Minggu, 14 Juni 2026, Minggu Biasa XI Tahun A
Bacaan: Kel. 19:2-6a; Mzm. 100:2,3,5; Rm. 5:6-11; Mat. 9:36 – 10:8.
“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." [Mat 9: 37 – 38]
Saya punya seorang teman yang sangat aktif dalam sebuah kelompok doa.
Saya harus akui bahwa dia adalah seorang pembicara yang sangat meyakinkan dan senang berbagi pemikirannya. Dia senang menyapa. Tetapi bukan cuma itu. Misalnya, ketika dia pergi ke restoran bersama teman-temannya, dia suka mengobrol dengan para pelayan, sambil menasihati mereka agar menjalani hidup yang baik dan lurus.
Setiap kali para pelayan melihatnya datang, mereka akan berkata, “Lihat, Pastor itu sudah datang lagi.”
Selama bertahun-tahun, karya pewartaan Injil atau penyebaran iman, apalagi melalui kotbah, sering dianggap sebagai tugas eksklusif para uskup, imam, dan misionaris. Namun, Konsili Vatikan II dengan jelas menyatakan kesetaraan semua pekerja Gereja: “Umat pilihan Allah adalah satu: ‘Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan’ (Efesus 4:5)… Semua memiliki kesetaraan sejati dalam hal martabat dan kegiatan yang sama bagi semua umat beriman untuk membangun Tubuh Kristus (Lumen Gentium, 32).
Dengan kata lain, deklarasi Konsili tersebut menghapus segala pembedaan dalam Gereja yang terbagi menjadi dua golongan: para “profesional suci” (Paus, Uskup, Imam, dan sebagainya) serta umat awam yang “duniawi”.
Keberhasilan Gereja tidak hanya bergantung pada Roh Kudus, tetapi juga sangat bergantung pada upaya para anggotanya — baik para klerus maupun umat awam.
Suatu ketika, seorang imam muda berangkat ke paroki pertamanya setelah tahbisan imam dengan semangat yang membara.
Namun, di sana ia kecewa karena uamt yang hadir dalam misa sangat sedikit dan kehidupan rohani jemaat pun terasa lesu. Ia mengunjungi rumah demi rumah untuk membangkitkan kembali minat mereka, tetapi beberapa orang mengatakan bahwa gereja itu begitu sepi sehingga mereka tidak tertarik untuk datang.
Maka imam itu mengumumkan, karena gereja tersebut dianggap telah mati, ia akan memimpin upacara pemakamannya pada hari Minggu. Gereja itu penuh sesak pada hari itu.
Di depan altar terdapat sebuah peti mati. Imam itu menyampaikan sambutan perpisahan untuk almarhum; kemudian ia mengajak umat untuk maju ke depan dan melihat jenazah. Satu per satu, umat yang hadir melihat ke dalam peti mati tersebut.
Masing-masing terkejut melihat wajahnya sendiri terpantul dari cermin di dasar peti mati itu.
Banyak yang terkejut dan marah. Namun, kemudian setiap umat mulai menyadari apa yang ingin disampaikan oleh imam itu — bahwa ketidakpedulian dan apatisme mereka sendiri lah yang menjadi penyebab kematian Gereja.
Syukurlah, sekarang ini semakin banyak umat awam yang mengambil peran aktif dalam Gereja, seperti nampak dalam organisasi-organisasi paroki seperti para petugas pastoral awam, dewan pastoral paroki, kaum bapa, atau gerakan pembaruan seperti Marriage Encounter, Couples for Christ, gerakan karismatik, kelompok-kelompok kategorial yang sangat beragam — hal ini tentu saja merupakan berkat dan dorongan yang luar biasa bagi Gereja.
Apalagi sekarang kita memahami Gereja sebagai Gereja Sinodal, Gereja yang berjalan bersama. Itu adalah cara hidup Gereja di mana seluruh umat — baik hierarki (Paus, Uskup, Imam) maupun kaum awam — saling mendengarkan, terlibat aktif, dan berpartisipasi dalam misi perutusan Gereja. Setiap orang yang dibaptis memiliki martabat yang sama dan bertanggung jawab atas misi perwartaan Injil, bukan hanya tugas para rohaniwan. Tidak ada sekat-sekat pemisah agar semua anggota umat merasa diterima dan menjadi bagian dari keluarga besar Gereja.
Injil hari ini bertutur tentang Yesus yang memilih para murid-Nya dan “sedikit pekerja di ladang-Nya” merupakan sebuah tantangan.
Mari kita renungkan: Apa yang kita lakukan untuk membantu di kebun anggur Tuhan di zaman modern ini? Berapa banyak di antara kita yang secara rutin berdoa kepada Tuhan, memohon agar Ia menyentuh hati para pemuda dan pemudi agar mempertimbangkan panggilan untuk menjadi imam, biarawan, atau biarawati?
Berapa banyak di antara kita yang benar-benar terlibat secara pribadi dengan menyumbangkan waktu, materi, dan talenta yang dimiliki untuk membangun Gereja di mana ana berada?
Saat ini, jumlah pekerja yang “menuai panen” lebih sedikit daripada sebelumnya. Apakah hal ini disebabkan karena keluarga kita tidak lagi menjadi tempat tumbuhnya panggilan hidup religius? Atau apakah karena kita tidak pernah membicarakan kehidupan religius kepada anak-anak kita sendiri sebagai salah satu pilihan hidup bagi mereka?
Saat nanti Anda berhadapan langsung dengan Tuhan, apakah Anda akan dengan jujur mengatakan bahwa Anda telah melakukan sesuatu untuk misi-Nya? Atau apakah Anda akan menundukkan kepala karena malu karena gagal melakukan sesuatu?
Di tengah berbagai kekhawatiran dan kesibukan duniawi kita saat ini, jangan lupa untuk turut serta dalam panen Tuhan.
Tuhan, pimpin kami, untuk berjalan bersama, mewartakan Injil dan membangun Kerajaan-Mu saat ini dan di sini. Amin.

