Minggu, 4 Januari 2026, Hari Raya Penampakan Tuhan
Bacaan: Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13; Ef. 3:2-3a, 5-6; Mat. 2:1-12.
“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia…. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. (Mat 2: 2. 11)
Hari ini kita rayakan Hari Raya Penampakan Tuhan, atau Epifani. Lebih populer lagi disebut sebagai Pesta Tiga Raja, dan secara khusus Hari Raya Epifani kita rayakan sebagai Hari Anak Misioner. Tahun ini mengambil tema: “One in Christ, United in Mission”, sebuah tema yang diadopsi dari perayaan 100 tahun Hari Minggu Misi Sedunia yang dicetuskan oleh Paus Leo XIV. Tema ini menegaskan bahwa sejak usia dini, anak-anak sudah dipanggil bukan hanya untuk mengenal Kristus, tetapi juga untuk ambil bagian dalam misi-Nya bagi dunia.
“One in Christ” menekankan dasar terdalam hidup Kristiani, yakni persatuan dengan Yesus sendiri. Dalam Kristus, setiap anak dan remaja diterima apa adanya, dibaptis dalam kasih-Nya, dan dijadikan bagian dari satu Tubuh yang hidup. Persatuan ini melampaui perbedaan usia, latar belakang, budaya, dan bangsa. Anak-anak diajak menyadari bahwa iman bukan pengalaman pribadi semata, melainkan persekutuan yang menyatukan mereka dengan seluruh Gereja semesta.
Sementara itu, “United in Mission” menegaskan bahwa persatuan dalam Kristus secara alami melahirkan perutusan. Anak-anak bukan penonton dalam kehidupan Gereja, melainkan rekan sekerja dalam misi pewartaan Injil. Dengan doa, sikap berbagi, kepedulian terhadap sesama, dan keberanian memberi kesaksian sederhana dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak mengambil bagian nyata dalam misi Gereja yang satu dan universal. Dalam semangat ini, misi tidak dipahami sebagai tugas yang berat, tetapi sebagai ungkapan kasih yang dibagikan bersama.
Melalui tema ini, Hari Anak Misioner Sedunia 2026 menjadi undangan bagi seluruh komunitas Gereja untuk mendampingi anak-anak bertumbuh sebagai murid-murid Kristus yang bersatu dan bermisi. Anak-anak diajak untuk menyadari bahwa meskipun langkah mereka kecil, mereka berjalan bersama Gereja dunia, membawa harapan dan terang Kristus ke mana pun mereka diutus.
* * *
Masa Natal masih berlangsung satu minggu lagi, karena masa natal berakhir pada Pesta Pembaptisan Tuhan. Walau demikian umumnya perayaan-perayaan Natal “berakhir” hari ini. Rutinitas kerja sudah kembali bergulir. Kandang-kandang Natal ada yang sudah mulai dibongkar, dan kado-kado Natal sudah dibuka semua.
Tetapi, apakah semangat Natal juga berakhir?
Ada yang mengatakan “Christmas is everyday!” Natal itu setiap hari. Wahhh… kalau begitu pesta natal juga setiap hari…
Tentu yang dimaksud adalah spiritnya, semangatnya! Semangat Natal, saat kita memperhatikan mereka yang kurang beruntung, yang hidupnya susah, semangat mengampuni, damai dan kasih! Memang di masa biasa kita tidak lagi menyanyi “Damai…. damai…. damailah senantiasa….” tetapi bukankah damai tidak berakhir dengan berakhirnya Masa Natal? Bukankah setiap saat kita harus mengusahakan kasih dan damai? Bukankah kita masuk Gereja bukan hanya saat Hari Raya Natal? Mungkin ada yang jawab: Betul Pastor…. nanti masuk gereja lagi di Hari Raya Paskah!. Tentu kita diharapkan menjadi umat yang aktif bukan cuma di hari-hari raya saja!
Hidup kita berlangsung setiap saat. Demikian juga kita menjadi orang Kristen setiap saat, bukan cuma di hari raya saja.
* * *
Salah satu pesan dari Pesta Tiga Raja adalah ketekunan. Kita melihat ketekunan para majus dari timur untuk mencari Kristus. Mereka tidak menyerah walau mereka tidak tahu jalannya.
Selain itu ada sikap teliti dan bijak. Dalam Injil Matius, kita mendengar bahwa datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur, dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2). Para Majus berusaha dan tidak ragu untuk menemukan Sang Mesias yang baru dilahirkan itu.
Para Majus melakukan perjalanan panjang. Mereka mencari tahu di mana Raja yang baru lahir dapat ditemukan. Dengan teliti dan bijak, mereka pun mulai bertanya-tanya di manakah Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Ketidaktahuannya tidak membuat mereka putus asa. Namun dengan penuh iman, mereka mencari. Mereka bertanya agar mereka bisa menemukan Mesias, Sang Juruselamat. Ketika mereka menemukan Mesias, ada sukacita lalu mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur.
Bukankah sikap itu juga harus kita hidupi setiap hari? Tidak hanya pada saat-saat tertentu saja? Atau justru kita tidak peduli seperti para imam dan ahli Taurat. Dari Kitab Suci mereka tahu di mana Sang Mesias lahir. Tetapi apakah mereka peduli? Atau justru curiga seperti Herodes?
* * *
Seperti para Majus yang tekun, kita juga perlu tetap bertekun untuk berubah, untuk bertobat. Kita perlu bertekun untuk mencabut kebiasaan-kebiasaan buruk dari akar-akarnya, perlu bertekun mencabut akar-akar cinta diri, kerakusan, ketidakpedulian akan sesama.
Ada cerita tentang seorang pastor yang hobinya bersungut-sungut, mengeluh, penuh kritik dan sulit untuk bersama dengan pastor yang lain. Suatu ketika ia mengikuti retret ke luar kota, dan rupanya dia merasa sangat berhasil.
Untuk menunjukkan bahwa ia sudah berubah, sesampainya di pastoran dia tulis di papan dan digantungkan di depan pintu kamarnya, bunyinya begini: “Di sini hidup seorang manusia baru, manusia lama telah mati dan dimakamkan.”
Semua orang senang dengan perubahan itu. Tetapi setelah beberapa minggu, kebiasaan lama timbul lagi.
Maka seorang temannya yang lain menulis di bawah tulisannya itu: “Tetapi pada hari ketiga ia bangkit lagi!”
Proses perubahan itu terus berlangsung. Meski kadang-kadang kita jatuh lagi, tidak perlu kita menjadi patah semangat. Pembaharuan perlu kesabaran dan ketekunan. Nabi Yesaya menyerukan kepada kita: “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (Yes 60:1). Bangsa Israel yang baru pulang dari pengasingan tetap dipanggil menjadi terang, padahal yang dijumpai adalah Yerusalem yang sudah menjadi reruntuhan.
Yesaya mendorong kita untuk bertemu dengan Yesus yang baru dilahirkan di Betlehem. Ada banyak tantangan untuk sampai kepada Bayi Yesus, namun kita tidak boleh berhenti, kita harus berusaha terus-menerus sampai pada akhirnya kita bisa bertemu dan bersujud menyembah seperti yang dilakukan oleh para Majus dari Timur. Itulah bentuk iman yang sejati, yang dijalankan dengan penuh semangat, penuh keyakinan dan memohon bimbingan Tuhan melalui bintang yang dilihatnya. Keterbukaan hati dan membiarkan dirinya dibimbing oleh kehendak Tuhan, sampai akhirnya tiba di hadapan Yesus, Sang Juru Selamat yang baru dilahirkan. Dari sinilah terjadi sebuah kehidupan baru setelah bertemu dengan Sang Mesias.
Mari kita membiarkan diri kita diterangi oleh cahaya Yesus yang datang dari Betlehem. Janganlah membiarkan diri kita dalam ketakutan dan menutup hati kita. Tetapi mari, kita memiliki keberanian untuk membuka diri terhadap cahaya yang menyejukkan dan bijaksana ini. Seperti para Majus, kita pun akan mengalami “sukacita yang besar” (bdk. Mat. 2:10) yang tidak dapat kita simpan sendiri.
* * *
Ada tradisi di beberapa tempat, pada hari raya Epifani memberkati rumah dengan kapur yang sudah diberkati. Di ambang pintu ditulis dengan kapur itu 20 + C + M + B + 26. Angka 20 di depan dan di belakang menunjukkan Tahun yang sedang dimasuki, C, M, B, adalah initial nama ketiga majus Caspar, Melkior dan Balthasar tetapi juga dapat berbunyi Christus Mansionem Benedicat, Kristus Memberkati Rumah Ini. Selain kita minta berkat untuk rumah kita, mari kita saling memberkati saat kita memasuki tahun yang baru ini.
Tuhan, semoga cahaya Kristus bersinar bagi semua bangsa, baik yang jauh maupun yang dekat, dan tuntunlah Gereja-Mu agar menyambut semua orang dengan keragaman budaya mereka. Amin.

