Kamis, 5 Maret 2026, Kamis Pekan Prapaskah II
Bacaan: Yer. 17:5-10; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 16:19-31.
"Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.” (Luk 16: 19 – 21)
Injil mengajak kita selama masa Prapaskah ini untuk kembali menemukan makna cinta melalui belas kasih dan kemurahan hati. Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus dalam Injil hari ini menantang kita dengan kenyataan ketidakpedulian — kebutaan yang menutup hati terhadap penderitaan orang lain.
Orang kaya tanpa nama, yang dikelilingi oleh kekayaan dan kemewahan, menderita penyakit yang lebih parah daripada Lazarus. Kebutaan rohaninya mencegahnya melihat penderitaan di ambang pintu rumahnya sendiri. Paus Fransiskus memperingatkan bahwa semangat duniawi semacam ini serupa dengan lubang hitam — menelan segalanya dan memadamkan cinta. Tragedi orang kaya bukanlah kekayaannya, melainkan ketidakpeduliannya — kegagalannya mengenali kehadiran Allah dalam diri orang miskin.
Masa Puasa adalah waktu untuk membangkitkan hati kita dari tidur ketidakpedulian. Teriakan orang miskin bukan hanya panggilan minta bantuan, tetapi juga pengingat akan tanggung jawab kita. Mengabaikan penderitaan orang lain sama dengan mengabaikan Allah sendiri, karena belas kasih yang kita tunjukkan kepada orang lain adalah ukuran belas kasih Allah dalam hidup kita. Seperti yang diingatkan oleh mendiang Paus Fransiskus, “Jika aku tidak membuka pintu hatiku untuk orang miskin, pintu itu juga tetap tertutup bagi Allah.”
Kata-kata Santo Basilius Agung menantang kita lebih jauh: “Roti yang kamu simpan adalah milik orang lapar.” Apa yang tidak kita gunakan segera bukanlah milik kita — itu dimaksudkan untuk mereka yang membutuhkan.
Pada masa Prapaskah ini, marilah kita membuka hati kita, membiarkan rahmat Allah mengalir melalui kita. Marilah kita mencari dan mengenali Lazarus-Lazarus di sekitar kita, menawarkan tidak hanya bantuan materi tetapi juga kehangatan belas kasih, martabat, dan cinta.
“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7).
Tuhan, bukalah mata hati kami, agar kami dapat mengenali Engkau dalam diri saudara-saudari di sekitar kami, terutama mereka yang tersingkir dan berkekurangan. Amin.

