lateran

Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran

Minggu, 9 November 2025, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran
Bacaan: Yeh. 47:1-2,8-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; 1Kor. 3:9b-11,16-17; Yoh. 2:13-22

“Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali," (Yoh 2: 19)

Hari ini kita rayakan Pesta Pemberkatan Gereja Basilika St. Yohanes Lateran yang adalah gereja paroki Uskup Roma, Paus, dan menjadi Katedral Keuskupan Roma. Ini adalah basilika tertua di dunia, bahkan lebih tua dari Basilika Santo Petrus di Vatikan. Pada bagian depan gereja ini terdapat prasasti: “SACROS LATERAN ECCLES OMNIUM URBIS ET ORBIS ECCLESIARUM MATER ET CAPUT,” “Gereja Lateran yang suci, Ibu dan Kepala semua gereja di kota dan di seluruh dunia.” Basilika St. Yohanes Lateran adalah katedral Paus dan Paus adalah Kepala Gereja Universal, oleh karena itu Gereja ini juga adalah Bunda dari semua Gereja di dunia.

Selama beberapa abad Paus tidak lagi tinggal di Istana Lateran. Walau demikian tidak berarti bahwa keutamaan Basilika dengan demikian diubah. Basilik Lateran tetap menjadi “kepala” semua gereja. Santo Petrus Damianus menulis bahwa “sama seperti Sang Juruselamat adalah Kepala umat pilihan, gereja yang menyandang nama-Nya adalah kepala semua gereja.”

Induk dari semua Gereja ini diberkati oleh Paus St. Alexander pada tahun 324. Gereja Lateran pernah sebagian hancur karena kebakaran, invasi musuh dan gempa bumi namun selalu dibangun kembali dengan semangat oleh Paus yang berkuasa. Pada tahun 1726, setelah suatu restorasi, Paus Benediktus XIII memberkatinya kembali dan menetapkan peringatan akan peristiwa tersebut sampai saat ini. Gereja kemudian diperbesar dan diperindah oleh Paus Pius IX dan Paus Leo XIII.

Perayaan ini bukanlah tentang batu bata dan marmer, tetapi tentang apa yang diwakili oleh Basilik Lateran: kesatuan Gereja seluruh dunia dalam persekutuan dengan Uskup Roma, pengganti Petrus. Basilika adalah tanda yang kelihatan dari Gereja yang hidup, dibangun bukan hanya dari batu, tetapi dari orang-orang yang, melalui baptisan, menjadi tempat tinggal Allah.

basilik lateran

Dalam Injil, Yesus membersihkan Bait Suci, mengusir para pedagang dan tukang penukar uang. Tindakan-Nya bukan sekadar untuk menjaga ketertiban di tempat suci. Sebaliknya, Ia menunjuk pada kebenaran yang lebih dalam: Bait Suci Allah yang sejati bukanlah bangunan, tetapi Tubuh-Nya sendiri. “Runtuhkan Bait Suci ini,” kata-Nya, “dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Para murid kemudian memahami bahwa Ia berbicara tentang Kebangkitan-Nya. Dalam Kristus, kehadiran Allah tidak lagi terbatas pada satu tempat suci, tetapi sepenuhnya terungkap dalam diri-Nya. Dan melalui baptisan, masing-masing dari kita menjadi bagian dari Bait Suci yang hidup ini.

St. Paulus mengingatkan kita bahwa “kamu adalah bangunan Allah” (1 Kor 3:9). Gereja adalah rumah rohani yang dibangun dari “batu-batu hidup,” dan Kristus sendiri adalah batu penjuru. Ini berarti setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi tempat tinggal Allah yang sejati. Namun, hal ini juga membawa tantangan: untuk konsisten dalam hidup sesuai dengan iman yang kita nyatakan. Kesesuaian antara iman dan kehidupan sehari-hari tidaklah mudah; hal ini membutuhkan keterbukaan yang terus-menerus terhadap Roh Kudus. Seperti yang sering diingatkan oleh Paus Fransiskus, seorang Kristen dikenali bukan semata-mata melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan, melalui cara ia hidup.

Basilik Lateran berdiri sebagai pengingat akan Gereja yang terlihat dan institusional, tetapi juga menunjuk pada realitas yang lebih dalam: bahwa misi Gereja adalah bersaksi tentang iman melalui kasih. Struktur, pelayanan, dan program pastoral ada untuk satu tujuan: membawa orang kepada Kristus dan menjadikan kasih-Nya terlihat di dunia. Iman dan kasih harus selalu berjalan bersama. Kasih adalah ungkapan iman, dan iman memberikan dasar dan makna bagi kasih.

basilika lateran 1

Pesta hari ini juga memanggil kita kepada persatuan dan persekutuan. Sama seperti Basilika Lateran mempersatukan semua orang Kristen di sekitar Uskup Roma, demikian pula kita dipanggil untuk menjadi pembangun persatuan di dunia yang terpecah belah. Gereja dimaksudkan untuk menjadi tanda rekonsiliasi, sekilas gambaran kemanusiaan baru yang dibawa oleh Kristus—sebuah keluarga bangsa-bangsa yang bersatu dalam persaudaraan dan solidaritas. Di zaman kita, ketika ketidakpedulian dan permusuhan sering memisahkan komunitas, Gereja harus terus membangun jembatan dialog, pemahaman, dan perdamaian.

Marilah kita memohon perantaraan Santa Perawan Maria, tempat tinggal Firman Allah, untuk membantu kita menjadi bait suci hidup bagi kasih-Nya. Semoga hidup kita memancarkan kehadiran Kristus, sehingga Gereja, seperti Basilika Lateran, benar-benar menjadi rumah doa bagi semua bangsa dan tanda harapan bagi dunia.

Tuhan, semoga kami selalu menyadari bahwa kami bersatu dalam iman, kasih, harapan dan pelayanan bersama Paus dan Gereja Katolik di seluruh dunia, dan pada saat yang sama kami berkontribusi bagi terciptanya persatuan, di manapun kami berada. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *