hati tersuci santa perawan maria

Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria

Sabtu, 13 Juni 2026, Peringatan Hati Tak Bernoda St. Perawan Maria
Bacaan: Yes. 61:9-11; MT 1Sam. 2:1,4-5,6-7.8abcdLuk. 2:41-51.

“Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya,” (Luk 2: 51).

Seolah-olah berada dalam bayang-bayang Hari Raya Hati Kudus Yesus, Gereja menetapkan peringatan wajib Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria pada hari setelah Hari Raya Hati Kudus Yesus. Penting bagi kita untuk mengingat dan merenungkan Hati Maria setelah merenungkan makna Hati Yesus. Inilah hati yang rendah hati, hati yang terbuka, hati yang mencintai, hati seorang ibu, Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria. Jika kita meneladani Yesus, yang lemah lembut dan rendah hati, bukankah kita juga harus meneladani dia dari siapa hati itu mengambil kedagingannya? Kedua devosi ini terkait erat satu sama lain karena “persatuan Bunda dengan Puteranya dalam karya penyelamatan itu terungkap sejak saat Kristus dikandung oleh santa Perawan hingga wafat-Nya,” (KGK no. 964, 1172).

Injil Lukas menampilkan Maria kepada kita sebagai teladan kaum beriman yang “menyimpan” segala perkara di dalam hatinya dan bertindak berdasarkan Sabda Allah. Seperti kita, sering kali Maria juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kitab Suci menampilkan dia yang kagum, bingung dan bahkan cemas. Namun ia “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya.” Sebagai tanah yang baik, Maria menerima benih Sabda Allah yang datang kepadanya melalui berbagai pengalaman hidup, ia merenungkannya di dalam hatinya, dan benih itu tumbuh serta menghasilkan banyak buah.

Oleh karena itu, Peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria mengundang kita yang hidup dalam dunia penuh hiruk-pikuk dan kebisingan ini untuk memiliki hati yang kontemplatif. Hanya dengan hati yang kontemplatif, kita dapat mengingat masa lalu kita dalam retrospeksi dan melihat tangan Tuhan dalam sejarah pribadi kita. Dengan hati yang kontemplatif, kita menjadi lebih sadar akan kehadiran Allah di masa kini, dan itu akan memperdalam pengharapan dan keyakinan kita kepada Allah untuk melangkah ke masa depan.

Marilah kita menjadikan Maria sebagai teladan dan mempraktekkan keutamaan-keutamaannya dalam hal iman yang penuh kepercayaan, kerendahan hati yang melayani, serta kesiapan untuk melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita sungguh menjadi anak-anak yang tak bernoda dari Bunda Surgawi yang Tak Bernoda.

Tuhan Allah kami, kami berterima kasih kepada-Mu atas kasih yang Engkau berikan kepada Maria, Bunda Putera-Mu dan Bunda kami. Semoga seperti Maria, kami selalu mencari dan melaksanakan kehendak-Mu. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *