Minggu, 14 September 2025, Pesta Pemuliaan Salib Suci
Bacaan: Bil. 21:4-9 Mzm. 78:1-2.34-35,36-37,38;Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal,” [Yoh 3: 13 – 17]
Suatu hari, Pace Simon bertengkar dengan istrinya. Ia pergi ke gereja, dan ketika pulang, tiba-tiba ia mengangkat istrinya dan menggendongnya keliling rumahnya. Istrinya yang terkejut bertanya, “Mengapa kau lakukan itu? Apakah Pastor menyuruhmu untuk lebih romantis?”
“Tidak! Ia menyuruhku untuk memanggul salibku!” jawabnya.
Bagi banyak orang, salib adalah simbol penghinaan dan kekalahan. Umat Kristen perdana awalnya tidak menemukan keindahan dalam Salib. Mereka memilih tidak menggunakannya sebagai simbol iman mereka hingga awal abad keempat. Bagi mereka, Salib mengingatkan kembali pada kenangan menyakitkan tentang penyiksaan dan kematian Guru mereka, suatu bentuk hukuman yang diperuntukkan bagi budak dan penjahat. Itu menjadi sumber ejekan dari orang-orang yang tidak percaya.
Pergeseran sikap terhadap salib diawali dengan ditemukannya Salib Asli Kristus oleh Santa Helena, ibu Kaisar Romawi Konstantin. Sejarah mencatat bahwa setelah penemuan Salib Asli Kristus, sebuah basilika didirikan oleh Santa Helena di atas Makam Kudus Kristus. Basilika itu lalu diberkati dalam suatu perayaan yang sangat meriah dan khidmat selama dua hari berturut-turut, pada tanggal 13 dan 14 September tahun 335. Pemberkatan dirayakan oleh para uskup yang baru selesai mengikuti Konsili Tirus, ditambah dengan sejumlah besar uskup yang lain.
Tradisi berlanjut dan setiap tahun dirayakanlah Pesta Salib Suci di Yerusalem. Kekhidmatan perayaan ini menarik sejumlah besar biarawan dari Mesopotamia, Syria, Mesir dan dari provinsi-provinsi Romawi lainnya untuk datang ke Yerusalem. Setiap tahunnya, tidak kurang dari 40 uskup menempuh perjalanan jauh dari keuskupan mereka untuk menghadiri perayaan ini. Di Yerusalem pesta ini berlangsung selama 8 hari berturut-turut dan, pada masa itu, pesta ini menjadi suatu perayaan yang hampir sama pentingnya dengan Paskah dan Epifani. Pesta ini kemudian menyebar ke luar Yerusalem, mulai dari Konstantinopel (sekarang Istanbul) sampai ke Roma pada akhir abad ketujuh, dan akhirnya masuk ke dalam kalender liturgi Gereja Katolik sebagai suatu pesta wajib.
Di zaman Romawi, tak seorangpun menganggap penyaliban sebagai suatu kemuliaan dan kemenangan. Malahan itu akan memberi kepuasan bagi mereka yang menyalibkan dan tidak akan pernah menjadi kemenangan bagi yang disalibkan. Tetapi justru kemenangan salib itulah yang kita rayakan hari ini. Yesus telah disalibkan, dan Ia telah menang. Itulah kemenangan cinta atas kebencian. Seperti dikatakan dalam Injil Yohanes: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal,” (Yoh 3: 16). Yesus adalah pernyataan cinta Allah dalam segala yang dilakukan-Nya, tetapi cinta Allah itu dinyatakan sepenuh-penuhnya dengan salib. St Yohanes hendak mengatakan bahwa di atas kayu salib Yesus menyatakan kemuliaan Allah. Itulah sebabnya Yesus berbicara tentang penyaliban-Nya sebagai saat Ia dimuliakan. “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,” (Yoh 3: 14).
Cinta sejati memberi kehidupan. Sama seperti kemenangan cinta atas kebencian, kemenangan salib Yesus adalah kemenangan atas kematian. Yesus telah dibunuh dengan cara yang paling keji, tetapi dengan kematian-Nya ia beralih ke kehidupan yang baru dan hidup itulah yang diberikan kepada kita. Darah dan air mengalir dari lambung-Nya mengatakan kepada kita bahwa hidup mengalir dari kematian-Nya. Salib, pohon kehidupan. Kemenangan salib, yang adalah kemenangan Allah dan Yesus atas segala kuasa kejahatan, adalah kemenangan kita. Dari salib-Nya Ia menarik kita masuk dalam cinta dan hidup Allah. “Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku,” (Yoh 12: 32). Kita hanya perlu membiarkan diri ditarik oleh-Nya.
Kini dengan memandang kepada salib Kristus itulah kita pun dikuatkan untuk terus memenangkan cinta dengan mengasihi dan mengampuni sesama; dan juga untuk bertumbuh dalam kerendahan hati, sebab itulah jalan yang dipilih Allah untuk menghantar kita kepada keselamatan kekal. Di pesta perayaan Salib suci ini, mari kita mendaraskan doa sederhana yang diwariskan oleh St. Fransiskus dari Asisi, “Kami menyembah Engkau, ya Kristus dan memuji-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia…..”
Ya, Tuhan bantulah aku untuk semakin menghayati dalamnya makna Tanda Salib yang setiap saat aku lakukan. Amin.

