hati membatu

Hati Yang Membatu

Rabu, 21 Januari 2026, Peringatan Wajib St. Agnes
Bacaan: 1Sam. 17:32-33,37,40-51Mzm. 144:1,2,9-10Mrk. 3:1-6.

"Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. (Mrk 3: 1 – 5)

Dosa merusak hubungan kita dengan Allah. Namun, kekerasan hati jauh lebih merusak karena mempertahankan kerusakan yang disebabkan oleh dosa. Semakin keras hati seseorang, semakin permanen kerusakan yang ditimbulkannya.

Dalam Injil hari ini, Yesus marah kepada para Farisi. Seringkali, amarah yang dipicu oleh ketidaksabaran dan kurangnya kasih adalah dosa. Namun, pada kesempatan lain, amarah yang dipicu oleh cinta kepada sesama dan kebencian terhadap dosa dapat disebut amarah yang baik. Dalam hal ini, Yesus sedih karena kekerasan hati para Farisi, dan kesedihan itu memicu amarah suci-Nya. Kemarahan-Nya yang “suci” tidak menyebabkan kritik yang irasional; sebaliknya, kemarahan itu mendorong Yesus untuk menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya di hadapan para Farisi agar mereka melunakkan hati mereka dan percaya pada Yesus. Sayangnya, hal itu tidak berhasil. Justru seperti ditulis dalam Injil, “Para Farisi pergi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia,” (Mrk 3:6).

Kekerasan hati harus dihindari dengan sungguh-sungguh. Masalahnya, orang-orang yang memiliki hati yang membatu biasanya tidak terbuka terhadap kenyataan bahwa mereka memiliki hati yang keras. Mereka keras kepala dan teguh pendirian, seringkali merasa benar sendiri. Oleh karena itu, orang-orang yang menderita penyakit rohani ini, sulit untuk berubah, terutama ketika dihadapkan pada kenyataan.

Sabda Tuhan hari ini memberikan kepada kita kesempatan penting untuk memeriksa hati kita dengan jujur. Mulailah dengan merenungkan para Farisi dan perilaku buruk yang mereka tunjukkan. Dari sana, cobalah melihat diri sendiri dengan jujur. Apakah saya keras kepala? Apakah saya begitu teguh dalam keyakinan saya hingga enggan mempertimbangkan bahwa saya mungkin salah? Apakah ada orang dalam hidup saya yang terlibat dalam konflik yang masih belum terselesaikan? Jika hal-hal itu terasa benar, maka mungkin saya menderita penyakit rohani hati yang mengeras.

Renungkanlah hari ini tentang hati Anda sendiri dan hubungan Anda dengan orang lain dengan sejujur mungkin. Jangan ragu untuk melepaskan pertahanan Anda dan terbuka terhadap apa yang Tuhan ingin katakan. Jika Anda mendeteksi kecenderungan sekecil apa pun menuju hati yang membatu dan keras kepala, mohonlah kepada Tuhan untuk masuk dan melembutkannya. Perubahan seperti ini sulit, tetapi imbalan dari perubahan tersebut tak ternilai harganya. Jangan ragu dan jangan menunda. Perubahan itu sungguh bernilai.

Tuhan yang penuh kasih, hari ini aku membuka diriku untuk memeriksa hatiku sendiri dan berdoa agar Engkau membantuku untuk terbuka terhadap perubahan ketika diperlukan. Bantu aku, terutama, untuk melihat setiap kekakuan yang mungkin ada dalam hatiku. Bantu aku untuk mengatasi setiap kekakuan, kekejaman, dan kesombongan. Berikanlah aku karunia kerendahan hati, Tuhan terkasih, jadikan hatiku seperti hati-Mu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *