puasa

Puasa Yang Dikehendaki Tuhan

Jumat, 20 Februari 2026, Jumat sesudah Rabu Abu
Bacaan: Yes. 58:1-9aMzm. 51:3-4,5-6a,18-19Mat. 9:14-15.

"Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mat 9: 15)

Berpuasa adalah salah satu praktek kesalehan yang wajib ditaati oleh semua orang Yahudi, di samping berdoa dan bersedekah. Praktek-praktek kesalehan itu diwariskan kepada kita umat Kristiani. Akan tetapi puasa yang dikehendaki oleh Yesus adalah tindakan berdasarkan kesadaran iman yang mendalam dan jujur, bukan sekadar mengikuti tradisi atau bahkan untuk memamerkan kesalehan pribadi kepada sesama. Maka:

  • Puasa yang dikehendaki Yesus adalah upaya membersihkan diri dari kecenderungan yang tidak sehat, yang tumbuh dalam diri kita dan mengolahnya sehingga mendatangkan kebaikan bagi sesama dan diri sendiri.
  • Puasa dilakukan tanpa menuntut orang lain untuk melakukan hal yang sama, apalagi menuntut orang lain menciptakan suasana yang mendukung kita untuk berpuasa. Berpuasalah dalam keseharian kita.
  • Paus Fransiskus pernah berkata: “Ketidakpedulian kepada sesama kita dan Tuhan juga merupakan godaan nyata bagi kita orang Kristen. Setiap tahun selama masa Prapaska kita perlu mendengar sekali lagi suara para “nabi” yang berseru dan mengusik hati nurani kita. Kita menjadi tidak mampu merasakan belarasa pada jeritan orang miskin, menangis bersama orang lain yang menderita, dan merasa perlu untuk membantu mereka, seolah-olah semua ini adalah tanggung jawab orang lain, bukan kita sendiri.”
  • Paus Leo XIV dalam pesan Masa Prapaskah juga menegaskan: “Puasa berfungsi untuk membedakan dan mengatur “nafsu” kita, untuk menjaga rasa lapar dan haus kita akan keadilan tetap terjaga, membebaskannya dari keputusasaan dan mengarahkannya untuk menjadikannya sebagai doa dan tanggung jawab terhadap orang lain.” Lebih lanjut ia mengatakan bahwa puasa “memungkinkan kita tidak hanya untuk mendisiplinkan keinginan, untuk memurnikan dan membebaskannya, tetapi juga untuk memperluasnya, sehingga keinginan-keinginan itu berpaling kepada Tuhan dan diarahkan untuk melakukan kebaikan.” Agar puasa tetap berjalan sesuai dengan kebenaran Injilnya dan menghindari godaan untuk membangkitkan hati dengan kesombongan, puasa harus selalu dijalani dalam iman dan kerendahan hati

Mari kita perhatikan sabda Nabi Yesaya pada bacaan pertama: “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu,” (Yes 58: 6 – 8).

Bagaimanakah anda berpuasa? Apakah Anda berpuasa sebagai tindakan sadar untuk membangkitkan semangat Anda, ataukah berpuasa bagi Anda hanyalah suatu tradisi? Apa dimensi sosial dan apostolik dari puasa Anda?

Tuhan Yesus, kosongkanlah aku dari kesombonganku dan penuhi aku dengan kerendahan hati-Mu, keadilan-Mu, dan kasih-Mu. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *