inklusi dan menyembuhkan

Dipanggil untuk Bela Rasa, Menyembuhkan dan Inklusi

Jumat, 9 Januari 2026, Jumat Sesudah Penampakan Tuhan
Bacaan: 1Yoh. 5:5-13Mzm. 147:12-13,14-15,19-20Luk. 5:12-16.

“Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku."  Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.” (Luk 5: 12 – 13)

Seringkali dalam Injil dikisahkan bahwa Yesus menyembuhkan orang melalui kata-kata yang diucapkan. Untuk menyembuhkan penderita kusta dalam Injil hari ini, Yesus tidak hanya berbicara kepadanya, namun juga menjamah dia. Dengan menjamah si penderita kusta, Ia melakukan apa yang tidak akan dilakukan oleh orang lain. Hukum membuat penderita kusta dikucilkan, dan penderita kusta sendiri diharapkan untuk menjaga jarak mereka dari orang lain. Tetapi, Yesus tidak hanya peduli dari kejauhan, bahkan orang kusta sekalipun. Tak seorangpun luput dari sentuhan-Nya.

Kisah ini dengan tepat menggambarkan misi Yesus untuk menjangkau orang-orang terpinggirkan, memberikan penyembuhan, bela rasa, dan rasa keterikatan. Peristiwa ini terjalin dalam narasi yang lebih luas yang menyoroti kepedulian terhadap orang miskin dan tertindas, menantang norma-norma sosial dan agama yang memicu pengucilan. 

Kusta tidak hanya mewakili kondisi fisik; ia melambangkan isolasi sosial yang mendalam. Orang kusta menghadapi pemisahan, dianggap najis, dan diasingkan dari komunitas dan aktivitas ibadah mereka. Ketika orang kusta datang kepada Yesus, ia tidak hanya menginginkan penyembuhan fisik tetapi juga pemulihan martabat dan rasa memiliki dalam masyarakat. Reaksi Yesus sangat revolusioner — Ia menyentuh prang kusta itu, menyembuhkannya, dan secara simbolis mengintegrasikannya kembali ke dalam komunitas. 

Narasi ini mengajak kita untuk merenungkan cara kita berinteraksi dengan mereka yang terpinggirkan di sekitar kita. Hari ini, “si kusta” mungkin tidak menderita penyakit fisik, tetapi menderita kemiskinan, tunawisma, gangguan mental, atau pengucilan sosial. Seperti Yesus, kita ditantang untuk memperluas bela rasa kita, bukan dari jarak aman, tetapi melalui solidaritas aktif dan inklusi. 

Lukas mengingatkan kita bahwa penyembuhan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan segera, tetapi juga menghadapi akar penyebab penderitaan: ketidakadilan, ketidaksetaraan, dan pengabaian sistemik. Sebagai individu dan komunitas iman, kita diundang untuk mewujudkan Injil dengan membela mereka yang digusur ke pinggiran, menawarkan bukan hanya sedekah tetapi integrasi yang sejati ke dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.

Selain itu, Lukas menyoroti kebutuhan Yesus akan doa di tengah pelayanan-Nya. Hal ini mengingatkan kita bahwa tindakan kita harus berakar pada hubungan akrab dengan Allah, mencari bimbingan dan kekuatan-Nya.

Tuhan, semoga komunitas dan pribadi kami masing-masing semakin berbelarasa, merangkul dan menyembuhkan mereka yang sakit, terluka dan terpinggirkan. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *