Sabda Hidup
Minggu, 30 Agustus 2026, Minggu Biasa XXII Tahun A
Bacaan: Yer. 20:7-9; Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9; Rm. 12:1-2; Mat. 16:21-27.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku,” (Mat 16: 24)
Liturgi Sabda hari ini mengajak kita untuk berpikir dan hidup secara berbeda dari orang-orang pada zaman kita. Selama berabad-abad, kita sebagai umat Kristiani telah menjadi pelopor dunia dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan kehidupan sosial, serta meletakkan dasar-dasar budaya Barat kontemporer beserta hak asasi manusia, demokrasi, dan kebebasan beragama. Lalu, bagaimana keadaannya saat ini?
“Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk.” Siapakah seorang nabi Israel? Sebatang buluh yang bergoyang diterpa angin? Seorang yang tinggal di istana? Tidak. Ia adalah seseorang yang kepadanya diperlihatkan oleh Allah betapa besarnya kejahatan dan ketidakadilan yang kita lakukan di bumi ini, dan diperintahkan-Nya untuk berbicara tentang hal itu. Itu adalah panggilan yang sangat berat dan Yeremia sempat tergoda untuk menyerah. Ia mengeluh, “Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku!” Tetapi melalui keberanian dan kesetiaan pada kebenaran, para nabi Israel menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.
Kehendak Allah adalah agar Yesus pergi ke Yerusalem, mati di sana demi keselamatan dunia, dan pada hari ketiga, Ia akan bangkit. Namun, apa keinginan para rasul? Menurut pandangan mereka, Mesias seharusnya mengalahkan penjajah Romawi dan bukan dibunuh oleh mereka. Pemikiran mereka, yang sejalan dengan “zaman ini” dan bertentangan dengan rencana keselamatan Allah, memperlihatkan wajah si jahat. Petrus “menarik” Yesus ke samping, dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Setan sendiri pernah ingin membelokkan misi Yesus dengan menawarkan ketenaran dan kuasa duniawi. Yesus menegur keduanya. Kepada Setan dan kepada Petrus Yesus berkata, “Enyahlah!”Perbedaannya adalah, Setan tidak dapat bertobat dan mengikuti Yesus, tetapi manusia bisa.
Apa artinya berpikir seperti manusia atau seperti Allah? Manusia berjuang demi dunia dengan mengorbankan jiwanya; jalan Allah adalah menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Yesus. Hidup menawarkan dua pilihan: jalan mulus dan lebar menuju kebinasaan atau jalan menuju hidup kekal; rumah di atas pasir atau di atas batu. Kita sering mudah mengikuti pendapat mayoritas, lupa bahwa kebohongan memiliki banyak pengkhotbah, sedangkan kebenaran hanya memiliki satu, dan banyak yang memilih pintu yang lebar menuju kebinasaan.
“Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Inti iman kita adalah misteri kematian dan kebangkitan Kristus. Kita turut serta di dalamnya melalui sakramen baptis ketika kita mati bagi dosa dan memulai hidup baru bagi Allah. Salib adalah pintu yang sempit menuju kehidupan. Pertengahan bulan lalu kita peringati seorang kudus di jaman modern: Santo Maksimilianus Maria Kolbe. Ia dengan jelas mengetahui jalan jalan salib itu ketika ia mempersembahkan tubuhnya “sebagai kurban hidup, kudus dan berkenan kepada Allah”. Kematiannya menjadi tanda kemenangan atas fasisme Nazi yang menghina manusia dan Allah. Ia tidak mati. Ia menyerahkan hidupnya demi saudaranya, dan setelah penderitaan sesaat, kini ia mengalami kebahagiaan abadi.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna,” kata St. Paulus. Mari kita menjadi berbeda. Marilah kita memiliki keberanian untuk membela kebenaran, untuk menyatakan bahwa hanya Allah yang dapat memuaskan kerinduan hati kita, dan untuk membiarkan Yesus memimpin kita melalui salib menuju kepenuhan hidup.
Tuhan, semoga kami yang mengaku untuk mengikuti Engkau, dapat memenuhi tuntutan Injil tanpa rasa takut dan bersaksi tentang salib-Mu. Amin.

