lihatlah anak domba allah (1)

Lihatlah Anak Domba Allah

Minggu, 18 Januari 2026, Minggu Biasa II Tahun A
Bacaan: Yes. 49:3,5-6Mzm. 40:2,4ab,7-8a,8b-9,101Kor. 1:1-3Yoh. 1:29-34.

"Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” (Yoh 1: 29)

Hari ini adalah Hari Minggu Biasa II dan juga merupakan pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen. Kita semua diajak untuk menjumpai Yesus. Siapakah Yesus bagi kita? Nama apa yang paling cocok untuk-Nya bagi kita? Yesaya dalam bacaan pertama menyebut-Nya sebagai Hamba Allah. Santo Paulus dalam bacaan kedua menyebut-Nya Yesus Kristus.

Injil Yohanes memperkenalkan kita pada momen yang menentukan, bukan dengan menceritakan pembaptisan Yesus secara langsung, tetapi dengan memperkenalkan sosok Yohanes Pembaptis yang rendah hati dan bersinar. Injil-injil sinoptik menggambarkan Yohanes sebagai pendahulu yang mempersiapkan jalan; Injil Yohanes lebih dalam lagi dan menyebutnya sebagai saksi. Seorang saksi bukanlah orang yang menempatkan dirinya di pusat, tetapi seseorang yang telah melihat cahaya dan tidak dapat diam tentang hal itu.

Yohanes Pembaptis adalah saksi Sang Cahaya. Ia telah bertemu dengan sesuatu—atau lebih tepatnya, Seseorang—yang telah mengubah hidupnya. Ia melihat Yesus datang kepadanya dan menunjukkannya dengan gestur sederhana: “Lihatlah, Anak Domba Allah.” Yohanes tidak menarik perhatian pada dirinya sendiri. Ia mundur ke samping. Ia tidak pernah berkata, “Lihatlah aku,” tetapi selalu berkata, “Lihatlah Dia.”

Sikap ini memberi pesan yang kuat kepada kita selama Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen yang dimulai hari ini. Kita akan menjalani Pekan Doa ini dari tanggal 18 – 25 Januari 2026. Kita sadar, bahwa sering kali, alih-alih bersama-sama menunjuk kepada Kristus, kita bersaing untuk menunjukkan dan menonjolkan diri atau denominasi kita. Yohanes mengingatkan kita bahwa kesatuan lahir ketika kita setuju untuk “mundur” agar Kristus dapat menempati posisi di depan. Gereja bersatu ketika semua orang menatap ke arah yang sama—ke arah Yesus.

Gambaran yang digunakan Yohanes mengejutkan. Dia tidak menyebut Yesus sebagai singa atau raja; dia menyebutnya sebagai Anak Domba, suatu makhluk yang ringkih dan rentan. Di dunia yang ditandai oleh kekerasan, dominasi, dan ketakutan, Allah memilih kelemahlembutan. Dia tidak menghilangkan kejahatan dengan menghancurkan pendosa, tetapi dengan melucuti logika kekerasan dari dalam. Inilah inti Injil: kejahatan tidak dikalahkan oleh kejahatan yang lebih besar, tetapi oleh cinta yang lebih kuat, lebih rendah hati, dan lebih sabar.

Yohanes memberitahu kita bahwa Anak Domba ini “menghapus dosa dunia.” Dosa di sini bukan sekadar pelanggaran aturan; itu adalah kehilangan kemanusiaan kita, lupa bahwa kita adalah saudara dan saudari. Yesus menghapus dosa dengan memperkenalkan kekuatan baru ke dunia: Roh.

Yohanes bersaksi bahwa ia melihat Roh turun dan tinggal di atas Yesus seperti merpati. Roh ini tidak lewat sementara; Ia tinggal di dalam Dia. Dan Yesus, pada gilirannya, membaptis kita dalam Roh yang sama. Baptisan Kristen bukan sekadar upacara eksternal; itu adalah undangan untuk membiarkan hidup kita dibentuk, dilembutkan, dan diubah oleh Roh Kasih. Roh ini adalah sumber sejati persatuan. Kita tidak dapat menciptakan persatuan hanya dengan strategi atau deklarasi; persatuan adalah anugerah yang mengalir dari keterbukaan agar Roh bekerja dalam diri kita.

Setiap kali merayakan Ekaristi, kita mendengar lagi: “Lihatlah Anak Domba Allah.” Kita diundang tidak hanya untuk menyembah-Nya, tetapi untuk menyatukan hidup kita dengan-Nya. Menerima Sang Anak Domba berarti memilih cara-Nya yang lembut, pengorbanan diri, dan belas kasihan. Sebagai orang Kristen yang terpecah namun merindukan persekutuan, mari kita berjalan bersama menuju Sang Anak Domba. Dengan memusatkan pandangan kita pada-Nya, kita akan menemukan kembali satu sama lain sebagai saudara dan saudari—dan dunia akan melihat cahaya yang benar-benar mempersatukan.

Allah kami dan Bapa kami, kami memuliakan Yesus, Putera-Mu yang ada di tengah-tengah kami, dengan nama-nama yang mulia: Yesus, Tuhan kami, Anak Domba Allah, hamba Allah dan umat-Nya. Biarlah nama-nama ini tidak sekadar gelar kehormatan yang kosong di antara kami tetapi kata-kata yang penuh makna yang mengikat kami untuk menjadi seperti Dia. Semoga, dalam Dia, seluruh umat Kristen semakin bersatu. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *