air hidup

Air Hidup

Minggu, 8 Maret 2026, Minggu Prapaskah III Tahun A
Bacaan: Kel. 17:3-7Mzm. 95:1-2,6-7,8-9Rm. 5:1-2,5-8Yoh. 4:5-42 (panjang) Yoh. 4:5-15,19b-26,39a,40-42 (singkat).

“Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal,” (Yoh 4: 14)

Manusia pada kodratnya merasa haus dan lapar. Tetapi dalam rasa haus atau laparnya itu, manusia seringkali hanya melihat hal-hal material untuk memuaskan rasa haus dan laparnya. Pencariannya hanya berakhir hingga ia menemukan Allah yang dapat sungguh-sungguh memuaskan rasa haus dan laparnya.

Bacaan pertama mengisahkan saat-saat bangsa Israel bersungut-sungut meminta air dalam perjalanan mereka keluar dari Mesir. Mereka mengeluh kepada Musa: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Kel 17: 3). Musa berada dalam dilema, tetapi atas perintah Allah, ia memukul gunung batu di Horeb dengan tongkatnya, dan bangsa Israel dapat minum dari air itu.

Dalam Injil, kita mendengar kisah perjumpaan dan pembicaraan Yesus dengan seorang wanita Samaria. Yesus tentu lelah dan haus setelah perjalanan panjang di bawah terik matahari. Maka ia minta air kepada seorang perempuan Samaria. Dialog antara Yesus dengan perempuan Samaria ini menarik untuk disimak.

Pertama, Yesus berkata kepada perempuan itu, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, (Yoh 4: 13). Perempuan itu berbicara tentang air dari sumur, sedangkan Yesus berbicara tentang air hidup. Sungguh, kita selalu berpikir tentang hal-hal material saja untuk memuaskan kehausan kita. Rasa puas yang diberikan hanyalah sementara, kita akan haus lagi. Jika kita hanya menggantungkan diri pada hal-hal material, hal duniawi, kita tidak akan pernah terpuaskan!

Kedua, Yesus bersabda: “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal,” (Yoh 4: 14). Yang diberikan oleh Yesus adalah Kasih Allah yang menyelamatkan, air hidup yang dicurahkan ke dalam hati kita yang memberikan kita hidup dan damai. Ia memberikan air hidup dan keselamatan. Inilah yang memuaskan rasa haus kita. Air hidup itu tidak lain adalah Yesus sendiri.

Ketiga, di bagian akhir bacaan Injil kita dikatakan bahwa para murid mencari makanan. Ketika mereka kembali, mereka menawarkan makanan kepada Yesus tetapi Yesus berkata: “PadaKu ada makanan yang tidak kamu kenal.” (Yoh 4: 32). Maka para murid berpikir bahwa ada orang yang sudah memberi Yesus makanan. Tetapi Ia berkata: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,” (Yoh 4: 34).

Makanan, seperti air, merupakan kebutuhan dasar kita. Tanpa makanan, kita mati. Tetapi ketika Yesus berkata bahwa makanan-Nya adalah melaksanakan kehendak Bapa, ia maksudkan bahwa Ia tidak dapat hidup tanpa ketaatan kepada kehendak Bapa. Sama seperti Yesus, ketaatan dan melaksanakan kehendak Allah haruslah menjadi makanan kita juga.

Semoga perjumpaan kita dengan Yesus, menghantar kita pada pengenalan yang sejati akan Dia, Sang Air Hidup, sumber keselamatan kita. Kita yang telah berjumpa dengan Dia, pada gilirannya diutus untuk membawa semakin banyak orang kepada Dia. Membawa sebanyak mungkin orang pada Air dan Roti Hidup, yang memuaskan lapar dan dahaga kita.

Tuhan, berikan aku air hidup, agar aku tidak haus lagi. Dan semoga kami sebagai komunitas Gereja yang sejati, dapat menjadi sumber air hidup yang segar bagi semua yang haus. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *