pekerja kebun anggur

Pemilik Sejati Kebun Anggur

Jumat 6 Maret 2026, Jumat Pekan Prapaskah II
Bacaan: Kej. 37:3-4,12-13a,17b-28Mzm. 105:16-17,18-19,20-21Mat. 21:33-43,45-46.

“Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya…. Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” (Mat 21: 41. 43)

Di dunia yang serba cepat sekarang ini, kita sering jatuh ke dalam anggapan bahwa kita adalah satu-satunya penguasa atas hidup kita. Perumpamaan tentang kebun anggur mengingatkan kita akan kebenaran bahwa hidup kita bukanlah milik kita sendiri. Tuhanlah pemilik hidup kita yang sesungguhnya dan telah mempercayakan karunia kehidupan itu kepada kita masing-masing, meminta kita untuk memeliharanya dan menghasilkan buah-buah kasih, keadilan, dan belas kasih. Namun, kesombongan dapat mengaburkan pandangan kita, membuat kita bertindak sebagai pemilik dan bukan sebagai penggarap. Ketika kita menggenggam kendali erat-erat, kita lupa bahwa segala sesuatu yang kita miliki – talenta, relasi, dan bahkan nafas kita – adalah anugerah dari Tuhan.

Seperti para penggarap kebun anggur dalam perumpamaan hari ini, kita dapat menjadi posesif dan berpusat pada diri sendiri. Kesombongan membuat kita percaya bahwa kita punya semua jawaban, memikat kita untuk mengabaikan utusan Tuhan dan kebenaran-Nya. Seberapa sering kita mengabaikan suara-suara yang mengoreksi kita, atau menolak bimbingan Roh Kudus? Kata-kata kita yang kasar, hati kita yang keras, dan penolakan untuk mengampuni dapat mengubah kita menjadi “pembunuh” utusan-utusan Tuhan, melukai orang-orang di sekitar kita dan menutup hati terhadap kasih karunia Allah.

Namun, kendati pemberontakan kita, Allah tidak pernah berhenti mengulurkan tangan-Nya. Karunia terbesar-Nya adalah Putera-Nya, Yesus, yang memanggil kita kembali kepada-Nya. Pertanyaannya adalah – apakah kita akan menyambut-Nya atau mengusir-Nya?

Upaya mengusir Putra Allah dari kebun anggur hidup kita terus berlanjut hingga hari ini di dalam komunitas-komunitas Gereja kita. Betapa banyak tantangan yang menghadang sakramen pernikahan, nilai-nilai hidup keluarga, perdebatan mengenai aborsi, dan banyak isu-isu lainnya – banyak orang di dalam Gereja yang lebih memilih untuk mengikuti nilai-nilai dunia. Kristus dan Injil-Nya dianggap sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman dan kuno, dan banyak orang Kristen memilih untuk mengabaikannya.

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk merenungkan peran kita sebagai hamba yang bertanggungjawab. Apakah kita sedang mengolah kebun anggur kehidupan kita dengan keadilan, cinta, dan belas kasih? Marilah kita berbalik kepada Yesus dengan kerendahan hati, mempersembahkan keberhasilan dan kegagalan kita. Dia selalu siap untuk mengampuni dan membimbing kita. Kiranya kita membuka hati kita, mengenali Pemilik sejati, dan menghasilkan buah-buah yang memberi kehidupan bagi dunia.

Tuhan, sadarkanlah aku selalu, bahwa Engkaulah pemilik kebun anggur kehidupanku yang sesungguhnya dan Engkau telah mempercayakannya kepadaku untuk menggarapnya agar menghasilkan buah-buah kasih, kebenaran dan keadilan. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *