jesus calls peter and andrew

Meninggalkan Pantai Kehidupan Yang Biasa

Minggu, 25 Januari 2026, Hari Minggu Biasa III Tahun A, Hari Minggu Sabda Allah
Bacaan: Yes. 8:23b-9:3Mzm. 27:1,4,13-141Kor. 1:10-13,17Mat. 4:12-23

Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat 4: 13 – 17)

Awal pelayanan publik Yesus ditandai dengan perubahan tempat dan tujuan yang signifikan. Setelah Yohanes Pembaptis ditangkap, Yesus meninggalkan Nazaret dan menetap di Kapernaum, sebuah desa nelayan kecil di tepi Danau Galilea. Perpindahan ini bukanlah kebetulan. Bagi Injil Matius, hal ini memiliki makna teologis yang mendalam: cahaya keselamatan Allah tidak bersinar dari pusat agama di Yerusalem, melainkan dari wilayah pinggiran yang beragam budaya dan lama dianggap mencurigakan oleh elit agama.

Matius menafsirkan pilihan Yesus sebagai pemenuhan nubuat Yesaya: “Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka.” Galilea telah banyak mengalami invasi, pendudukan, dan penderitaan. Wilayah itu melambangkan tanah yang diliputi oleh kematian dan ketidakpastian. Namun, justru di sanalah Yesus mulai memberitakan Injil, mengungkapkan bahwa inisiatif penyelamatan Allah sering kali dimulai di tempat di mana harapan tampak paling lemah.

Warta publik pertama Yesus amat singkat namun revolusioner: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.” Ini bukan ancaman, melainkan pemakluman. Kenyataan baru telah tiba. Kerajaan Allah tidak lagi jauh atau masa depan; ia sudah hadir. Namun, untuk mengenali-Nya, diperlukan perubahan pikiran yang radikal. Kata Yunani metanoia berarti lebih dari penyesalan atas dosa—ia menuntut transformasi total cara berpikir, menilai, dan hidup seseorang.

Yesus membandingkan dua kerajaan. Tatanan lama, yang dibentuk oleh kriteria manusia, mengutamakan kekuasaan, persaingan, kekayaan, dan dominasi. Yang kuat menang, dan yang lemah tunduk. Dalam Kerajaan Allah, nilai-nilai ini dibalik. Apa yang dulu dianggap remeh—kerendahan hati, belas kasihan, pengampunan, pelayanan, dan kedermawanan—kini menjadi penentu. Pembalikan ini menantang tidak hanya struktur sosial tetapi juga prioritas pribadi. Memegang teguh logika dunia lama, Yesus memperingatkan, pada akhirnya akan membawa kegagalan.

Di tepi danau, Yesus memanggil murid-murid pertamanya. Simon Petrus dan Andreas adalah nelayan, terlibat dalam bentuk pekerjaan yang paling melelahkan dan rendah hati dalam profesi mereka. Yesus mengundang mereka bukan dengan janji imbalan, tetapi dengan sebuah misi: “Ikutlah Aku, dan Aku akan menjadikan kamu penjala manusia.” Mereka merespons segera, meninggalkan jala mereka. Dalam simbolisme Alkitab, jala melambangkan segala sesuatu yang mengikat dan membatasi kebebasan—ketakutan, kompromi, keterikatan pada keamanan, atau kebutuhan akan kontrol. Mengikuti Yesus membutuhkan keberanian untuk melepaskan hal-hal tersebut.

Selanjutnya, Yesus memanggil Yakobus dan Yohanes. Mereka meninggalkan tidak hanya jala mereka, tetapi juga perahu dan ayah mereka. Perahu melambangkan cara hidup yang familiar; meninggalkannya menandakan orientasi baru, bukan penolakan terhadap pekerjaan, tetapi transformasi tujuannya. Masuk ke dalam “perahu baru” komunitas Kristen berarti menjalankan profesi dan tanggung jawab dengan tujuan yang berbeda: bukan lagi untuk kemajuan diri, tetapi untuk pelayanan, belas kasih, dan kebaikan orang lain. Bahkan tradisi  — yang diwakili oleh kehadiran ayah mereka — harus ditafsirkan ulang dalam terang Injil ketika hal itu menghalangi panggilan kepada kehidupan dan kebebasan.

Perikope Injil ini diakhiri dengan merangkum misi Yesus dalam tiga kata kerja: mengajar, memberitakan, dan menyembuhkan. Ia mengajar dengan menerangi kegelapan dengan kebenaran. Ia memberitakan Kabar Baik bahwa Allah bukanlah hakim yang jauh, melainkan cinta tanpa syarat — ide yang masih mengguncang banyak orang percaya. Dan Ia menyembuhkan, bukan hanya penyakit fisik, tetapi luka-luka yang lebih dalam seperti kekosongan makna, keputusasaan, dan kekosongan batin.

Panggilan para murid pertama bukanlah sekadar catatan sejarah; itu adalah undangan hidup yang ditujukan kepada setiap orang percaya. Yesus terus berjalan di tepi pantai hidup kita, memanggil kita untuk bertobat, merdeka, dan percaya. Mengikuti-Nya berarti meninggalkan apa yang mengikat kita dan melangkah ke cara hidup baru, yang dibentuk oleh nilai-nilai Kerajaan Allah.

Hari ini juga kita rayakan sebagai Hari Minggu Sabda Allah. Pada 30 September 2019, bertepatan dengan peringatan 1600 tahun wafatnya Santo Hieronimus, doktor Gereja dan penerjemah Kitab Suci ke dalam bahasa Latin (vulgata), Paus Fransiskus menetapkan hari Minggu Biasa III sebagai Hari Minggu Sabda Allah. Paus Fransiskus mengarahkan agar Minggu Biasa III ini dikhususkan sebagai perayaan, pendalaman, dan penyebaran Sabda Allah. Tentu dengan maksud agar kita makin mencintai Sabda Allah bukan hanya sebagai pedoman hidup, melainkan terutama sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Allah. Semoga kita semakin mencintai Sabda Allah, semakin tekun membaca, merenungkan dan mendalaminya. Menjadikan terang bagi kehidupan dan perjalanan peziarahan kita.

Bapa, semoga umat-Mu di dunia ini menjadi cahaya terang di kegelapan; agar mereka menjadi orang-orang yang berkomitmen untuk membangun dunia yang lebih baik. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *