Rabu, 10 September 2025, Rabu Pekan Biasa XXIII
Bacaan: Kol. 3:1-11; Mzm. 145:2-3,10-11,12-13ab; Luk. 6:20-26.
"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah…. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.” [Luk 6: 20. 24]
Empat “berbahagialah” dan empat “celakalah” — Sabda Bahagia versi Lukas ini sedikit berbeda dari Sabda Bahagia yang kita temukan dalam Injil Matius. Kemungkinan besar, versi Lukas — Injil yang kita baca hari ini — adalah versi asli, dan Matius telah mengeditnya sedikit untuk tujuan tertentu. Apakah ini membuat versi Lukas lebih baik daripada yang ada dalam Injil Matius? Tentu saja tidak. Ini adalah contoh yang indah dari keajaiban Kitab Suci dan bagaimana Allah menggunakan alat-alat manusia dalam memberikan Firman-Nya kepada kita sesuai dengan kehendak-Nya.
Perbandingan antara “berbahagia” dan “celaka” membuat kita merenungkan bahwa pilihan kita lah yang menentukan apakah kita menerimanya atau tidak. Matius lebih fokus pada penyajian yang lebih rapi dari Sabda Bahagia sebagai dasar bagi keutamaan. Lukas hanya mengatakan apa adanya, dengan sedikit refleksi, karena ia ingin menegaskan bahwa keutamaan dan keburukan dapat dengan mudah dibedakan satu sama lain. Jika kita hidup sesuai dengan semangat “kebahagiaan”, kita akan berbudi luhur jika kita menderita karena “sabda celaka” itu, kita tahu bahwa kita harus membuat keputusan serius untuk mengubah hidup kita.
Lukas mengatakannya secara lugas: “Berbahagialah hai kamu yang miskin!” Matius menambahkan “dalam roh,” (dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “di hadapan Allah”) mungkin karena ia memiliki banyak jemaat yang kaya dalam komunitas/jemaatnya. Kesederhanaan bahasa Lukas yang tegas menyegarkan dan bertolak belakang dengan ungkapan-ungkapan yang diperhalus hampir dalam segala hal dalam masyarakat saat ini. Menyegarkan untuk diingatkan bahwa Allah ingin menjaga segala sesuatu sesederhana mungkin.
Sesuai dengan kelugasan Lukas itu, Sabda Bahagia bukanlah kata-kata lembut yang dimaksudkan untuk menenangkan; Sabda Bahagia itu seperti kilatan petir, menerobos masuk ke dalam hidup kita dengan kekuatan dan urgensi. Baik dalam Matius maupun Lukas, Yesus memulai khotbah agung-Nya dengan kata-kata yang mengejutkan: “Berbahagialah orang yang miskin… Celakalah orang kaya…” Betapa mengejutkan! Betapa terbaliknya ini dibandingkan dengan cara berpikir dunia.
Injil menantang kita dengan pilihan: Apakah kita ingin kebahagiaan menurut dunia, atau menurut Kristus? Dunia berkata, “Berbahagialah orang yang punya kuasa, yang kuat, yang kaya, yang nyaman.” Tetapi Yesus menyatakan, “Berbahagialah kamu yang sekarang ini lapar, yang sekarang ini menangis, yang dianiaya karena Aku.” Ini bukan sekadar puisi — ini adalah revolusi hati. Ini adalah panggilan untuk hidup secara berbeda.
Yesus jelas: jika kita menghabiskan seluruh energi kita untuk mengejar kekayaan, status, dan kesenangan, kita mungkin berhasil — tetapi itu saja yang akan kita miliki. “Kamu telah memperolehnya,” Ia memperingatkan. Tidak ada yang tersisa untuk kekekalan. Tetapi jika kita menaruh hati kita pada-Nya — pada kesetiaan, pada belas kasih, pada kebenaran — kita mungkin menghadapi perjuangan, kita mungkin tidak dimengerti, tetapi kita akan memiliki sukacita yang tidak dapat diambil oleh siapa pun.
Para orang kudus memahami hal ini. Mereka sering hidup miskin di mata dunia, tetapi kaya dalam iman, bebas dalam roh, bersinar dalam sukacita. Seperti yang diingatkan St. Paulus, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami,” (2 Kor 4:17).
Injil hari ini bertanya kepada kita: Kebahagiaan mana yang kita cari? Kenyamanan dunia yang sementara — atau sukacita kekal Kristus? Mengikuti Yesus berarti mengambil risiko kesulitan, tetapi juga menemukan damai sejahtera yang hanya Dia yang dapat berikan. Berbahagialah mereka yang memilih jalan-Nya.
Ya Tuhan bimbing aku di jalan-Mu. Amin.

