Sabda Hidup
Minggu, 20 September 2026, Minggu Biasa XXV Tahun A
Bacaan: Yes. 55:6-9; Mzm. 145:2-3,8-9,17-18; Flp. 1:20c-24,27a; Mat. 20:1-16a.
“Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20; 15)
Pada suatu hari, dalam perjalanan bisnisnya, seorang pengusaha bertemu dengan dua orang pelancong. Yang seorang bernama Rakus, sedangkan yang lainnya bernama Iri. Ketika mereka harus berpisah, sang pengusaha berkata kepada kedua pelancong itu, “Sebelum kita berpisah, saya ingin memberikan kamu hadiah. Kamu boleh minta apa saja. Namun ada syaratnya, yaitu ketika orang yang pertama menyampaikan permintaannya dan langsung mendapatkan apa yang dimintanya, orang kedua akan mendapatkan dua kali lipat dari apa yang didapatkan orang pertama. Jadi, kalau orang yang pertama minta satu mobil, maka orang kedua akan mendapat dua mobil.”
Rakus dan Iri sangat senang dengan tawaran yang menarik itu. Sayangnya, masing-masing menunggu siapa yang harus mulai. Rakus berharap bahwa Iri akan lebih dulu meminta supaya ia bisa mendapatkan dua kali lipat. Sebaliknya, Iri ingin supaya Rakus yang lebih dulu meminta supaya ia mendapat dua kali lipat. Setelah menunggu dan menunggu, ternyata tidak ada yang mau mulai. Akhirnya Rakus mengancam Iri untuk segera menyampaikan permintaannya. “Baiklah,” kata Iri, “saya minta supaya satu mata saya menjadi buta.” Pada saat itu juga satu matanya menjadi buta. Dan pada saat yang sama pula kedua mata Rakus menjadi buta.
***
Kedua orang dalam cerita tadi menjadi korban dari kerakusan dan iri hati mereka sendiri. Kerakusan dan iri hati sering kali melekat dalam hati manusia dan telah menimbulkan banyak persoalan dalam kehidupan masyarakat. Dalam Injil hari ini, kita disentakkan oleh perumpamaan Yesus tentang orang-orang upahan di kebun anggur. Bagi kebanyakan orang, perumpamaan ini terasa janggal, mengusik hati dan bahkan menjengkelkan. Bagaimana mungkin orang yang bekerja sepanjang hari mendapatkan upah yang sama dengan yang bekerja hanya satu jam? Di manakah letak keadilan Allah?
Namun di situlah letak persoalannya. Yesus mau menunjukkan bahwa Allah itu berbeda dengan manusia. Ukuran-ukuran atau takaran-takaran yang dikenakan kepada manusia belum tentu bisa dikenakan untuk Allah. Hal itu ditegaskan oleh Yesaya dalam bacaan pertama. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN,” (Yes 55: 8). Allah itu berbeda sama sekali dengan yang kita pikirkan, terutama ketika kita berbicara tentang kasih dan pengampunan. Ia mempunyai kriteria dan standard yang berbeda sama sekali tentang kasih dan pengampunan.
Keadilan sering kali diartikan sebagai memberikan kepada orang apa yang menjadi haknya. Berdasarkan pengertian ini, pemilik kebun anggur dalam perumpamaan tersebut, sama sekali tidak bertindak tidak adil terhadap para pekerja pertama karena ia telah memberikan apa yang menjadi hak mereka. Sementara terhadap para pekerja yang terakhir, ia telah bertindak lebih dari adil, yakni cinta kasih. Kalau keadilan berarti memberikan apa yang menjadi hak orang, maka cinta kasih berarti memberikan kepada seseorang apa yang bukan menjadi haknya. Jadi terhadap para pekerja pertama ia telah bertindak adil, tetapi terhadap para pekerja yang terakhir, ia telah bertindak berdasarkan cinta kasih yang murah hati.
Perumpamaan ini sebenarnya merupakan kritik terhadap orang-orang yang merasa diri sangat berjasa dalam membangun Kerajaan Allah dan karena itu menuntut imbalan yang berlebihan. Pada masa Yesus perumpamaan ini dimaksudkan sebagai kritik terhadap orang-orang Farisi yang selalu menganggap diri yang pertama dalam Kerajaan Allah. Perumpamaan ini mengejutkan mereka karena keadilan Allah tidak bisa diukur dengan keadilan manusia dan kebaikan Allah tidak bisa diukur dengan kebaikan manusia.
***
Sebagai seorang Kristen, tugas kita adalah melakukan apa yang ditugaskan kepada kita, yakni melayani Tuhan dan sesama. Sementara pahala atau upah itu urusan Tuhan Allah. Kita perlu mengingat sabda Yesus ini: “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan,” (Luk 17: 10). Karena itu marilah kita terus bekerja tanpa terlalu banyak diganggu oleh pikiran akan pahala atau upah yang akan kita peroleh.
Tuhan, Allah kami, Engkau Mahabaik. Kasih-Mu melampaui keadilan sekalipun. Terima kasih karena Engkau menerima semua orang tanpa membeda-bedakan. Kasih-Mu sama bagi mereka yang berpaling kepada-Mu pada saat-saat terakhir maupun para pekerja yang telah berjerih payah sepanjang hidup mereka. Bukalah hati kami agar lebih terbuka terhadap karunia-karunia anugerah-Mu yang tak terhingga. Buatlah kami agar dapat menerimanya dengan rasa syukur dan menghargai betapa murah hati-Mu dalam memberi kepada semua orang. Ubahlah jalan hidup kami menjadi jalan kasih-Mu. Amin.

