Sabda Hidup
Minggu, 25 Oktober 2026, Minggu Biasa XXX Tahun A
Bacaan: Kel. 22:21-27; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab; 1Tes. 1:5c-10; Mat. 22:34-40.
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Mat 22: 34 – 40).
Menurut cerita, suatu malam Abou Ben Adhem terbangun dari tidurnya dan melihat seorang malaikat sedang menulis pada sebuah buku emas nama orang-orang yang mengasihi Allah. “Adakah namaku di situ?” tanya Abou. “Tidak ada,” jawab malaikat. “Kalau begitu, aku mohon,” kata Abou, “Tulislah nama-nama mereka yang mengasihi sesamanya.” Malam berikutnya, malaikat itu datang lagi dan memperlihatkan daftar nama orang-orang yang mengasihi Allah. Dan lihatlah, nama Abou Ben Adhem ada di urutan teratas daftar nama itu.
***
Cerita itu menunjukkan bahwa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama itu bagaikan dua sisi mata uang. Satu sisi tidak dapat ada tanpa sisi yang lain. Itulah sebabnya ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama, Ia menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” Namun Yesus tidak berhenti di situ. Ia masih melanjutkan: “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat 22: 37 – 39).
Orang yang bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama ini adalah orang yang sama dengan yang ingin menjebak dan membunuh Yesus, orang-orang Farisi. Mereka adalah orang-orang yang yang tahu dan sangat sadar akan kasih kepada Allah. Namun ternyata mereka sangat tidak sensitif terhadap sesama. Kesalahan orang-orang Farisi itu juga ada pada kita. Masih banyak dari kita yang mencoba memisahkan kasih kepada sesama dari kasih kepada Allah.
Baiklah kita ingat kata-kata St. Yohanes: Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yohanes 4:20).
“Iman dalam tindakan adalah cinta, dan cinta dalam tindakan adalah pelayanan. Dengan mengubah iman itu menjadi tindakan cinta yang hidup, kita menghubungkan diri kita dengan Tuhan sendiri, dengan Yesus, Tuhan kita,” kata Ibu Teresa dari Calcutta. Dan lagi St Yohanes mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.” (1 Yoh 4: 12).
***
Alkisah ada seorang ibu yang selama hidupnya tidak pernah berbuat baik. Ketika ia meninggal, setan merenggutnya ke neraka. Namun, malaikat pelindungnya tidak berputus asa. Ia berjuang supaya perempuan itu bisa masuk surga. Karena itu, ia mencari-cari entahkah perempuan itu pernah melakukan perbuatan baik selama hidupnya. Tiba-tiba wajahnya berseri-seri. Ia teringat akan sesuatu. Ia pun menghadap Allah dan berkata: “Saya masih ingat dengan baik sekali bahwa perempuan itu pernah memetik daun bawang dari kebunnya dan memberikannya kepada seorang pengemis.” “Baiklah,” kata Allah, “turunkanlah daun bawang itu kepadanya dan gunakanlah daun bawang itu untuk mengangkatnya ke surga. Kalau engkau berhasil maka dia boleh masuk ke surga.”
Malaikat itu pun dengan gembira menurunkan daun bawang itu ke neraka dan memerintahkan perempuan itu untuk memegang ujungnya. Dengan hati-hati malaikat itu memegang ujung yang lain dari daun bawang itu dan menariknya ke surga. Namun, ketika orang-orang lain melihat bahwa perempuan itu pelan-pelan terangkat ke surga, mereka pun ramai-ramai memegang kakinya supaya mereka pun terangkat ke surga. Perempuan itu cemas kalau daun bawang itu putus. Karena itu, ia menendang mereka sambil berkata: “Ini daun bawang saya dan bukan daun bawang kamu! Hanya saya boleh diselamatkan menggunakan daun bawang ini.” Ketika ia berkata demikian, daun bawang itu putus dan perempuan itu jatuh kembali ke neraka. Malaikat pelindungnya menangis tersedu-sedu karena tidak mampu menyelamatkan perempuan itu.
***
Daun bawang itu putus ketika perempuan itu mengatakan: “Ini daun bawang saya dan bukan daun bawang kamu!” Dengan demikian, sampai saat itu pun ia belum bertobat dan masih hanya ingat diri sendiri dan tidak memperdulikan orang lain. Andaikata ia membiarkan orang-orang lain turut naik ke surga bersamanya, niscaya ia akan selamat. Pesan dari cerita itu ialah manusia akan diadili oleh perbuatannya sendiri, akni cinta kasih yang dilakukannya terhadap sesama manusia.
***
Dalam Injil hari ini orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama dalam hukum Taurat. Yesus menjawab mereka dengan mengatakan bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap akal budi. Sementara hukum yang kedua ialah mencintai sesama manusia seperti diri sendiri. Di dalam kedua hukum itu tersirat seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Kedua hukum itu mempunyai hubungan erat. Di satu pihak, cinta terhadap sesama harus bersumber pada cinta Ilahi, yakni cinta kepada Allah. Di pihak lain, cinta kepada Allah mengembil bentuknya yang konkret dalam mencintai sesama manusia. Bagaimana mungkin kita bisa mencintai Allah yang tidak kelihatan kalau kita tidak mencintai manusia yang kelihatan. Karena itu, mencintai Allah dan sesama adalah satu dan sama. Itulah hukum yang terutama. Begitu kita hidup dilandasi oleh cinta kasih kepada Allah dan sesama, maka hukum-hukum yang lain akan terpenuhi.
Dengan menjadikan cinta kasih satu-satunya hukum, kita menjadikan cinta kasih sebagai norma, kriteria, dan ukuran dalam bertingkah laku. Oleh sebab itu, tingkah laku dan perbuatan kita hendaknya mencerminkan cinta kasih kepada Allah dan sesama. Dalam arti ini, kita bisa memahami kata-kata Santo Agustinus: “Cintailah dan berbuatlah apa saja yang engkau sukai.” Artinya, kita boleh berbuat apa saja sejauh itu didasarkan pada cinta kasih. Namun cinta kasih itu mendapat bentuk yang paling konkret dalam pengorbanan yang kita berikan kepada Allah dan sesama. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sabahat-sahabatnya,” (Yoh 15: 13). Kasih seperti itu telah ditunjukkan oleh Yesus Kristus dan ribuan martir sepanjang sejarah Gereja. Kita pun diajak untuk melakukan pengorbanan yang sama sebagai tanda bahwa kita mencintai Allah dan sesama.
Ya Tuhan yang penuh kasih, tolonglah kami untuk mengasihi-Mu dan saling mengasihi di antara kami sesuai dengan ukuran-Mu, yaitu tanpa batas, di dalam Kristus Yesus, Tuhan kami. Amin.
Have a blessed Sunday!

