Selasa, 13 Januari 2026, Selasa Pekan Biasa I
Bacaan: 1Sam. 1:9-20; MT 1Sam. 2:1,4-5,6-7,8abcd; Mrk. 1:21b-28.
“Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa.” (Mrk 1: 22)
Dalam pembahasan tentang kekuasaan, dikenal dua macam kekuasaan, yakni “soft power” dan “hard power”. Kekuasaan pada dasarnya adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain guna memperoleh hasil yang diinginkan. Dalam hal ini soft power adalah kemampuan untuk memengaruhi orang lain guna memperoleh hasil yang diinginkan melalui daya tarik dan persuasi, bukan paksaan. Soft power bertumpu pada sumber daya budaya, nilai-nilai, dan kebijakan. Sebaliknya, hard power adalah kemampuan suatu pihak untuk memaksa pihak lain melakukan sesuatu yang dikehendaki. Misalnya, seorang penguasa berusaha mendapatkan apa yang diinginkan dengan kekuatan militer atau represi.
Injil hari ini berbicara tentang kuasa Yesus. Saya menemukan banyak kesamaan antara jenis kuasa yang dimiliki Yesus dan konsep soft power tersebut. Kita membaca dalam Injil, “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.” Setelah Yesus menyembuhkan seorang yang dirasuki roh jahat, orang-orang berseru, “Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.” Tidak ada yang memberi Yesus kuasa karena Ia tidak berada dalam posisi kekuasaan sebagaimana kita pahami dari Injil. Ia bukan salah satu dari para ahli Taurat dan Farisi, para pemimpin agama Yahudi. Dalam konteks ini, kita mungkin secara spontan bertanya, apa sumber kuasa-Nya. Sumber kuasa Yesus adalah “soft power”-Nya: integritas dan keasliannya, kedalaman pengetahuannya, keterampilan komunikasi yang luar biasa, kasih dan belarasa-Nya, dan di atas segalanya, hubungan-Nya dengan Allah, sumber segala kuasa, melalui doa pribadi dan refleksi.
Seseorang yang telah mengembangkan soft power-nya tidak akan tergila-gila pada “hard power” yang membuatnya “insecure”, merasa terancam, dan mendorongnya untuk bersikap represif dan anti kritik. Mahatma Gandhi, Martin Luther King, dan Ibu Teresa adalah contoh orang-orang dengan soft power yang luar biasa. Terkadang orang-orang dengan “soft power” diberi “hard power” untuk menanggung tanggung jawab yang lebih besar, seperti yang terjadi pada kasus Nelson Mandela. Kita juga dapat menemukan orang-orang dengan soft power di lingkungan kita sendiri. Orang-orang yang belum mengembangkan soft power seringkali gagal dalam menggunakan kekuasaan dengan benar. Terkadang mereka mungkin menyalahgunakan kekuasaan, yang dapat menyebabkan kerusakan besar bagi keluarga, komunitas, masyarakat, atau bahkan negara. Sangat berisiko dan berbahaya untuk mempercayakan kekuasaan kepada mereka yang belum mengembangkan soft power. Mereka bisa saja menyalahgunakannya atau sangat besar peluangnya untuk dimanipulasi oleh kelompok kepentingan yang berperan sebagai “king makers”.
Mengikuti teladan Yesus, mari kita kembangkan soft power kita dengan mengembangkan integritas pribadi, memperdalam pengetahuan, mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan, berpegang dan mengatakan kebenaran, menghidupi KASIH dan dan tentu saja menjaga relasi kita dengan Tuhan melalui hidup doa dan hidup rohani yang dalam.
Tuhan, semoga kami dalam hidup kami menyatakan kuasa-Mu dengan penyembuhan, pengampunan dan belas kasih. Amin.

