusta. Hari ini, kita melihat-Nya menjamah seorang perempuan yang sakit. Kata Yunani yang dipilih oleh penulis Injil ini mengisyaratkan kebangkitan, bangkit dari kematian dari keadaan “tanpa kehidupan.” Perempuan yang sakit itu melambangkan seluruh umat manusia yang didekati Yesus untuk memperkenalkan kehidupan baru. Kita sendiri diundang untuk seperti Yesus, menyentuh kehidupan orang-orang di sekitar kita.
Setelah disembuhkan, ibu mertua Petrus mulai melayani Yesus dan para murid. Inilah ciri khas seseorang yang telah dibangkitkan kembali oleh Kristus: pelayanan kepada sesama yang membutuhkan. Sebelum hal itu terjadi, penyembuhan belum terjadi atau masih belum sempurna.
Injil diakhiri dengan Yesus mengusir setan-setan dan menyembuhkan banyak orang sakit yang dibawa ke rumah Petrus. Penting untuk dipahami bahwa “Rumah Petrus” merujuk pada Gereja. Di dalam Gereja-lah kita memperoleh penyembuhan dan kehidupan baru.
Tuhan, Engkau telah menjamah dan menyembuhkan kami. Semoga kehadiran kami pun di manapun membawa kesembuhan. Amin

