Minggu, 19 April 2026, Minggu Paskah III Tahun A
Bacaan: Kis. 2:14,22-33; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; 1Ptr. 1:17-21; Luk. 24:13-35.
“Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit…" (Luk 24: 33 – 34).
Saat itu bulan April tahun 33 Masehi. Dua murid Yesus yang telah kehilangan seluruh harapan mereka akibat pembunuhan Yesus, Guru dan Nabi mereka, sedang dalam perjalanan ke Emaus, sebuah desa yang berjarak tujuh mil dari Yerusalem. Peristiwa ini juga memunculkan sejumlah pertanyaan dalam diri kita: Mengapa para murid tidak dapat mengenali Yesus sepanjang perjalanan dan percakapan mereka sepanjang hari? Injil Lukas menyebutkan bahwa ada sesuatu yang menghalangi mata mereka sehingga tidak dapat mengenali-Nya – semacam kebutaan!
Hal ini menunjukkan bahwa Kristus yang Bangkit memiliki penampilan yang berbeda, sehingga Maria Magdalena, Petrus, dan para rasul lainnya tidak dapat mengenali-Nya saat pertama kali bertemu setelah kebangkitan. Sebab, kebangkitan dari kematian tidak berarti kembali ke kehidupan sebelumnya, melainkan memasuki “Dunia Allah.”
Kita juga harus memperhatikan kalimat yang menggambarkan Yesus sedang makan bersama para murid: “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.” Lukas secara eksplisit menggambarkan perayaan Ekaristi. Sementara mereka masih di jalan, Yesus memimpin liturgi Sabda: “Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi” [ay. 27]. Dan kemudian pada saat Pemecahan Roti, mereka mengenali Tuhan.
Lukas menulis Injil sekitar tahun 80-90 M. Hampir semua saksi akan Tuhan yang Bangkit telah meninggal. Para rabi mengajarkan bahwa Mesias akan hidup seribu tahun. Mereka mengharapkan Mesias yang mulia, raja yang perkasa dan menang. Namun, Yesus justru dikalahkan dan dibunuh. Impian mereka runtuh, dan rencana mereka gagal.
Inilah kisah komunitas-komunitas Kristen Lukas. Mereka dianiaya, menjadi korban penyiksaan. Mereka melihat kemenangan kejahatan; orang-orang jahat lebih beruntung daripada orang-orang yang murni hatinya. Mereka berada dalam keadaan pikiran yang sama dengan para murid yang sedang menuju Emmaus. Hal yang sama juga sering terjadi di masa kini. Banyak orang Kristen bertindak demikian di hadapan kesulitan dan penganiayaan: sebagian meninggalkan komunitas mereka; yang lain menolak jawaban yang datang dari iman.
Ini adalah kisah kita sendiri. Kita pun seperti dua murid yang menuju Emmaus. Kita tahu betul apa yang Yesus lakukan dan ajarkan. Namun, pengetahuan ini tidak lengkap. Tanpa iman pada kebangkitan, kekalahan kita hanyalah kekalahan, dan hidup berakhir dengan kematian, sebuah tragedi yang tak bermakna.
Saat rencana dan mimpi kita hancur berantakan, saat kebaikan nampaknya kalah dari kejahatan, saat kita mengalami kesulitan, setiap kali kita putus asa dalam iman, setiap kali harapan kita seolah-olah disalibkan, apakah kita juga lari meninggalkan segalanya? Apakah kita kehilangan iman? Apakah kita lari meninggalkan komunitas kita?
Unsur penting dari perikope ini: para murid di jalan ke Emmaus, begitu mereka mengenali Tuhan, mereka bergegas memaklumkan penemuan mereka kepada saudara-saudari mereka dan bersama mereka meneguhkan iman mereka: ‘Tuhan sungguh telah bangkit! Iman bukanlah kehidupan dalam kesendirian. Kita beriman bersama-sama. Bersama-sama kita meneguhkan iman akan Kristus yang bangkit. Kristus hidup!
Tuhan Yesus Kristus, bukalah mata hatiku untuk mengenali kehadiran-Mu bersamaku dan untuk memahami kebenaran firman-Mu yang menyelamatkan. Teguhkan imanku bahwa Engkau berjalan bersamaku dalam setiap peristiwa hidupku. Amin.

